Obituari Perginya Sang Dialog Imajiner


SELASA pagi (19/1), saya menerima pesan lewat telepon genggam yang memberi kabar berita duka tentang kepergian seorang sahabat, Syafarudin Rahman, S.Sos, MA, dosen FISIP Universitas Lampung (Unila).

Kabar duka tersebut sangat mengejutkan, saya nyaris tak percaya. Sabtu malam (16/1), pukul 19.18 WIB, Syafarudin yang saya sapa “Pak Dosen” masih sempat mengirimkan pesan.

“Asslm wr wb," tulisnya disertai dua foto banner dan sampul buku berjudul “Covid 19 & Disrupsi - Tatanan Sosial Budaya, Ekonomi, Politik dan Multi.”

Almarhum Syafarudin/Ist

Kemudian “Udin,” demikian saya menyapanya saat masih menjadi mahasiswa, mengirim buku tersebut versi digital.

Saya balas menyapa, “Apa kabar Pak Dosen?” “Alhamdulillah ...” jawabnya singkat yang terkirim pukul 19.23 WIB.

Ternyata, dialog kami menjadi komunikasi terakhir dengan Pak Dosen yang saya sudah kenal saat mahasiswa FISIP Unila pada awal tahun 1990-an.

Komunikasi pada tanggal dan hari yang sama 16 Januari 2021 juga dilakukan Pak Dosen dengan Herman Batin Mangku, pemimpin redaksi www.rmollampung.id.

Kami bertiga sama-sama pernah menjadi aktivis pers mahasiswa bergabung di SKM Teknokra Unila walau berbeda angkatan namun silaturahmi tidak terputus.

Berangkat dari lingkungan kampus, khususnya di SKM Teknokra, saya mengenal berbagai kebiasaan beberapa orang aktivisnya.

Ada yang bergabung hanya sekedar numpang lewat mengisi waktu dengan kegiatan mahasiswa. Ada juga yang serius lalu berkarir di dunia jurnalistik.

Pada tahun 1980 dan 1990 sampai awal reformasi di Unila, tidak memiliki jurusan atau program studi komunikasi yang melahirkan wartawan/jurnalis.

Mereka yang berkarir di jurnalistik setelah lulus dari kampus adalah produk “Fakultas Teknokra.

Mereka yang menjadi jurnalis ada meraih prestasi bergengsi penghargaan Adinegoro (penghargaan tertinggi pada dunia jurnalistik/ pers di Indonesia).

Penghargaan ini sama seperti penghargaan Putlizer untuk wartawan di Amerika Serikat.

Juga, ada yang menjadi PNS dan berkarir di dunia swasta. Tidak sedikit yang back to campus berkarir sebagai staf pengajar berbagai fakultas dan meraih gelar akademis sampai guru besar (profesor).

Salah satu dari mereka yang kembali ke kampus adalah Pak Dosen Syafarudin.

Sejak dari mahasiswa dan setelah menjadi dosen FISIP Unila, Pak Dosen saya kenal sebagai orang yang kaya ide atau gagasan dan kreatif khususnya di dunia tulis menulis.

Setelah hijrah dari Jakarta, saya kembali menjadi jurnalis di Lampung, jelang tumbangnya Rezim Orde Baru.

Saat itu, saya melihat kiprah Pak Dosen yang aktif dalam berbagai forum diskusi dan aktif menulis di media massa salah satunya di Surat Kabar Harian Lampung Post.

Satu gagasan kreatifnya pada awal reformasi yang menurut saya sangat cerdas adalah menerbitkan buku tentang gerakan reformasi yang terjadi di Provinsi Lampung.

Jenazah saat hendak disalatkan ke masjid dekat rumahnya/RMOLLampung

Pak Dosen menjadi penulis dan editor dari buku yang judulnya lumayan panjang, yaitu “Menembus Arus Gerakan Mahasiswa dan Perspektif Reformasi dari Lampung.”

Bagi saya, gagasan dan buku ini adalah terobosan seorang anak muda yang brilian.

Bunga rampai dari beberapa penulis dengan latar belakang akademisi, mahasiswa dan jurnalis/ wartawan.

Buku ini dapat dikatakan buku pertama di Lampung yang menulis gerakan reformasi dengan aneka pemikiran dan gagasan.

Saya tak ikut menulis dalam buku “Menembus Arus” tersebut karena waktu bersamaan tengah mempersiapkan naskah tulisan untuk buku berjudul “Lima Tahun Komnas HAMCatatan Wartawan” yang ditulis bersama wartawan media nasional.

Buku “Menembus Arus” terbit di tengah dunia perbukuan belum seperti sekarang dimana setiap orang, siapa saja bisa menerbitkan buku karyanya sendiri, terbitkan sendiri, jual sendiri dan baca sendiri.

Pada awal reformasi tentu menerbitkan buku tak semudah seperti era milenial saat ini. Inilah sebuah gagasan/ ide kreatif yang genuine  dari Pak Dosen.

Kemudian saat pandemi Covid-19 melanda bumi, Pak Dosen kembali menyampaikan ide dan gagasannya bersama koleganya di Unila untuk menulis dan menerbitkan buku berjudul “Covid 19 & Disrupsi - Tatanan Sosial Budaya, Ekonomi, Politik dan Multi.”

Untuk buku ini, Pak Dosen kembali berkirim pesan, mengundang saya ikut menulis dalam buku tersebut.

Namun permintaan tersebut belum bisa saya penuhi, karena kesibukan sebagai jurnalis dan saya tidak memiliki ide/ gagasan tentang apa yang mau saya tulis.

Melalui pesan WA beberapa kali Pak Dosen berkirim pesan menjelang dead line penulisan berakhir. Tetap saja belum bisa memenuhi undangannya mengirim sebuah tulisan.

Gagasan menulis dan menerbitkan buku “Covid 19 & Disrupsi - Tatanan Sosial Budaya, Ekonomi, Politik dan Multi” tetap sebuah gagasan yang cerdas dan kreatif.

Saya akhirnya hanya bisa menulis beritanya, https://ekbisnews.com/ayo-menulis-buku-covid19-disrupsi-saat-wfh/

Pak Dosen juga seorang penulisan selain kaya gagasan juga produktif. Salah satu gaya penulisannya ada bergaya “dialog imajiner” yang dimuat di media online, www.duajurai.co dan www.rmollampung.id.

Menulis dengan format “dialog imajiner” bukanlah sebuah penulisan fiksi, namun narasi yang penuh wacana dan pemikiran dari para tokohnya. Pak Dosen menulis dialog imajiner dengan dua Bapak Bangsa – Soekarno dan Hatta.

Menulis “dialog imajiner” bukanlah suatu yang mudah, karena penulisannya harus rajin membaca banyak buku atau referensi yang menulis gagasan tentang dua Proklamator Indonesia tersebut.

Namun Pak Dosen mampu menuangkan gagasan Soekarno – Hatta dengan gaya penulisan yang menarik dan mengalir. Tulisan dialog imajiner dari Pak Dosen bagi saya termasuk dalam area jurnalistik.

Dulu, pada masa Orde Baru, Christian Wibisono yang pernah menjadi jurnalis menulis wawancara imajiner yang dimuat di Tabloid Detik yang sudah tidak terbit.

Christian Wibisono yang menjabat Direktur Pusat Data dan Bisnis menulis wawancara imajiner dengan Bung Karno.

Kemudian karyanya terbit dalam format buku dengan judul “Wawancara Imajiner dengan Bung Karno.”

Jika Christian Wibisono melakukan wawancara imajiner dengan Bung Karno maka Pak Dosen Syarifudin melakukan dialog imajiner dengan Bung Karno – Bung Hatta.

"Selamat jalan Pak Dosen"/RMOLLampung

Wawancara atau dialog imajiner dengan tokoh yang sudah meninggal dunia ditulis karena penulis (pewawancara) mengenal subjek yang dibicarakan.

Para penulis tahu betul siapa Bung Karno dan Bung Hatta serta apa gagasan dan filsafatnya.

Saya pun jika diminta menulis dengan gaya wawancara atau dialog imajiner, akan angkat tangan dan sanggup menuliskannya.

Selamat jalan Pak Dosen. Sang dialog imajiner itu telah pergi selamanya ke haribaan Ilahi. 

 *Wartawan Utama/ Mantan Pemimpin Redaksi SKM Teknokra