Bahasa Tak Pernah "Kencing" (1)

Ahmad Mufid
Ahmad Mufid

BAHASA tidak pernah netral. Ia tidak lahir dari ruang hampa, kosong, dan apa adanya. Semua diciptakan manusia dalam rangka untuk menyampaikan sesuatu. Ia memuat emosi, ideologi, kepercayaan, keyakinan dll.

Karena itu, kata tidak pernah netral, ia selalu bersifat politis dan ideologis. Kata tak pernah "kencing" alias ngebuang, bocor, keluar tanpa makna, seperti mobil tanki minyak solar. Jikapun "kencing", ada oknum yang memelintirnya.

Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan manusia untuk mengekspresikan atau menyampaikan apa yang dirasakan, dipikirkan dan dialaminya. Bahasa menjadi tanda untuk menunjukan sesuatu (baca: ada makna). 

Dalam masyarakat sosial, penggunaan bahasa tidak dapat direduksi hanya menggunakan analisis murni. Tetapi harus di lihat konteks dan interaksi sosialnya.

Dalam konteks ini, bahasa (teks) tidak hanya dimaknai sebagai sebuah kalimat yang tersusun dari unsur SPOK semata. Tetapi, di balik teks, senantiasa ada subteks dan konteks yang mengikutinya.

Konteks seperti latar, situasi dan kondisi senantiasa menjadi perhatian tersendiri dalam analisis wacana kritis. Sebab hal-hal tersebut senantiasa memengaruhi teks yang muncul kepermukaan.

Bahasa dalam analisis wacana kritis merupakan sebuah tempat bertemunya berbagai kepentingan kelompok sehingga terjadi pertarungan wacana di dalamnya.

Sehingga bahasa dapat dipandang arena politik, arena pertarungan yang tujuan akhirnya untuk saling memengaruhi, mendominasi, dan menghegemoni.

Dalam konteks pertarungan politik atau kekuasaan, bahasa menjadi penting terutama karena bahasa dapat digunakan sebagai instrumen pertarungan politik, baik untuk menaklukkan, menguasai, melawan ataupun mempertahankan kekuasaan. 

Sementara itu, dalam ilmu linguistik fungsional, memandang bahwa struktur formal bahasa ditentukan oleh Fungsi-fungsi sosialnya.

Kelompok lingustik fungsional melihat hubungan yang saling memengaruhi antara bahasa dan masyarakat sosial. Karena itu, bahasa yang digunakan manusia atau masyarakat dalam sehari-hari selalu bersifat politis karena berkaitan dengan mental, budaya, kultur sosial, politik, keyakinan dan kepercayaan yang menyelimutinya. 

Misalnya ketika seorang berkata "Seorang istri seharusnya merawat rumah dan mendidik anak, serta tidak boleh kerja berlebihan, biarlah itu menjadi tanggung jawab suami",  ucapan tersebut secara tidak langsung meligitimasi status quo budaya patriarki dalam masyarakat.

Hal ini menunjukkan bahwa bahasa, teks ataupun wacana tidak pernah berdiri sendiri. 

Belum Lurus Kencing

Tak terkecuali apa yang terjadi dalam forum audiensi masa aksi #tolakomnibuslaw di gedung DPRD Provinsi Lampung. Pada kesempatan tersebut, salah seorang anggota DPRD Provinsi Lampung, Yozi Rizal berkata "Jadi gini, mungkin Anda belum lurus kencing, saya sudah melakoni apa yang kalian lokoni, eee Anda masih kecil-kecil". 

Tentunya, banyak spekulasi yang muncul terkait ucapan tersebut. Salah satunya ialah, apabila Yozi Rizal dengan sadar mengucap kalimat tersebut dalam rangka menunjukan ke-SIAPA-annya (Aktivis 98, pernah demo, melawan orde baru).  Maka hal tersebut tentunya tidak elok di sampaikan dalam forum seperti itu. 

Sebab kesan merendahkan dan meremehkan lawan bicara menjadi lebih kental aromanya, tenimbang niat untuk sekadar berbagi pengalaman. Mengatakan bahwa dirinya lebih dulu berjuang dan berbuat untuk bangsa jelas adalah upaya untuk mendominasi, menyerang psikologi massa sekaligus berupaya untuk mengendalikan massa. 

Lalu, adakah makna lain dari ucapan tersebut? (BERSAMBUNG).

*Direktur Kelompok Studi Kader (Klasika)