Bahasa Lampung Adalah Bahasa Melayu Tua (1)

Fath Syahbudin/Ist
Fath Syahbudin/Ist

memuat dua tulisan FATH SYAHBUDIN. Tulisan pertama, Bahasa Lampung dari Melayu Tua. Tulisan kedua, Bahasa Lampung yang memperkaya kosa kata Bahasa Indonesia.


PADA tahun 1960-an, orang bertanya, Bahasa Lampung itu seperti Palembang ya?" Saya jawab, "Tidak sama sekali." Lampung bukan bagian dari Melayu. Kami suku 'Melayu Tua' (Proto Melayu). 

Anda masih bisa mengerti kalau orang Deli berkata, "Kemane pigi?",  orang Minang berkata, "Kama pa i?", orang Palembang bilang, "Nak kemano?"

Tetapi, kalau saya berkata "Haga mit dipa atau agow ado' keddow?", maka Anda tidak bisa menduga artinya. Itulah Bahasa Lampung, yang tergolong bahasanya Suku Melayu Tua.

Sepintas tidak mirip dengan Bahasa Melayu, tetapi kosa kata BahasaLampung sangat banyak berkontribusi ke Bahasa Indonesia. 

Sejak masa kanak-kanak, saya tertarik memperhatikan bahasa sampai pada keyakinan bahwa Bahasa Lampung adalah Bahasa Melayu Tua, cikal-bakal Bahasa Melayu. 

Hal ini saya buktikan dari banyaknya persamaan kosa kata (kuno), mulai dari Pattani Thailand-Selatan, Malaysia, Tagalog-Filipina hingga Samoa-Fiji di Pasifik. 

Masa pra-sekolah, saya hanya berkomunikasi dengan "Bahasa Ibu"(Bahasa Lampung dialek Sungkay) dan Bahasa Sunda Kulon karena bertetangga dengan orang Rangkas Bitung. 

Sedangkan Bahasa Indonesia, Bahasa Melayu (Istilah jaman dulu), saya pahami dari lagu-lagu yang saya nyanyikan. 

Sejak kecil, saya senang menyanyi. Semua lagu yang populer tahun 1950-an saya hafal, karena keluarga kami pecinta seni. 

Kakak sulung saya, Muhammad Thohir Syahbudin (alm), sekolah SGB. Beliau menguasai not-balok, juga sering menyanyikan lagu dan notasi Mars Pemilu 1955. Karena itu ketika masuk SR 02 Gedung Kapas, Kotabumi, tahun 1954, saya sudah nalar notasi.   

Lagu-lagu yang populer pada tahun 1950-an seperti Khayal Penyair, Cinta Hampa, Impian Semalam, hingga lagu-lagu Langgam-Keroncong, serta lagu Malaya (P. Ramli) "Engkaulaksana bulan..Tinggi di atas kayangan." 

Semua bisa saya pahami syairnya, kecuali satu hal yang lama mengendap di pikiran saya, adalah syair lagu Tukang Becak. "Tukang becak bangsa miun.. terkenal gemar berpantun".. 

Sebagai sana' sumpu'/anak dusun, syair lagu ini membingungkan saya. Yang sering saya dengar Bangsa Jawa, Bangsa Cina, Bangsa Padang. Kalau Bangsa Miun, daerah mana ya?

Mungkin karena di Lampung penjual makanan termasuk tukang becak dipanggil 'mang' (mamang). Ketika di Jakarta tahun 1964, barulah saya mengerti kalau 'Bang Samiun' nama panggilan tukang becaknya.

Weleh weleehh.. Itulah pengalaman masa kecil saya yang tidak terlupakan. (BERSAMBUNG)

*Budayawan, seniman, pencipta lagu Tanoh Lada, Kacar Dalung, Cadang Hati, Bumi Sekala Bekhak dll.