Bahasa Tak Pernah "Kencing" (2/Selesai)


Catatan Untuk Yozi Rizal,  Robby Laraya, dan Pembela Yozi Lainnya. 

BAHASA memiliki peran penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Bahasa menjadi alat komunikasi, baik secara lisan maupun tulisan. Tanpa bahasa, rasanya tidak mungkin terjadi transformasi pengetahuan, ide dan gagasan dari individu satu ke individu lainnya.

Melihat betapa pentingnya peran bahasa dalam masyarakat sosial, kemudian dalam ranah filsafat, bahasa dijadikan objek kajian yang secara intens dan mendalam didedah oleh para filsuf.

Perpindahan objek kajian filsafat tersebut (antroposentris menjadi logosentris) telah menjawab dan menyingkap banyak hal.

Seperti yang sudah saya kemukakan dalam tulisan sebelumnya, bahwa bahasa tidak lahir dari ruang hampa, kosong dan apa adanya. Ia (bahasa) selalu bersifat politis dan ideologis.

Dalam banyak hal, bahasa kerap digunakan sebagai alat untuk menghegemoni ataupun mendominasi orang lain, atau kelompok lain.

Namun upaya untuk menyingkap sesuatu yang bersifat politis dan ideologis tersebut kerap kali tidak dilakukan oleh banyak orang, termasuk  Laraya Robby dan para pendukung Yozi Rizal yang lain. 

Mengapa? Sebab mereka kekeh, ngeyel dan terlampau percaya diri bahwa apa yang diucapkan Yozi Rizal semata ingin menunjukkan perbedaan kondisi usia biologis antara Yozi Rizal dan massa aksi pada tahun '90-an, tanpa ada unsur lain dari ucapan Yozi Rizal tentang "Mungkin Anda Belum Lurus Kencing ..."

Secara umum, dalam mesin pencari informasi berbasis internet (Google), saya menemukan arti dari perumpamaan "kencing belum lurus" adalah anggapan bahwa lawan bicara dianggap masih kecil, belum cukup pengalaman.

Dan hal tersebut diaminkan oleh Yozi Rizal, selaku  pelontar ucapan itu. 

Dalam komunikasi antara dua entitas yang berbeda, maka hal tersebut tentunya tidak elok disampaikan, terlebih di forum seperti itu. Sebab kesan merendahkan dan meremehkan lawan bicara menjadi lebih kental aromanya, tinimbang niat untuk sekadar berbagi pengalaman. 

Mengatakan bahwa dirinya lebih dulu berjuang dan berbuat untuk bangsa jelas adalah upaya jumawa untuk menjelas-jelaskan siapa dirinya, upaya jumawa untuk mendominasi, untuk menyerang psikologi massa sekaligus berupaya untuk mengendalikan massa.

Di atas itu semua, adalah penanda bahwa dirinya congkak dan tinggi hati; terbukti dengan penolakannya meminta maaf pada lembaga PMII. Sayang sekali.

Lalu, apa yang menyebabkan Laraya Robby dan para pembela Yozi Rizal kekeh bahwa tidak ada niat untuk menghina ataupun melecehkan?  

Saya memandang bahwa Laraya Robby dan lainnya gagal menangkap apa yang tersembunyi dan berada di balik teks. Mereka luput atau sengaja tidak mau melihat subteks dan konteks yang melatarbelakangi lahirnya teks tersebut. 

Dalam analisis wacana kritis, konteks menjadi bagian yang tak bisa terelakkan dan menjadi keharusan untuk melakukan analisis terhadap teks. Konteks seperti latar, situasi, peristiwa dan kondisi yang melatarbelakangi lahirnya teks. 

Mengapa konteks menjadi penting? Kita ambil contoh penggunaan kata "Gila"  pada konteks yang berbeda. Pertama, "Gila!  Kenapa kamu melakukan itu?"

Kedua, "Gila! Cantik betul adek itu". Dari contoh tersebut, tentunya kita bisa melihat maksud yang berbeda. Meskipun menggunakan diksi yang sama. 

Contoh lainnya mungkin bisa juga seperti ini: Pertama, "Bang, nanti aku mau beli mobil Lamborgini warna kuning, Bang," ucap Asep Kasep, anak yang umurnya belum genap 18 tahun kepada Yogi Haturnuhun, kakak pertama Asep yang usianya menginjak 25 tahun dan bekerja sebagai buruh bangunan.

Kemudian Yogi, yang sudah mencicipi usia 18 tahun dan usia biologisnya di atas Asep, pun menjawab; "Yaelah Sep ... Sep, kamu kencing aja belum lurus, udah pengen beli mobil. Abang yang udah kerja bertahun-tahun aja cuma sanggup kredit motor bebek, Sep."  

Kedua, "Mungkin Anda Belum Lurus Kencing, saya sudah melakoni apa yang kalian lokoni. Eee karena anda masih kecil-kecil," ujar Yozi Rizal, Ketua Komisi I DPRD Provinsi Lampung.

Untuk memahami apa yang disampaikan Yogi dan Yozi tersebut, tentunya kita tidak bisa menghindarkan diri dari konteks lahirnya teks tersebut. Sebab, konteks tersebutlah, yang kemudian memengaruhi analisis seseorang terhadap teks. 

Atas upaya saya memahami teks yang disampaikan Abangnda Yozi Rizal Yang Agung, sejauh ini saya meyakini bahwa apa yang  beliau sampaikan adalah upaya untuk mendominasi lawan bicara, sebab lawan bicara dianggap mengancam kenyamanan dirinya; maka perlu sekali untuk melakukan upaya dominasi. 

Lalu bagaimana dengan Baginda Laraya Robby gelar Tuan Tanpa Tandingan dan para pembela Yozi Rizal lainnya yang kekeh dengan argumentasi yang menguras emosi pembaca?

Tentu tak usah diambil pusing. Sebab kengeyelan itu bisa kita maknai sebagai upaya untuk menutup celah bagi siapa pun yang hendak memaknai teks secara lebih dalam.

Selain itu, saya menerka (diksi yang viral antara Asep dan Laraya) Laraya dan pembela Yozi yang lain, berusaha menggeser topik perbincangan; tidak lagi fokus pada yang yang disampaikan oleh Yozi Rizal tentang "Kencing Belum Lurus".

Laraya, lagi-lagi emosional, tapi berusaha mengendalikan diri dan membungkusnya dengan litotes dan eufemisme gampangan. Itulah "gaya bahasa umum" yang digunakan Baginda Laraya. 

Tabik. Salam takzim dari Ahmad Mufid, Si Pemuda Tak Bergelar. [amat]

* *Direktur Kelompok Studi Kader (Klasika)