Catatan Analisa Politik Bunda Eva Dalam Pusaran 'Politik Gula"


OLEH GUNAWAN PARIKESIT

ANALISA pertarungan Pilkada Serentak 2020 menaikan "suhu" politik. Bahkan, ada yang sampai melubangi atmosfir politik hingga panasnya menyengat ubun.

Tak terlepas dari hadirmya sebuah tulisan yang mengangkat judul "Politik Gula" Makin Memperkuat Bunda Eva karya Herman Batin Mangku.

Tulisan tersebut sedikitmya ada 18 (delapanbelas) indikator penggiringan pembenaran terhadap pernyataan lugas seperti yang ada dalam judul tulisan.

Sambil tersenyum, saya membaca tulisan, dan setiap tapak yang sudah terbaca sangat kental aroma data, yang bagi semua orang mungkin sudah mengabaikannya.

Hebatnya, tidak demikian dengan tulisan tersebut, data jadi racikan tersendiri untuk menyajikan analisa keberpihakannya seakan berada pada sudut netral.

Keahlian penulis menutupinya terbingkai dari gestur termiliki selama ini. Suatu kemampuan yang dimiliki oleh orang yang bisa disebut lihai.

Sang guru mencoba "mengombakkan" selaput berpikir pembaca, seolah dialah yang paling benar.

Menurut saya, sampai fase ini masih dalam batas toleransi sebagai anak didiknya untuk memahami kenakalan "permainan" sang gutu.l, sebutan saya.

Artinya: saya masih bisa tersenyum dengan "kenakalan sang guru", yaitu fase yang diawali dengan kalimat; "PT SGC telah menjadi bola panas jagad politik Kota Bandarlampumg".

Kalimat dalam dua tanda petik ini dijadikan salam pembuka yang sempurna untuk tidak memanjakan mata dan mengarah ke kalimat hingga tuntas di bawahnya.

Ditambah lagi, ada singgungan bahwa di Bandarlampung sudah beredar spanduk anti money politic dan politik gula, yang sudah beredar sejak akhir tahun lalu.

Kemudian pembaca mulai diajak gelisah dengan menghadirkan tanya dalam hati: "Jum'at (7/2), dua tokoh politik, Alzier versus Mahe..... (bla la la...)".

Kapan dan dimana keduanya terlibat perdebatan. Perdebatan secara langsung atau dalam acara formilkah?

Dan pertanyaan selanjutnya yang justru muncul setelah pertanyaan terjawab.

Dari fase ini, sang guru sudah mulai memberi sinyal akan kemana arah analisa, yang di bingkai melalui tulisan (framing kah? Entahlah.).

Sudah ada nama disebut, dan sebelumnya publik tersuguhkan keberpihakan sang tokoh yang akan all out untuk salah satu bakal calon (saat ini) yang bergelar Bunda Eva.

Mulai dari fase ini, saya sudah mulai sedikit tidak terima dengan kenetralan sang guru.

Permainan "kasarnya" sudah mulai terasa. Bukan lagi jari bermain memetik huruf, namun sudah menggerakkan telapak untuk menggenggam lawan.

Apa buktinya, sang guru sudah mulai memainkan emosi pembaca dengan "merekrut" kegelisahan warga dengan tulusan: "SGC milik Gunawan Yusuf dan Purwanti Lee sudah dua kali menghantar terpilihnya Gubernur Lampung, M.Ridho Ficardo dan Arinal Junaidi".

Di sini letak "kecurangan" sang guru--saya memanggilnya--yang tidak mungkin bisa dibungkus dengan rapih, namun ini harus dihadirkan sebagai bahan analisa yang dibingkai melalui tulisannya.

Lebih liar lagi fase berikutnya. Sebuah tulisan yang "mengejek" lawan (mulai saya sebut disini: PT SGC), sekaligus "merengek" untuk berjalan bersamanya, untuk ikut dalam pemikirannya.

Seperti yang ada dalam tulisan sepanjutnya: "Cukup merawat gubernur dan bupati di halaman...".
Hebat kan? Sang guru begitu telak mengejek SGC, sekaligus berupaya memengaruhi agar tidak ambil bagian memperhatikan "halaman tetangga".

Meski sebenarnya sang guru lupa bahwa SGC menganggap halaman tetangga tetap harus dijaga dan ikut dipelihara, karena akarnya bisa merobohkan tembok kokoh yang sudah dibangunnya.

Sebenarnya, saya yang juga sebagai penulis (setidaknya sedang menulis kenakalan sang murid), belum ingin memulai bantahan terhadap sang guru, seperti yang saya hadirkan pada analogi halaman rumah yang sesungguhnya sang gurulah yang mem-framing-nya.

Namun karena memang pikiran liar saya mulai tak terkendali, maka sayapun mulai berani semakin jauh dengan sudut pandang yang berseberangan.

Terlebih lagi ketika masuk dalam fase dimana sang guru menuliskan: "Politik uang memicu kemarahan warga, berujung pembentukan Pansus DPRD Lampung Soal temuan penyelenggara bermain politik uang".

Tulisan yang mengaktifkan energi imajinasi kita keruang pemihan walikota tahun 2020.
FRAMING, ini framing.

Hebatmya, sang guru membuat analisa sepihak dan hanya mengikuti "daya khayal". Bagaimana tidak, siapa yang marah, rakyat mana?

Kalau memang rakyat marah, sehebat apapun ketatnya "tirani" menjaga kekuasaan, tak mungkin mampu melawan kemarahan rakyat. Ini bukan halusinasi, ini bukti, ini fakta.

Paling dekat contoh disekitar kita adalah saat perlawanan rakyat di tahun 1998, yang menumbangkan kekuasaan bertahta.

Maaf, kenapa sempat saya unggah era perlawanan reformasi seperti di alinea atas? Karena ingin membuktikan bahwa analisa sang guru itu salah.

Tidak ada sesungguhnya rakyat lampung yang marah dengan adanya politik uang. Kalaupun ada yang marah, itu tidak sungguh-sungguh (ha ha....).

Dan kalau sampai ada PANSUS, itu hanya jangan sampai pada akhirnya: Tidak ada akhirnya. PANSUS terbentuk bukan berlatarbelakang urgensi karena kemarahan rakyat.
Rakyat hanya dibuat seakan-akan marah oleh pemegang kepentingan yang memainkan instrumen tersedia, yaitu DPRD. Makanya sudah jelas pada akhirnya hasil PANSUS itu tidak jelas.
Maka uraian saya pada alinea ini, memperjelas "warna" perlawanan saya terhadap analisa yang sebelumnya ada (milik sang guru).

Lebih "ngeri" masuk pada fase berikutnya. Ketika.sang guru mulai lebih "nakal" dan sangat "menggemaskan" dengan membawa kekuatan balonkada lainnya (selain Eva), untuk "menghancurkannya".
Coba sama-sama kita tengok pada analisa yang ada di isi dalam bingkai tulisan berikutnya: "Misalnya wakil walikota Bandarlampung, Yusuf Kohar dan mantan Gubernur Lampung dua periode Sjachroedin Z.P. Yusuf Kohar dan putra sulung Sjachroedin Z.P, Ryco Menoza, sudaj kasak-kusuk dan berjuang menyatakan masyarakat bahwa merekalah yang paling pantad memenangkan kontestasi Pemilihan Walikota Bandarlampung 2020.

Keduanya mengkritisi kebijakan walikota saat ini sekaligus menawarkan konsep buat kota bandarlampung". Inilah awal kalimat "mengerikannya.
Berlanjut pada tahap krusial sebuah kalimat bersambung: "keduanya dekat dengan Purwanti Lee, bos SGC yang mulai menikmati asyiknya naik panggung kampanye.

Naah, mulailah kalimat sugestif yang membuat daya pikir bahwa keduanya (Yusuf Kohar dan Rycko) sebagai sosok yang salah ketika dekat dengan Purwanti Lee.

Hebatnya lagi, setelah mengaitkan kedua nama calon pesaing eva ini, kembali mengukuhkan dua balonkada yang mulai terdeteksi namanya: Firmansyah dan Ike Edwin. Pernyatan analisanya adalah: "Ada lagi calon yang gencar menawarkan dirinya, yakni Firmamsyah dan Ike Edwin. Keduanya meski tidak dapat berlayar dengan partai, siap sebagai calon independen".

Inilah keliaran yang disuguhkan sang guru (bang hermanbatin), dengan sadar hendak membuat kita larut untuk ikut dalam rancangan berfikirnya. Dahsyat.

Fase berikutnya, sang guru mulai "menghipnotis" dengan permainan data angka, yang kemudian "disulapnya" menjadi validitas. Memaksa kita mengaminkannya. Meski sayang, kepolosan sang gurulah yang membuatnya tidak mahir beratraksi sulap tersebut. Seperti saja pada pemutakhiran suara eva, ketika menduduki kursi DPRD Lampung. Terdapat 86.258 suara (delapanpuluhrnam duataus limapuluh delapan).

Angka fantastis dari komstituen (pemilih) loyalis eva, yang hampir.separo dar suara milik Partai PDIP di Bandarlampung (yang diclaim miliknya), yaitu sebanyak 146.294 suara (seratus empatpuluh enam ribu duaratus sembilanpuluh empat).

Padahal suguhan angka ini tidaklah fantastis dibandingkan dengan suara (matapilih) rakyat lampung, yang mencapai 650.000 (enamratus limapuluh ribu). Artinya, justru suara yang sudah terkumpul oleh eva, sangatlah berbanding kecil dengan suara rakyat pemilih yang ada.

Eva masih harus mencari duaratus ribu suara lagi (dengan syarat suara yang diatas kertas dimilikinya tidak lari).

Sastrawan di Komunitas Gedong Meneng (KGM)