BEM Unila Terus Kawal Demokrasi Walaupun Tak Diakui

Ist
Ist

Walaupun Presiden Mahasiswa BEM Unila, Amiza Rezika (PPKN 2018) dan Wakil Presiden Mahasiswa, Umar Bassam (Ilmu Hukum 2018) tak diakui oleh Unila, namun mereka berkomitmen tetap mengawal demokrasi. 


"Untuk gerakan mahasiswa akan tetap kita akomodir, walaupun tanpa adanya nama BEM yang dibawa. Kita akan tetap menghimpun keresahan mahasiswa, dengan membentuk aliansi," kata Amiza Rezika kepada Kantor Berita RMOLLampung, Senin (11/4). 

Menurutnya, tahapan pemilihan raya (Pemira) yang berlangsung tahun 2021 telah sesuai aturan yang ada. Tapi memang saat itu adanya aturan baru rektor Unila tentang Organisasi Mahasiswa (Ormawa). 

"Panitia khusus sebagai penyelenggara saat itu telah terbentuk sebelum aturan rektor itu dikeluarkan. Jadi setelah dilakukan pertemuan, pelaksanaan Pemira dilaksanakan sesuai jadwal yang telah ditentukan," ujarnya. 

Tahapan Pemira pun berjalan semestinya, hingga terpilih dua pasang calon presiden dan wakil presiden mahasiswa. Saat itu, Amiza Rezika mengaku memperoleh suara lebih tinggi yakni sekitar 2000 suara dari 3000 suara. 

"Saat hasil Pemira diserahkan ke rektorat Unila, mereka tak mengaku karena alasan tidak sesuai dengan aturan rektor itu. Padahal pelaksanaan Pemira itu didanai oleh Unila dan terintegrasi dengan pelaksanaan Pemira fakultas. Nah di universitas ini tidak diakui padahal di fakultas diakui. Jadi kami menganggap terjadi deskriminasi," jelasnya. 

Lanjutnya, pihaknya telah berupaya untuk mencoba dialog dengan pimpinan Unila, namun kata Amiza Rezika, pimpinan Unila tidak mau dan sudah keras dengan pendiriannya. 

"Kita akan tetap berjuang untuk itu.Hari ini kita juga mendapatkan support dari para BEM terdahulu sebagai bentuk simpati ke kita, bahwa demokrasi di Unila akan terus dikawal jangan sampai ada pembungkaman karena kampus sebagai laboratorium intelektual yang seharusnya menjadi tempat tumbuhnya nilai demokrasi," ujarnya.