Andi Arief Sedih Tokoh KAMI Dipertontonkan Tangan Diborgol

Konferensi pers penangkapan terhadap tokoh KAMI/Foto RMOL
Konferensi pers penangkapan terhadap tokoh KAMI/Foto RMOL

Politikus yang juga tokoh Reformasi '98, Andi Arief sedih melihat rekan-rekannya dipertontonkan dengan tangan diborgol atas dugaan pelanggaran UU ITE terkait penolakan terhadap UU Omnibus Law.


Beberapa pimpinan dan inisiator Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia diborgol saat mengikuti jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (15/10).

Menurut Andi Arief, Syahganda Nainggolan dan Jumhur Hidayat ditahan bersama enam tokoh Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) lainnya berdasarkan percakapan WA.

"Saya sedih dan menangis melihat Syahganda dan Jumhur Hidayat dan kawan-kawan dipertontonkan ke muka umum seperti teroris," ujar Andi Arief, Kamis (14/10).

Mereka, katanya, berjasa dalam perjuangan reformasi. UU ITE tidak tepat diperlakukan begitu, bahkan untuk kasusnya juga tidak tepat disangkakan, tandas Andi Arief.

Deklarator dan Komite Politik KAMI, Gde Siriana Yusuf kepada Kantor Berita Politik RMOL menilai hal itu sebagai penghinaan terhadap rakyat dan demokrasi.

Direktur Indonesia Future Studies (INFUS) ini mengharapkan pemerintah memperlakukan sebaik-baiknya para aktivis KAMI dan pihak-pihak yang menggunakan hak menyampaikan pendapat.

Jangan justru, kata Gde Siriana, mereka-mereka yang menjadi aktivis politik ditampilkan dalam jumpa pers dalam keadaan yang sama persis seperti pelaku kriminal lainnya.

"Aktivis politik diperlakukan bak kriminal dengan koruptor dengan tangan diborgol. Bukan seperti ini cara menghadapi perbedaan pendapat," demikian Gde Siriana Yusuf.

Sebelumnya, Polri telah menangkap delapan orang yang tergabung dalam KAMI. Empat orang yang diamankan di Medan dan telah ditetapkan sebagai tersangka antara lain Juliana, Devi, Khairi Amri dan Wahyu Rasari Putri.

Sedangkan empat orang lainnya diamankan di Jakarta. Diantaranya, Anton Permana, Syahganda Nainggolan, Jumhur Hidayat dan Kingkin. Semuanya sudah ditetapkan sebagai tersangka.