Ajakan Nobar Film Bergengsi Yosep Anggi Noen




Satu lagi, gelaran tematik menyapa warga bumi surga literasi, bumi subsistensi 32 etnik Nusantara hidup rukun bermukim, Bumi Ruwa Jurai Lampung.

Tak terkecuali, mereka yang terus berjibaku dalam media audio-visual: komunitas teater, film-maker, komunitas film indie, jurnalis video, pehobi nonton film/kine club, kreator konten, hingga pengarsip film dokumenter.

Momen ini layak agenda.

Sinergi organiser lokal, komunitas pehobi film Klub Nonton, bareng rumah produksi Limaenam Films dan Kawankawan Media, membiduk even nonton bareng dua film sekaligus yang menaut nama penulis dan sutradara milenial asal Sleman Yogyakarta, menjadi tajuk, 'Focus On Yosep Anggi Noen Menuju The Science of Fictions Mendarat di Bioskop Indonesia'.

Poster digital berwajah foto tampan sineas Yosep Anggi Noen, sarjana komunikasi UGM ini, mengumumkan acara digelar di Ruang Pemutaran Dewan Kesenian Lampung (DKL), PKOR Wayhalim, Kota Bandarlampung, Minggu (1/3/2020), mulai pukul 13.00 WIB.



Memancing adrenalin, film pendek 'The Waiting' (2005) jadi debut perdana filmografi kelahiran 15 Maret 1983 itu bercengkerama dengan sandi khas sutradara "roll, action!" saat ia masih terbilang "unyu", 22 tahun.

Mengimbuh dua karya film pendek 'Mabur'
(About Flying) di 2006, dan 'Hujan Tak Jadi Datang' (It's Not Raining Outside) di 2009, judul terakhir membelalakkan mata publik usai film fiksi 16 menit besutan Limaenam Films itu tayang di tujuh festival film --satu darinya 'menyeret' masuk nominasi terbaik.

Di 2009, Film Festival Purbalingga, nominasi film terbaik Festival Film Pendek Konfiden, dan Festival Film Internasional Cinemanila. Lanjut Festival Film Rotterdam, Festival Film Bangkok, Festival Film Singapura, dan Asian Hot Shots Berlin di 2010.

'Hujan Tak Jadi Datang' berkisah rigiditas relasi interpersonal Ning (diperankan Andrea Andjaringtyas Adhi) dan Mur (Jamaludin Latief) yang tak nampak layaknya dua kekasih bergelora cinta meledak-ledak.

Relasi kedua tokoh dingin, tak bahagia.

Sejak itu, seperti inginnya mencoba berkarya 'seliar-liarnya', Yosep menghujam sinema. Jadilah 'Working Girls' karya film panjang pertamanya dan bergenre dokumenter, 2011. Disusul film fenomenal pertamanya, 'Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya (Peculiar Vacancies and Other Illnesses)' pada 2012.

Per sinopsis, film drama 90 menit ini diaktori Christy Mahanani sebagai Ning, yang beroleh kesempatan menjauh sejenak dari Jarot suami cueknya, mencoba pekerjaan baru di toko furnitur, sekadar obat kemuakannya melawan jebakan rutinitas harian. Kesepian Ning terbayar tunai, bertemu petualangan baru bersama Mur yang jua rekan suaminya.

Akting Christy, Muhammad Abe Baasyin (aktor Perempuan Tanah Jahanam, 2019) dan Joned Suryatmoko sukses mengaduk emosi penonton film yang diputar juga di Festival Film Locarno Swiss --even tahunan akreditasi International Federation of Film Producers Association tiap Agustus sejak 1946 di zona bioskop terbuka Piazza Grande kapasitas 8 ribu penonton terbesar di dunia.

Lanjut ke 2013, kala film itu diganjar Special Mention Award di Festival Film Vancouver, Kanada, Yosep bikin lagi film pendek. Jadilah film 15 menit 'Nona Kedi Yang Tak Pernah Melihat Keajaiban' (A Lady Caddy Who Never Saw A Hole in One), juga dibintangi kembali Joned Suryatmoko dan Christy Mahanani.

"Seorang pria berdiri di pematang sawah. Seorang perempuan dengan kostum pemain golf berdiri di sampingnya. Sambil berpura-pura bermain golf, pria tersebut mulai mempertanyakan kehidupan perempuan itu. Sang pria curiga saat dia melihat sang perempuan berjalan bersama orang-orang kaya," sinopsisnya, ditulis filmindonesia.or.id.

Ketertarikan sineas dunia atas pukau karya Yosep, berulang. Terbukti saat Festival Film Busan, Korea (2013) memberi kehormatan penayangan perdana, even darimana film ini berhasil membawa pulang Sonje Award atas raihannya sebagai Film Pendek Terbaik.

Bukan itu saja, festival film pendek paling bergengsi, notabene jadi prakualifikasi Piala Oscar, ShortShot Film Festival (SSFF) Asia 2014, Tokyo, bahkan mengganjar Lady Caddy, dua penghargaan!

Seperti dikutip dari DetikHot (13/6/2014), penghargaan tertinggi Grand Prix sebagai film pendek terbaik, selain penghargaan Film Pendek Internasional Asia Terbaik.

Membukukan penghargaan keempat, Lady menggetarkan panggung inaugurasi Festival Film Solo 2014 atas sabetan Film Pendek Terbaik dan berhak atas Ladrang Award.

Masih tahun yang sama, film panjang 'Genre Sub Genre' juga ia produksi di 2014. Lanjut dua film pendek 2015, 'Kisah Cinta yang Asu' (Love Story Not), dan film 20 menit (mengisahkan perjuangan Ayumi, seorang pekerja call center kota kecil Nanjo, pinggir pantai Pulau Okinawa, Jepang, menghadapi dua opsi: bertahan usai tempatnya 10 tahun bekerja bangkrut saat internet merambah kota-negaranya atau harus pulang kampung), tayang di Festival Film Okinawa, 'Rumah'.

Istimewa, penyutradaraan 'Rumah' --diaktori Erika yang berperan sebagai Ayumi-- ternyata atas permintaan resmi pemerintah Okinawa Prefecture, lho. Yosep diberi kuasa memotret sisi Okinawa dari sudut pandangnya bareng 18 sutradara ASEAN terpilih lainnya.

Tak kalah istimewa, produksi berikutnya, film 'Istirahatlah kata-kata' (Solo, Solitude), 2016. Film bertaji satu ini sukses membanjiri warta serta banjir kata-kata, pujian sineas dunia.

2018, giliran Festival Film Toronto menjadi panggung tayang perdana film panjangnya, 'Ballad of Blood and Two White Buckets'. Dan pada 2019 lalu, Special Mention Award dari Festival Film Locarno kembali didulang film terakhir Yosep, 'The Science of Fictions', usai perdana tayang. Tayang perdana pula untuk program'A Window on Asian Cinema dalam Festival Film Internasional Busan (BIFF), Korea, 3-12 Oktober 2019.

Kembali ke nobar Minggu, untuk bisa nonton dua dari 12 film karyanya yang akan diputar, 'Hujan Tak Jadi Datang' dan 'A Lady Caddy Who Never Saw A Hole in One', bagi yang berminat cukup merogoh kocek Rp20 ribu.

Dikonfirmasi, Tiara Zulfa El Wani dari Klub Nonton, Bandarlampung, narahubung nobar yang aktif mempublikasi lewat media sosial @klub.nonton tersebut, menginfokan hingga Kamis (27/2/2020) tiket masih tersedia.

"Pagi Kak. Masih ada Kak," sahutnya via pesan singkat, Kamis pagi, mengimbukan Jumat (28/2/2020), kehadiran Yosep 'diwakili' oleh dua filmnya yang diputar nanti. (Muzzamil)