Ahli Jalan Raya: Jalan Urip Cuma Perlu Pelebaran Diameter Bundaran

Rencana Wali Kota Bandarlampung Herman HN mengatasi kemacetan dengan membangun flyover dan underpass di Jalan Urip Sumoharjo, terus menuai polemik.


Tak sedikit berbagai kalangan menilai, jika dua infrastruktur itu dibangun di titik yang sama, bakal sia-sia belaka dan sekadar menghamburkan anggaran saja.

Sebabnya, untuk mengatasi kemacetan di titik itu, hanya perlu pelebaran diameter bundaran jalan.

"Permasalahan kemacetan ini bisa diselesaikan dengan pelebaran diameter bundaran antara 25-30 meter dan sedikit mengatur pengguna jalan dari Jalan Pajajaran tidak boleh belok kanan," kata Sasana Putra, Dosen Fakutas Teknik Universitas Lampung, kepada Kantor Berita RMOLLampung, Sabtu (1/2).

Menurutnya, bundaran yang saat ini terlalu kecil dan terlalu curam. Sehingga, dan pengguna jalan saling 'mengunci'. Serta Jalan Ki Maja terlalu rendah, sehingga pengguna jalan dari Ki Maja ke jalan Pajajaran maupun jalan Urip harus naik terlalu curam.

Kepala Laboratorium Jalan Raya ini menambahkan, kemacetan itu terjadi akibat arus kereta api babaranjang, sehingga perlu adanya adanya pemepetan jadwal.

"Jadwal kereta babaranjang bisa dipepetkan, jangan lewat jam 07.00-09.00 WIB saat orang berangkat kerja dan jam 15.30-17.30 WIB saat pulang kerja. Sehingga perlu adanya kontong-kantong parkir kereta," tuturnya.

Namun begitu, Sasana Putra menilai, jika tetap harus dibangun bisa memilih satu diantaranya. Bisa flyover atau underpass.

"Jika keduanya (underpass dan flyover) dibangun, maka akan menimbulkan kekacauan. Jika tetap mau dibangun pilih salah satu underpass atau flyover dengan mempertimbangkan waktu pelaksanaan dan metode pelaksanaan pembangunan," pungkasnya.