Ari Darmastuti: Gubernur Bukan untuk Dipuja-puja, Jika Gagal Katakan Gagal

Ari Darmastuti/Ist
Ari Darmastuti/Ist

Akademisi Fisip Unila Ari Darmastuti menilai kader Partai Golkar tak perlu terlalu emosional menanggapi kritik yang disampaikan pengamat pembangunan daerah, Nizwar Afandi (Affan) terhadap kinerja Gubernur Lampung Arinal Djunaidi. 


"Seharusnya kader Golkar biasa saja menanggapi kritik yang disampaikan Nizwar Affandi, karena yang dikritisi adalah kinerja. Kalau yang disampaikan berupa data, dibantah dengan data," kata dia, Selasa (16/11).

Di mana, Nizwar yang juga menjabat Ketua DPD Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) menilai pemerintahan Arinal-Nunik telah gagal menunaikan 33 janjinya dan gagal mencapai sasarannya yang tertuang dalam RKPD. 

Kritik Nizwar ditanggapi oleh kader-kader Golkar, misalnya Ketua DPD Partai Golkar Pesawaran, Yusak yang menyebut perkataan Affandi tidak mendasar, karena asal bicara tanpa dasar yang jelas.

Bahkan, Ketua DPD Partai Golkar Lampung Timur Azwar Hadi bahkan minta Nizwar dipecat. Dia menilai Nizwar selalu mengkritisi kinerja Pemerintah Provinsi Lampung dari sudut pandang subjektif.

Menurut Dosen Ilmu Pemerintahan Unila ini, kebijakan publik yang dikritisi Nizwar adalah hal yang biasa. Menurutnya, kebijakan Gubernur Lampung bukanlah sesuatu yang sakral sampai harus dipuja-puja. 

"Kalau memang tidak tercapai (gagal) ya dibilang tidak tercapai, kenapa harus marah? Menjawabnya dengan data, tidak boleh dengan emosional, dengan marah, kalau mereka marah, Nizwar dipecat terus mendadak semua poin yang dibilang Nizwar jadi baik? kan tidak," jelasnya. 

Ari melanjutkan, Gubernur dan Pemprov Lampung harus terbuka dalam menerima kritik. Menurutnya, demokrasi akan mati kalau semua orang diam, kritik dibungkam. Itu juga tanda-tanda rezim otoriter. 

"Kalau Golkar marah karena Gubernurnya yang Ketua Golkar Lampung dikritisi, saya gak ngerti Golkar itu milik siapa, apakah milik ketua, kan bukan? Golkar itu dibesarkan oleh kader dan masyarakat," jelasnya. 

Ari melanjutkan, kritik Nizwar sebagi pengamat kebijakan publik mengomentari kebijakan publik dikaitkan dengan posisinya di partai, tidak tepat. 

"Emosi kader berlebihan ini menunjukkan kekerdilan Golkar. Golkar itu keluarlah dari jebakan orde baru. Kalau ada sedikit perbedaan terus menghasilkan orang dipecat, apa bedanya dengan orde baru," kata dia. 

Sudah seharusnya, lanjut Ari, Golkar sebagai Partai senior menunjukkan kemapanannya dengan legawa terhadap kritik dan menunjukkan bahwa Golkar adalah partai yang demokratis.