Azis Syamsuddin Diduga Terima Fee Rp 2,1 Miliar dari Pengurusan DAK Lamteng

Taufik Rahman saat bersaksi di luar berkas perkara terdakwa Stepanus Robin Pattuju di Pengadilan Tipikor pada PN Jakarta Pusat/RMOL
Taufik Rahman saat bersaksi di luar berkas perkara terdakwa Stepanus Robin Pattuju di Pengadilan Tipikor pada PN Jakarta Pusat/RMOL

Melalui orang kepercayaannya bernama Aliza Gunado, mantan Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin saat menjabat Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI diduga menerima uang Rp 2,1 miliar dari utusan Mustafa saat menjabat sebagai Bupati Lampung Tengah (Lamteng).


Uang tersebut merupakan komitmen fee terkait usulan Dana Alokasi Khusus (DAK) Kabupaten Lamteng TA 2017.

Hal itu diungkapkan oleh mantan Kepala Dinas Bina Marga Pemkab Lamteng, Taufik Rahman saat menjadi saksi di luar berkas perkara terdakwa Stepanus Robin Pattuju di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin siang (1/11).

Dalam persidangan ini, Taufik mengaku pernah dimintai keterangan oleh penyelidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait perkara Pengurusan DAK APBD-P Kabupaten Lamteng TA 2017 sebanyak dua kali.

Taufik saat menjabat sebagai Kadis Bina Marga Lamteng, pada April 2017 mengajukan proposal pengajuan DAK APBD-P 2017 ke pemerintah pusat berdasarkan perintah dari Bupati Mustafa.

Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK selanjutnya menanyai perkenalan Taufik dengan Aliza Gunado yang merupakan orang kepercayaan Azis Syamsuddin.

Di mana kata Taufik, dirinya kenal dengan Aliza setelah diperkenalkan oleh Darius selaku konsultan.

"Jadi awalnya waktu itu, setelah pengajuan proposal itu saya ditemui Darius. Darius ini teman di Lamteng. Dia memberitahu bahwa ada orang dari Jakarta yang bisa membantu untuk mengurus tambahan dana DAK untuk kabupaten, namanya Aliza Gunado," ujar Taufik seperti dikutip Kantor Berita Politik RMOL, Senin siang (1/11).

Selanjutnya kata Taufik, dirinya bertemu Aliza di Bandar Lampung di Cafe Paviliun. Saat pertemuan itu, Aliza mengatakan bahwa jika ingin mendapatkan tambahan DAK, harus mengajukan proposal ke Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Kementerian PU, Bappenas dan DPRD termasuk Banggar DPR RI.

"Iya, kalau pengajuan proposalnya sebelum ketemu memang sudah mengajukan proposal. Cuma dia bilang ajukan proposal bisa lewat dia," kata Taufik.

Selanjutnya, Taufik bersama anak buahnya atau para kepala bidang ke Jakarta bertemu dengan Aliza di Gedung DPR RI dengan membawa proposal tersebut.

"Iya proposal lama. Waktu itu ajukan proposal sekitar hampir Rp 300 miliar," kata Taufik.

Setelah bertemu, Taufik selanjutnya menyerahkan proposal yang juga telah dikirimkan dan sudah ada tanda terima dari kementerian-kementerian.

"Terus dia (Aliza) bilang proposalnya terlalu besar nilainya, jadi dia minta tolong bikin proposal lagi yang besaran proposal sekitar Rp 130-an miliar," jelas Taufik.

Selanjutnya, Taufik beserta rombongan kembali ke Lampung dan melaporkan pertemuan itu ke Bupati Mustafa. Akan tetapi, Mustafa kata Taufik, tidak kenal dengan Aliza.

Karena, Mustafa hanya kenal yang namanya Edi Sujarwo sebagai orangnya Azis Syamsuddin.

Kemudian, Taufik diberikan nomor telepon Edi Sujarwo dan menghubunginya. Setelah itu, dirinya bertemu dengan Edi Sujarwo di kediaman Edi di daerah Lamteng.

"Pak Jarwo mengatakan kalau orangnya Azis itu dia. Dan dia selalu mempertemukan dengan Pak Azis. Terus setelah pertemuan pertama itu, kita pisah. Saat itu kami sampaikan kami mengajukan proposal tambahan. Pak Jarwo kasih tahu bahwa dia orang yang tepat, karena dia orang kepercayaannya Pak Azis yang sebetulnya," terang Taufik.

Sekitar seminggu kemudian, Jarwo kata Taufik menghubunginya dan berjanji untuk menemui dengan Azis.

"Setelah itu kami ketemu di bandara, sebelum bertemu itu Pak Jarwo juga sudah pesan, kami disuruh menyiapkan uang proposal besarannya Rp 200 juta. Jadi waktu itu saya minta teman ikut untuk bawa uang itu untuk menyerahkannya ke Pak Jarwo. Itu uangnya diserahkan oleh staf saya, Indra Erlangga, diserahkan ke Pak Jarwo di Bandara," terang Taufik.

Selanjutnya Taufik pergi ke Jakarta bersama Indra, Aan, Andre Kadarisman, Darius dan Jarwo.

Setelah sampai di Jakarta, mereka menginap di Hotel Veranda sesuai arahan Jarwo. Selanjutnya pada malam harinya, Taufik mengaku diajak ke sebuah cafe milik Azis yang dikelola oleh adik Azis bernama Vio.

"Sampai sana sekitar jam 9 malam. Kata Pak Jarwo mau ditemui Pak Azis. Tapi ternyata sampai sana, kami lihat di TV tuh ada siaran rapat anggaran DPR masalah APBD-P. Karena masi rapat saya pikir tidak mungkin bertemu malam itu. Terus Pak Jarwo masuk ke dalam nemuin pemilik kafe itu yang katanya namanya Vio itu, terus dia keluar, dia kasi tahu ke saya bahwa uang proposalnya (Rp 200 juta) juga diserahkan ke Vio," beber Taufik.

Setelah itu Taufik kembali disuruh menunggu. Akan tetapi, hingga lewat tengah malam, Azis tak kunjung muncul menemui Taufik.

Keesokan harinya pada 21 Juli 2017, Taufik dan Darius diajak oleh Jarwo ketemu dengan Azis di Gedung DPR RI.

"Pak Azis datang, terus Pak Jarwo menyampaikan ke Pak Azis, 'ini pak ada temen-temen dari Lampung Tengah'. Waktu itu saya sudah sempat mau ngomong banyak, tapi Pak Azis bilang, 'Lampung Tengah ya?' 'Iya, pak masalah DAK' Pak Jarwo yang jawab. 'Dapet kayaknya kalau tidak salah 25' (kata Azis)" ungkap Taufik.

Saat itu kata Taufik, Azis mengeluarkan secarik kertas saat mengatakan bahwa Lamteng dapat Rp 25 miliar.

"Waktu itu, saya tanya, apa tidak bisa ditambah lagi? 'Oh ini uda tinggal ketok palu' (kata Azis) gitu. Karena masih ada rapat Pak Azis pergi," kata Taufik.

Selanjutnya kata Taufik, dirinya ditelpon oleh Aliza dan ingin bertemu di Hotel Borobudur. Saat bertemu itu, Aliza menceritakan bahwa Jarwo merupakan orang lapangan, sedangkan Aliza merupakan orang kepercayaan Azis terkait teknis.

Besok paginya 22 Juli di Hotel Veranda selesai sarapan, Aliza datang, ngobrol sama Pak Jarwo. Tidak lama mereka ketemu saya, dia bilang lewat mereka berdua tidak masalah yang urus DAK, dua-duanya ngomong begitu (Aliza dan Jarwo) waktu itu di pinggir kolam renang Hotel Veranda pagi habis sarapan," tutur Taufik.

Tak lama kemudian, DAK Lamteng sudah diketok dengan mendapat tambahan anggaran sebesar sekitar Rp 25 miliar.

"Mereka (Aliza dan Jarwo) menyampaikan itu, intinya mereka sudah berhasil tuh kasih lokasi DAK Lamteng. Mereka bilang intinya, 'mana komitmennya?'. Saya juga sudah ngomong ke temen-temen, untuk menyiapkan itu, gambaran awalnya kan kami dijanjiinnya dapat DAK sekitar Rp 90-an Miliar. Ternyata kan Rp 25 miliar," jelas Taufik.

Taufik menjelaskan bahwa, saat bertemu Aliza di Bandar Lampung, untuk pengurusan DAK ada komitmen fee sebesar 8 persen. Sehingga komitmen fee yang diberikan sekitar Rp 2 miliar.

"Iya 8 persen. Saya sampaikan ke staf-staf untuk cari alokasi komitmen fee itu. Waktu itu baru terkumpul Rp 1,1 miliar lebih," kata Taufik.

Uang tersebut selanjutnya diserahkan oleh anak buah Taufik kepada Aliza. Kemudian sisanya sekitar Rp 990 juta, anak buah Taufik mendapatkan pinjaman dari pihak lainnya.

Sementara itu, Aan Riyanto selaku Staf Taufik mengungkapkan bahwa uang yang telah diserahkan sebesar Rp 2,1 miliar.

"Jadi, tanggal 21 itu saya dapat perintah dari Pak Taufik untuk mencari pinjaman uang untuk diberikan ke saudara Aliza. Rp 2.085.000.000 totalnya. Yang pertama itu Rp 1.135.000.000 saya kasih ke saudara Aliza di salah satu mall tempat makan D'cost. Uang itu diambil sama kawannya ditukar ke bentuk dolar Singapura," jelas Aan. 

"Yang kedua penyerahannya Rp 950 juga di Hotel Veranda, saya serahkan ke saudara Aliza dan dibawa sama kawannya untuk ditukarkan dolar. Setelah saya serahkan ke Aliza, saya lapor ke Pak Taufik," sambung Aan menutup.