Bak Istana Merdeka Jakarta, Kantor Desa Cempaka Di Lampung Utara

Kepala Desa Rizki Puspa Dewi/Foto Ist
Kepala Desa Rizki Puspa Dewi/Foto Ist

Warga Kabupaten Lampung Utara tak perlu jauh-jauh melihat dan berswafoto di Istana Merdeka Jakarta. Di Desa Cempaka, Kecamatan Sungkai Jaya, kantor desanya bak istana tersebut: megah.


Gara-gara foto kantor tersebut viral beberapa hari ini, banyak yang berwisata ke sana. Silahkan berkunjung dan berswafoto asalkan jaga kebersihan, kata Kepala Desa Rizki Puspa Dewi, Kamis (19/11).

Rizki bersyukur mimpi masyarakat desanya bisa terwujud memiliki kantor desa baru yang ornamennya mirip Istana Negara. Ditargetkannya, awal tahun depan kantot desanya diresmikan.

Dikatakannya juga, bangunan ini didirikan dengan menggunakan anggaran Dana Desa (DD) 2020 sebanyak Rp394.881.500. Rencana, sekitar gedung ada aula, masjid, TPA, dan pagar megah.

Lahannya seluas 30X30 meter, menurut dia, hibah dari salah satu tokoh masyarakat Desa Cempaka  dan pernah menjabat sebagai kepala desa setempat selama lima periode sebelumnya.

Bangunan yang dirikan selama tiga tahun itu memiliki luas bangunan 6×26 meter, tinggi 6 meter serta dilengkapi dengan enam pilar dan lambang Burung Garuda di tengah atap.

Di desa yang memiliki kawasan 8.400 hektare itu, ada sekitar 1.500 jiwa dengan 500 KK yang terdiri dari berbagai etnis dan suku.

Selain di Desa Cempaka, kantor desa yang memiliki desain mirip seperti Istana Merdeka lainnya ada di Desa Kemuning Sari Kidul, Kecamatan Jenggawah, Jember, Jawa Timur.

Dikritik DPD RI

Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti mengkritik pembangunan Kantor Desa Cempaka mirip Istana Merdeka. 

“Dana desa tidak sepantasnya untuk membangun kantor desa supaya terlihat megah,” ujarnya, Sabtu (21/11), sesaat sebelum meninggalkan Sultra di Bandara Haluoleo, Kendari.

Kantor Desa Cempaka yang mirip Istana Merdeka ini menjadi perbincangan publik dan viral di media sosial. Kantor Desa yang baru jadi itu seperti versi kecil Istana Merdeka, tempat Presiden RI berkantor.

LaNyalla mengingatkan, dana desa seharusnya digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi warga. Kantor desa kurang memiliki manfaat bagi masyarakat secara umum.

“Peruntukan dana desa fokusnya untuk pembangunan infrastruktur yang bisa menstimulasi ekonomi desa. Kantor desa itu kan yang pakai cuma kepala desa dan perangkatnya. Tak ada gunanya bagi warga,” kata LaNyalla.

Senator asal Dapil Jawa Timur itu menegaskan, perangkat desa harus paham betul soal penggunaan dana desa. LaNyalla mempertanyakan apa fungsi membangun kantor desa yang megah hingga mengeluarkan dana besar.

“Dana desa harus digunakan untuk peningkatan kualitas hidup manusia serta penanggulangan kemiskinan dan dituangkan dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa,” sambung LaNyalla.

Oleh karena itu, LaNyalla meminta pemda untuk melakukan pengawasan terhadap penggunaan dana desa. Ia berharap, perihal anggaran dana desa digunakan untuk membangun kantor desa megah seperti di Desa Cempaka tidak terjadi lagi.

“Senator juga harus ikut mengawasi. Jangan kebobolan seperti di Desa Cempaka yang ingin punya kantor seperti Istana malah banyak menghabiskan uang yang seharusnya untuk rakyat,” tandas LaNyalla.