Akademisi Minta Timsel Beberkan Alasan Tak Loloskan Calon Anggota Bawaslu Perempuan

Ilustrasi Rmol Network
Ilustrasi Rmol Network

Akademisi meminta Tim Seleksi membeberkan mengenai alasan mereka tidak meloloskan satu pun dari enam Calon Anggota Bawaslu Lampung Periode 2022-2027.


Pasalnya, dari enam calon yang akan mengikuti uji kepatutan dan kelayakan di Bawaslu RI itu seluruhnya laki-laki. Tidak ada satupun perempuan.

Padahal, tiga Anggota Bawaslu Lampung yang habis masa jabatan pada september 2022 dan sedang dicari penggantinya adalah Iskardo P. Panggar, Ade Asya'ri dan satu-satunya perempuan yang kini menjabat Ketua, yakni Fatikhatul Khoiriyah.

Sementara, empat anggota lainnya yakni Hermansyah, Muhammad Teguh, Tamri, dan Karno Ahmad Satarya akan habis masa jabatannya pada tahun 2023.

Menurut Sekretaris Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Unila Darmawan Purba, sangat disayangkan lima 5 anggota Timsel yang diisi oleh 3 orang laki-laki dan 2 perempuan tidak sensitif terhadap upaya pengarusutamaan gender.

Menurutnya, aturan soal keterwakilan 30 persen perempuan dalam komposisi anggota Bawaslu ini jelas diatur dalam Pasal 10 ayat (7) dan Pasal 92 ayat (11) UU Pemilu tahun 2017.

"Jadi kalau proses rekrutmen anggota Bawaslu tidak mengindahkan ketentuan pada UU Pemilu, menurut saya hasilnya patut dipertanyakan apa yang menjadi argumentasi timsel tidak memasukkan calon perempuan," kata dia, Rabu (3/8).

Darmawan melanjutkan, dirinya menduga terjadi tarik-menarik kepentingan saat menentukan Calon Anggota Bawaslu sehingga prinsip keterwakilan perempuan diabaikan oleh Timsel.

Wakil Dekan FISIP Unila Dedy Hermawan menambahkan,sangat disayangkan, para pembuat keputusan tidak memiliki kesadaran, kepekaan dan kepatuhan terhadap mandat UU pemilu.

"Keberpihakan terhadap kiprah politik perempuan dan esensi etika demokrasi yang menempatkan perempuan sebagai bagian penting dalam kualitas demokrasi," kata dia.

Sehingga, Dosen Ilmu Administrasi Negara ini menilai, hasil seleksi Timsel merupakan keputusan yang mundur dan kontras di tengah semakin meningkatnya kiprah perempuan diberbagai sektor baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

Sementara itu, menurut akademisi Universitas Malahayati Chandra Muliawan, Timsel harus bisa memaparkan kepada publik, alasannya mengabaikan keterwakilan perempuan dan meloloskan enam calon tersebut.

"Harus dibuka kenapa nama-nama ini yang terpilih, harus diungkapkan jika ini berhubungan dengan kapasitas, kapabilitas dan hasil seleksi agar tidak menimbulkan persepsi publik," kata mantan Direktur LBH Bandar Lampung ini.

Chandra menegaskan, Timsel harus bertanggung jawab menyampaikan alasan dari hasil seleksinya. 

"Apakah peserta yang perempuan tidak ada yang memenuhi kualifikasi secara nilai, kapasitas dan akumulasi penilaian. Sampai hasilnya yang kita lihat sekarang ini," pungkasnya.