Asyik Puisi dan Musik di Moyo Cafe

Asyik Puisi dan Musik di Moyo Cafe/Ist
Asyik Puisi dan Musik di Moyo Cafe/Ist

Bertajuk Moyo Coffe, Asyik Puisi dan Musik dihelat di Moyo Cafe Jalan Camar, Way Huwi, Jatiagung, Lampung Selatan, Jumat (26/11) malam.


Sejumlah seniman Lampung, mahasiwa dan pencinta puisi dan musik hadir. Mereka adalah Isbedy Stiawan ZS, Yuli Nugrahani, Devin Nodestyo, Ririk, Fitri Angraini, Retha, Yudi, Rio Jordi Tarigan, dan lainnya.

Retha, pemilik Moyo Cafe mengatakan, malam baca puisi dan musik ini pertama kali digelar. Ia berniat kegiatan serupa akan dihelat setiap bulan.

"Malam ini bintang utamanya adalah Isbedy Stiawan ZS. Bulan depan bisa yang lainnya," ujar Retha.

Sebagai bintang utama, buku puisi Isbedy Stiawan ZS "Masih Ada Jalan Lain Menuju Rumahmu" dipamerkan/dijual bagi pengunjung. "Sekaligus bagi penampil dipersilakan memilih salah satu puisi dari buku itu," imbuhnya.

Sementara penyair berjuluk Paus Sastra Lampung menjelaskan, tradisi baca puisi dan musik di kafe sudah banyak dilakukan. Karena itu ia menyambut baik niat pemilik kafe tersebut.

"Ini bagian dari memasyarakatkan karya sastra, khususnya puisi. Saya menyambut baik gagasan bu Retha, bahwa kafe bukan sekadar tempat minum kopi dan kongkow, tapi bisa sambil menikmati puisi. Ini banyak dilakukan di kafe-kafe lain di berbagai kota," ujarnya.

Dia juga menegaskan bahwa bagi penyair di mana pun bisa menciptakan panggung.

*Soal Boikot Tambud*

Isbedy juga menyinggung soal "pemboikotan" Taman Budaya Lampung yang dimotori Komunitas Berkat Yakin (KoBer) Lampung, adalah wajar dan patut didukung.

"Pertunjukan teater membutuhkan panggung, dan yang refresentatif adalah Tambud Lampung. Tetapi gedung itu seakan menjadi ladang bisnis pengelola, dengan alasan memenuhi PAD. Jadi grup teater seperti KoBer merasa sewa itu terlalu mahal, dan menganggap tambud telah mencederai kreativitas seniman," ungkap Isbedy.

Selain itu ia sepakat dengan pernyataan Robby Laraya bahwa muara dari pemboikotan tambud ada pada bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung.

"Saya dukung, kalau bidang Kebudayaan Disdikbud Lampung perlu dievaluasi," tandas Isbedy.

Sebelumnya, Robby Laraya melalui laman Facebooknya menulis, ribut soal Tambud harusnya bisa merembet pada persoalan kebudayaan yang lebih luas, dimana perencanaan dan program kebudayaan ditetaskan dan dilaksanakan. Sekalian tuh bidang kebudayaan Disdikbud Lampung evaluasi.

"Bidang kebudayaan itu sekalianlah dibenahi sudah seperti kerajaan," kata Robby.