Bakauheni Harbour City, Kawasan Wisata Internasional

Konsep Bakauheni Harbour City/Dok
Konsep Bakauheni Harbour City/Dok

MELIHAT video dan draf konsep Bakauheni Harbour City, Provinsi Lampung bakal luar biasa dengan destinasi wisata modern berskala internasional yang terintegratif dengan keindahan kawasan titik nol Sumatera di Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan.

Dibagi beberapa zona peruntukan, Bakauheni Harbour City akan menjadi kawasan wisata yang dapat menambah pundi-pundi pendapatan daerah ini, kata Ary Meizari Alfian kepada Kantor Berita RMOLLampung, dua hari lalu.

Ketua DPD Pejuang Bravo Lima Lampung itu sangat mendukung proyek yang rencana akan mulai digarap para pemangku kepentingan mulai tahun 2024, setelah Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS)  selesai dari Aceh hingga Lampung.

Bakauheni Harbour City direncanakan seluas 214 hektare (ha) yang dilengkapi dengan Taman Budaya Menara Siger, Intermoda Terminal, Marina Village, Bakauheni Harbour Park, dan mangrove forest. 

Master plan yang disainnya dikonsep Alien Design Consultant, tak ketinggalan menyiapkan gagasan fasilitas hotel berbintang, vila, dan taman bermain. "Lampung bakal luar biasa," ujar Ary.

Andy Desfiandi dari DPP Pejuang Bravo Lima mengatakan sangat mendukung rencana Bakauheni Harbour City. Menurut dia, masyarakat Lampung harus mendukung gagasan buat kemajuan daerah ini.

Rencana, pemerintah bakal membangun Bakauheni Harbour City setelah selesai JTTS Sumatera pada 2024. 

ASDP

Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Ira Puspadewi mengatakan ASDP bersama dengan Hutama Karya, PT Pengembangan Pariwisata Indonesia atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) serta Pemprov Lampung akan menyelesaikan visioning masterplan pengembangan kawasan pariwisata Bakauheni.

Dia mengharapkan pembangunannya jadi salah satu penggerak utama perekonomian di sektor pariwisata masa depan.

"Masterplan ditargetkan selesai dalam waktu dekat, tentu keterlibatan seluruh pihak sangat penting dalam terwujudnya megaproyek ini dalam mengolah potensi Bakauheni yang sangat besar menjadi salah satu destinasi pariwisata unggulan di Sumatera," tuturnya.

Ira mengungkapkan Bakauheni dikelilingi ragam objek wisata mulai dari sejarah, alam dan pariwisata minat khusus. Di sini juga ada Menara Siger yang menjadi salah satu zona pariwisata utama di Lampung yang fokus pada budaya dan pendidikan. 

Pengembangan di Menara Siger ini akan terintegrasi dengan masjid yang ditargetkan mulai dibangun tahun 2021.

"Dengan hadirnya Bakauheni Harbour City ini, kami targetkan kawasan Bakauheni dapat menjadi destinasi pariwisata berskala internasional. Bakauheni bukan hanya sebagai pelabuhan penyeberangan, tetapi juga menjadi lokasi wisata baru dan menjadi favorit wisatawan nusantara (wisnus) maupun mancanegara (wisman)," ujarnya.

Pada tahap awal akan dimulai dengan pengembangan kompleks Taman Budaya Siger seluas 3,8 hektare sebagai area budaya yang terintegrasi dengan Masjid Bakauheni berkapasitas 2.600 jemaah. 

Di lokasi ini akan dibangun masjid, museum kontemporer, restoran, sky bridge, toko sovenir, dan fasilitas parkir yang besar.

Para wisatawan yang datang ke Menara Siger dapat menikmati panorama alam yang sangat indah, karena sebagai ikon Lampung Selatan, menara ini berada di lokasi strategis yang dikelilingi laut dan perbukitan.

Berdasarkan data statistik wisatawan nusantara, pada 2010-2019 pertumbuhan kunjungan wisatawan ke Lampung rata-rata mencapai 21,6 persen (wisnus) dan 21,5 persen (wisman) dengan proporsi wisnus sebesar 98 persen dari total seluruh wisatawan. Lampung menempati urutan ke-11 dengan tujuan wisnus 2,4 persen dari total perjalanan wisnus di Indonesia. 

Adapun asal wisatawan yang berkunjung ke Lampung, berasal dari Palembang 46 persen, Jabodetabek 24 persen dan dari Bandung 16 persen. Hal ini menjadi indikasi Lampung memiliki daya tarik bagi wisatawan nusantara.

"Bahkan, jika melihat data penyeberangan ASDP, dari total 49 juta yang dilayani di seluruh Indonesia, lintasan Merak-Bakauheni sendiri berkontribusi sebesar 42,2 persen atau sekitar 20,7 juta penumpang yang menyeberangi Jawa-Sumatera setiap tahunnya. 

Sehingga, ada potensi yang sangat besar disini, utamanya dalam pengembangan sektor pariwisata," kata Ira.

Tidak hanya itu, kehadiran Terminal Eksekutif Anjungan Agung Bakauheni yang dilengkapi kawasan komersial seperti mal dengan desain interior yang megah dan modern juga turut menjadi fasilitas pendukung yang menyajikan hiburan sekaligus edukasi, kemudahan jalur transportasi, dan akomodasi bagi keberadaan kawasan pariwisata terpadu Bakauheni Harbour City.

Dukungan Pemerintah terhadap megaproyek ini juga cukup besar di antaranya dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR) yang sangat berperan dalam infrastruktur jalan.

Menteri PUPR Basuki Hadimulyono dalam kunjungan kerjanya di Lampung pada (25/1) berkesempatan mengunjungi lahan Bakauheni Harbour City.

Menteri Basuki mengatakan Bakauheni memiliki potensi yang sangat bagus dalam pengembangan pariwisata ini.

Gubernur Lampung Arinal Djunaidi mengatakan bahwa pihaknya bersama dengan seluruh pemangku kepentingan terkait megaproyek Bakauheni Harbour City ingin menjadikan Bakauheni menjadi pilihan utama masyarakat Jakarta dan Sumatera untuk melakukan kunjungan wisata unggulan di Lampung.

Luhut

Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengatakan sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, pembangunan Bakauheni Harbour City bisa menyeret turun kesenjangan dan meningkatkan infrastruktur wilayah setempat.

"Pembangunan di Merak-Bakauheni-Lampung menjadi penting karena terdapat 21 juta orang dan 4,5 juta kendaraan yang melewati Pelabuhan Merak-Bakauheni," ujarnya dalam Rapat Koordinasi Percepatan Pembangunan Infrastruktur dan Transportasi secara virtual, Selasa (26/1).

Pembangunan selanjutnya, sambung Luhut, membangun lahan hortikultura serupa dengan yang akan dibangun di kawasan Danau Toba, sehingga menjadi penopang kebutuhan pangan.

Pembangunan ini penting, mengingat Lampung memiliki lahan perkebunan dengan ketinggian 700 kilometer sampai 1.200 kilometer di atas laut. "Pembangunan harus dilakukan secara terintegrasi dan efisien," terang dia.

Sementara, Trans Sumatera diharapkan rampung pada kuartal pertama 2024. Saat ini, sekitar 40 persen pembangunan sudah rampung dan mampu menghubungkan banyak titik di Sumatera.

"Diharapkan, dapat melancarkan konektivitas, mengefisienkan waktu, menghemat biaya, meningkatkan kelancaran logistik, serta menghubungkan banyak kawasan, termasuk kawasan industri, kawasan pariwisata, dan simpul produksi lainnya," ungkap Luhut.