33 Purnama Mimpi Berjaya

Illustrasi/RMOLNetwork
Illustrasi/RMOLNetwork

SIANG ini saya memang sengaja meluangkan waktu membaca rilis berita statistik BPS selama Januari sampai Mei tahun ini. Empat bulan terakhir saya memang belum pernah sempat membaca dan membuatnya menjadi tulisan.

Harus saya akui bahwa sebagian besar bagian dalam benak saya sudah dikuasai perasaan pesimis, hanya tersisa sedikit saja rasa berharap bahwa indikator-indikator statistik Lampung yang akan saya temukan dalam beberapa rilis BPS akan membaik secara drastis.

Kekhawatiran saya terkonfirmasi, belum ada indikator statistik yang dapat membuat kita bergembira dan penanda perubahan yang diharapkan ternyata tak kunjung datang jua.

Agar tulisan ini tidak terlalu panjang dan membosankan saya tidak akan menyajikan secara teknis semua indikator dan analisa tafsiran dari seluruh rilis BPS. Saya hanya akan menunjukkan tiga indikator yang memang lazim diterima oleh komunitas akademik dan lembaga-lembaga negara sebagai alat bantu memahami kondisi dan kinerja pembangunan di daerah.

Pertumbuhan Ekonomi

Seandainya rilis BPS untuk Tri Wulan I tahun 2022 ini sama seperti Tri Wulan II tahun lalu, ada angka pertumbuhan Q to Q (antar Tri Wulan) Lampung yang baik, pasti orkestrasi publikasinya akan terus diulang-ulang oleh Gubernur Arinal, para pembantunya dan media-media yang dekat dengannya. Tidak peduli bahwa Q to Q itu menjadi besar karena berangkat dari posisi yang tertinggal sebelumnya.

Apa daya rilisnya tidak seperti itu, pertumbuhan ekonomi Lampung Januari - Maret tahun ini hanya 2,96%, jauh di bawah rata-rata nasional maupun regional, menempati posisi ke-9 dari sepuluh Provinsi di Sumatera.

Gubernur Arinal menerima amanat memimpin Lampung pada pertengahan tahun 2019, pada saat itu Gubernur Ridho meninggalkan Lampung dalam kondisi pencapaian pertumbuhan ekonomi di angka 5,62% peringkat ke-2 di Sumatera dan berada di atas rata-rata nasional maupun regional.

Tri Wulan III tahun 2019 adalah bagi raport pertamanya Gubernur Arinal, hasilnya masih lumayan. Masih mampu menjaga angka pertumbuhan di besaran 5,16% walaupun peringkat di Sumatera mulai turun ke posisi ke-3. Tri Wulan berikutnya masih tetap bertahan di atas 5% tetapi peringkatnya melorot ke urutan ke-5.

Raport Lampung pada Tri Wulan I tahun 2020 seperti raport anak sekolah yang sedang bermasalah, dari yang sebelumnya selalu menjadi runner up atau paling jauh ranking ke-3 tiba-tiba langsung jatuh ke urutan ke-8 dari sepuluh siswa di kelas. Angka pertumbuhan ekonomi anjlok menjadi hanya 1,73%.

Selama setahun sampai dengan Maret tahun 2021 pertumbuhan ekonomi Lampung terus menerus berada di zona negatif, angkanya selalu minus. Peringkatnya juga semakin menyedihkan, menjadi juru kunci di antara sepuluh Provinsi di Sumatera.

Tiga tri wulan berikutnya Lampung belum juga bisa kembali berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi Pulau Sumatera apalagi pertumbuhan ekonomi nasional dan di raport terakhir Lampung masih menjadi juara kedua dari bawah bahkan tertinggal oleh Bengkulu dan Provinsi yang baru lahir kemarin sore, Bangka-Belitung.

Melihat capaian angka pertumbuhan ekonomi Lampung yang selalu berada di bawah rata-rata nasional dan regional selama sembilan tri wulan (27 bulan) dan selalu berkutat di papan bawah peringkat di Sumatera, bagi saya jelas terlihat ketidakmampuan Gubernur Arinal membangkitkan perekonomian Lampung. Jangankan hendak memenuhi janji berjaya, sekadar tidak di bawah rata-rata pun tak mampu.

Kontribusi PDRB di Sumatera

Ketika melihat sajian data BPS tentang kontribusi PDRB provinsi-provinsi di Pulau Sumatera, saya merasa lebih prihatin lagi. 

Dengan jumlah penduduk terbanyak ke-2 di Sumatera, kinerja Produk Domestik Regional Brutto (PDRB) Lampung masih tertinggal dari Riau dan Sumatera Selatan yang berpenduduk lebih sedikit. Kondisi yang memang sudah berlangsung lama bahkan sejak Gubernur Ridho dan Gubernur Sjachroedin belum memimpin Lampung.

Walau demikian kontribusi PDRB Lampung terhadap Sumatera sepanjang sejarah sejak menjadi provinsi, tidak pernah kurang dari 10% bahkan pernah berada di kisaran 11%.

Data Tri Wulan I tahun 2022 ini menunjukkan bahwa untuk pertamakalinya kontribusi PDRB Lampung terhadap Sumatera tidak lagi mencapai angka 10%, Lampung hanya berkontribusi sebesar 9,64% saja. Semakin jauh tertinggal dari Sumatera Utara, Riau dan Sumatera Selatan dan semakin dekat dikejar oleh provinsi lainnya.

Angka pertumbuhan ekonomi Lampung yang terus menerus di bawah rata-rata Sumatera selama 27 bulan itulah yang menjadi jawaban atas pertanyaan mengapa kontribusi PDRB Lampung semakin mengecil di Sumatera. 

Bedasarkan data ini saya terpaksa mengatakan bahwa selama 33 bulan menjabat Gubernur Arinal sesungguhnya bukan membawa perekonomian Lampung bergerak lebih cepat dibandingkan provinsi lainnya di Sumatera, tetapi justru membawanya berjalan lebih lambat sehingga Lampung semakin jauh tertinggal dari provinsi yang selama ini berada di depan dan semakin dekat terkejar oleh provinsi yang selama ini berada di belakang.

NTP dan Kinerja Sektor Pertanian

Berbulan yang lalu saya pernah menyajikan data lengkap NTP beserta tautannya, silakan diakses kembali. Kali ini saya hanya akan merekapitulasinya saja.

Selama 28 bulan sejak Januari tahun 2020 sampai April tahun 2022, Nilai Tukar Petani (NTP) di Lampung masih juga berada di bawah rata-rata nasional dan regional. Masa-masa indah menjadi juara di Sumatera selama belasan tahun sebelumnya hanya tinggal menjadi kenangan saja.

Selama 28 bulan terakhir, posisi NTP Lampung di Sumatera hanya tiga kali berada di posisi ke-8, lima belas kali menempati posisi ke-9, dan sepuluh kali menjadi juru kunci. Lampung seperti sebuah klub sepakbola yang terkena hukuman, dari yang sebelumnya selalu merajai liga kemudian tersungkur terus menerus berada di zona degradasi.

Sebagai kapten sekaligus pelatih, Gubernur Arinal selama 28 bulan terakhir belum juga mampu mengembalikan posisi NTP Lampung seperti dulu lagi. Di dunia sepakbola situasi seperti ini biasanya direspon dengan melakukan bongkar pasang pemain secara besar-besaran atau langsung saja dilakukan pemecatan, sesekali ada juga pelatih yang memilih mengundurkan diri ketimbang diberhentikan oleh klub atas desakan supporter.

Itu di dunia sepakbola ketika pelatih, pemain, supporter dan klub sama-sama memiliki standar prestasi yang tinggi. Mereka yang berstandar rendah tentu tidak akan gelisah dan tetap merasa baik-baik saja walaupun terus menerus menghuni zona degradasi.

Kembali ke kinerja sektor pertanian di Lampung, saya juga mendapati data dari Kementerian Pertanian bahwa produksi kopi di Lampung tiga tahun terakhir cenderung stagnan di kisaran 156-157 ribu ton pertahun. Begitu juga dengan produksi lada masih stagnan di angka 14-15 ribu ton pertahun, terakhir bisa di angka 23 ribu ton pada tahun 2014. 

Kenaikan produksi padi/beras tahun 2020 jika dibandingkan dengan tahun 2019 yang terus menerus dibanggakan Gubernur Arinal ternyata juga sudah basi alias kedaluwarsa, karena produksi tahun 2021 kembali menurun dan tren penurunan ini cenderung berlanjut ke tahun 2022.

Bagi saya data-data itu terang benderang menunjukkan bahwa poin 1, 3, 5 dan khususnya poin 4 (revitalisasi lada) yang tertuang dalam 33 Janji Kerja Gubernur Arinal masih jauh panggang dari api. Pada sektor pertanian Gubernur Arinal belum mampu menunaikan janji-janjinya sendiri walaupun sudah hampir enam semester berkuasa.

Saya meyakini bahwa jebloknya kinerja sektor pertanian di Lampung menjadi penyumbang terbesar terhadap melambatnya laju pertumbuhan ekonomi dan mengecilnya kontribusi PDRB Lampung di Sumatera selama kepemimpinan Gubernur Arinal yang kebetulan seorang sarjana pertanian. Mengapa demikian? Karena sektor pertanian masih menjadi sektor terbesar yang menjadi pembentuk PDRB Lampung, hampir 30% besarannya.

Konusi

Dua minggu yang lalu Ketua KPK-RI datang ke Lampung dan kemudian menyatakan dengan lantang “Lampung Darurat Korupsi”, hari ini BPK-RI datang dan bilang “Lampung Gagal Menangani Kemiskinan”. Dalam waktu yang berdekatan dua kali Lampung dikunjungi kemudian diberi stempel memalukan oleh lembaga negara dari Jakarta.

Tanpa malu Gubernur Arinal justru melemparkan tanggung jawab kondisi buruk itu kepada para bupati dan masih terus mengklaim pepesan kosong bahwa Lampung adalah Provinsi dengan pertumbuhan ekonomi terbaik di Sumatera.

Ada pertanyaan menarik dari seorang jurnalis senior pada salah satu WAG, mengapa Lampung kondisinya menjadi seperti ini? 

Saya katakan bahwa ini terjadi karena dua hal:

1) Kegagalan APBD Provinsi/Kabupaten/Kota menjalankan fungsi utamanya sebagai stimulus penggerak perekonomian sekaligus instrumen redistribusi pendapatan masyarakat

2) Ketidakmampuan kepemimpinan Gubernur Arinal menghimpun dan menggerakkan potensi orang-orang yang bekerja membantu dirinya.

Kondisi darurat korupsi dan kegagalan penanggulangan kemiskinan sesungguhnya sangat erat bertautan seperti dua sisi mata uang.

Bagi saya kondisi itu adalah penanda bahwa di Lampung sejatinya sedang terjadi praktek konsolidasi profit dan konsentrasi rente, bentuknya menyerupai kartel. Hanya segelintir orang saja yang memiliki akses dan dapat menikmati hasil dari kegiatan pembangunan, selebihnya common people yang hanya menjadi pembayar pajak dan retribusi yang patuh.

Hampir semua politisi dan pelaku usaha di Lampung mengetahui praktek ini karena memang sudah menjadi pengetahuan umum yang dibincangkan secara luas walaupun sambil berbisik-bisik. Ada segelintir saja yang memiliki kuasa mengatur segalanya, mulai dari proyek konstruksi, perizinan konsesi tambang sampai ke berbagai urusan lainnya. Konon segelintir oligarki ini juga dikenal memiliki hubungan yang sangat dekat dengan pemangku kekuasaan pemerintah daerah.

Publik tidak perlu khawatir walaupun sepertinya segelintir orang itu seakan tidak tersentuh oleh prinsip kerja pemberantasan korupsi, masih ada kuasa Tuhan yang lebih besar. Sesuatu yang sudah terlalu dan melampaui batas biasanya tidak lama lagi akan berakhir, karena malam yang paling gelap itu justru ketika beberapa saat lagi matahari akan terbit.

Wallahualam bishowab. 

Penulis adalah Pengurus Pusat JMSI