Aktivis Bunda Merry Ditahan Kejari Lampung Utara

Bunda Merry (baju merah)/ Ist
Bunda Merry (baju merah)/ Ist

Aktivis Islam, Merry (49), yang kerap dipanggil Bunda Merry, menjalani tahanan pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Lampung Utara, tepat di hari ulang tahunnya, Selasa (9/8). 


Penahanan dilakukan atas sangkaaan Pasal 76 H Jo Pasal 87 Undang-undang (UU) Nomor 35 Tahun 2014), tentang eksploitasi anak.

Sangkaan pasal adalah merekrut anak di bawah umur untuk kegiatan aksi dan atau lainnya dengan tujuan memperalat dengan tanpa perlindungan jiwa.

Penasehat Hukum (PH) Bunda Merey, Gunawan Pharrikesit, S.H, mengatakan bahwa ini sudah menjadi qodarullah dan menjadi bagian dari perjuangan menegakkan kebenaran.

"Meski pasal ini sangat sulit dicerna dalam konstruksi hukum untuk dikenakan sangkaan kepada klien kami (Bunda Merry), namun kami akan tetap kooperatif dan mengikuti prosesnya," jelas Gunawan 

Sebagai warga negara yang baik dan taat hukum, lanjut Gunawan didampingi PH lainnya, Fachrurozi, M.H, akan mengambil langkah konstitusional dan sesuai prosedur.

"Sampai saat inipun Bunda Merey begitu tegar dan mengambil hikmah dari semua kejadian ini, meski memang sangat disayangkan terjadinya penahanan yang terjadi," ujarnya.

Gunawan juga mengatakan bahwa selama ini kliennya mendapat penangguhan penahanan dari pihak Polres Lampung Utara, sehingga sangat disayangkan terjadinya penahanan oleh pihak kejaksaan.

"Ini adalah hak dari pihak kejaksaan, namun kami berharap akan diberikan penangguhan penahanan. Klien kami sedang mengurus ibunya yang sedang sakit keras dan harus menjaganya tiap malam. Selain itu Bunda Merry juga memiliki anak kecil dan memerlukan sosok ibunya," jata Gunawan. 

Menurut Gunawan, saat pelimpahan berkas (P-21), jaksa penuntut umum (JPU) menegaskan bahwa sangkaan Bunda Merry dikarenakan telah merekrut anak-anak di bawah umur) untuk ikut aksi.

"Saya tanyakan kepada JPU apakah lengkapnya berkas pemeriksaan ini merupakan berkas dengan delik perekrutan anak di bawah umur dan bukan karena Bunda Merry sebagai koordinator lapangan (Korlap) saat aksi. Maka dengan tegas JPU mengatakan bukan karena sebagai Korlap, namun sebagai perekrut anak-anak di bawah umur dalam aksi," kata Gunawan. 

Ini menjadi aneh, papar Gunawan, karena terbukti dalam pemeriksaan bahwa Bunda Merry tidak mengetahui ada anak-anak pada aksi Bela Islam, tentang ucapan Menteri Agama, Yaqud, yang menyamakan suara gongongan anjing dengan suara azan.

"Insha Allah pengadilan akan fair dan menjadi tonggak keadilan dalam proses persdiangan nanti. Membuat keputusan yang benar sesuai yang hak adalah hak dan yang bathil adalah bathil," tambah Gunawan.