Almuhery: Ikan Mati Tiap Tahun, Perlu Alih Usaha Dari Waduk Way Rarem




Para nelayan keramba rugi setiap tahun akibat matinya ikan di Waduk Way Rarem. TKPSDA Provinsi Lampung rencana melakukan pendampingan alih usaha warga dari waduk yang ada di Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara itu.

"Waduk tersebut memang bukan tempat ideal budi daya keramba jaring apung," ujar Ketua Tim Zero Keramba Jaring Apung Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (Tim Zero KJA TKPSDA) Ir. Almuhery Ali Paksi Lampung kepada Kantor Berita RMOLLampung, Sabtu (4/1).

Pihaknya bersama pemangku kepentingan lainnya, kata senior aktivis lingkungan hidup Lampung itu, akan berusaha melakukan pendampingan untuk alih usaha pemilik atau pengelola dari budi daya ikan keramba jaring apung di waduk tersebut.

Setiap tahun, para petambak keramba jaring apung rugi miliran rupiah akibat mati mendadaknya ribuan ikan-ikan mereka: awal tahun 2016 (Januari), pertengahan tahun 2017 (Juli), dan awal tahun 2018 (November).

[caption id="attachment_25064" align="alignnone" width="650"] Almuhery Ali Paksi/Ist[/caption]

Rencana tersebut, kata Almuhery akan dimatangkan tim kerjanya bersama Pemkab Lampung Utara pada tahun ini juga. Dia juga berharap dukungan dari Pemprov Lampung membantu warga alih usahanya.

Dia berharap masyarakat bersama-sama untuk alih usaha dari keramba jaring apung agar juga dapat memaksimalkan fungsi Waduk Way Rarem sebagai waduk untuk irigasi teknis sawah-sawah petani.

Akibatnya matinya ratusan ribu ikan keramba jaring apung pintu-pintu air tersumbat bangkai ikan yang mulai membusuk di waduk tersebut.

"Sebagai ketua tim, saya berharap kerjasamanya untuk mendukung rencana Pemerintah Pusat agar Waduk Way Rarem sesuai dengan fungsinya sebagai waduk sumber air untuk irigasi teknis lahan pertanian," ujar Almuhery Ali Paksi.

[caption id="attachment_29874" align="alignnone" width="800"] Puluhan ribu ikan mati di keramba Way Rarem/Foto RMOLLampung[/caption]

Ratusan ribu ikan dari sekitar 700 keramba milik warga mati' di Waduk Way Rarem, Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara sejak Rabu lalu (1/1).

Hingga Sabtu pagi (41/), bangkai ribuan ikan nila, emas, dan lainnya itu masih memenuhi pintu-pintu keluar air waduk tersebut.

Almuhery Ali Paksi memperkirakan matinya ikan-ikan tersebut akibat naiknya planton dari dasar waduk setiap waktu musim hujan.

"Istilah masyarakat setempat, musim pancaroba akibat perubahan cuaca," ujarnya kepada Kantor Berita RMOLLampung, Sabtu (4/1).