Ber-Islam Ala Sontoloyo, Gincu, Dan Garam

Dialog Imajiner dengan Sukarno-Hatta (30):Oleh Syafarudin Rahman


Dialog Imajiner dengan Sukarno-Hatta (30):

Oleh Syafarudin Rahman

USAI sholat Jumat kami berempat (Bung Karno, Bung Hatta, Syafarudin dan mahasiswa milenial), kembali bertemu dan duduk di sofa panjang berhadapan dibatasi meja pada sebuah balkon menghadap ke jalan raya dan masjid kampung.

Mahasiswa milenial permisi menghidupkan layar monitor di dinding. Meluncurlah puisi KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, yang kerap muncul pas menyambut datangnya Tahun Baru Islam dan layak direnungkan.

Puisi tersebut berjudul:

Selamat Tahun Baru Kawan.

Selamat Tahun Baru Kawan
Kawan, sudah tahun baru lagi
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk memandang diri sendiri
Bercermin firman Tuhan, sebelum kita dihisab-Nya

Kawan siapakah kita ini sebenarnya?
Muslimkah, mukminin, muttaqin,
kholifah Allah, umat Muhammadkah kita?
Khoirul ummatinkah kita?
Atau kita sama saja dengan makhluk lain atau bahkan lebih rendah lagi
Hanya budak perut dan kelamin
Iman kita kepada Allah dan yang gaib rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan
Lebih pipih dari kain rok perempuan
Betapapun tersiksa, kita khusyuk didepan massa
Dan tiba tiba buas dan binal disaat sendiri bersama-Nya
Syahadat kita rasanya lebih buruk dari bunyi bedug atau pernyataan setia pegawai rendahan saja.
Kosong tak berdaya.

Salat kita rasanya lebih buruk dari senam ibu-ibu
Lebih cepat dari pada menghirup kopi panas dan lebih ramai daripada lamunan 1000 anak muda.

Doa kita sesudahnya justru lebih serius memohon enak hidup di dunia dan bahagia di surga.
Puasa kita rasanya sekadar mengubah jadual makan minum dan saat istirahat, tanpa menggeser acara buat syahwat, ketika datang rasa lapar atau haus.

Kita manggut manggut, ooh...beginikah rasanya dan kita sudah merasa memikirkan saudara saudara kita yang melarat.

Zakat kita jauh lebih berat terasa dibanding tukang becak melepas penghasilanya untuk kupon undian yang sia-sia
Kalaupun terkeluarkan, harapan pun tanpa ukuran upaya-upaya Tuhan menggantinya lipat ganda

Haji kita tak ubahnya tamasya menghibur diri, mencari pengalaman spiritual dan material, membuang uang kecil dan dosa besar.

Lalu pulang membawa label suci asli made in Saudi: haji.

Kawan, lalu bagaimana dan seberapa lama kita bersama-Nya
atau kita justru sibuk menjalankan tugas mengatur bumi seisinya,
mensiasati dunia khalifahnya,

Kawan, tak terasa kita semakin pintar, mungkin kedudukan kita sebagai khalifah mempercepat proses kematangan kita paling tidak kita semakin pintar berdalih

Kita perkosa alam dan lingkungan demi ilmu pengetahuan
Kita berkelahi demi menegakkan kebenaran,mengacau dan menipu demi keselamatan

Memukul, mencaci demi pendidikan
Berbuat semaunya demi kemerdekaan
Tidak berbuat apa apa demi ketenteraman
Membiarkan kemungkaran demi kedamaian pendek kata demi semua yang baik halallah sampai yang tidak baik.

Lalu bagaimana para cendekiawan, seniman, mubaligh dan kiai sebagai penyambung lidah Nabi
Jangan ganggu mereka
Para cendekiawan sedang memikirkan segalanya
Para seniman sedang merenungkan apa saja
Para mubaligh sedang sibuk berteriak kemana-mana
Para kiai sibuk berfatwa dan berdoa
Para pemimpin sedang mengatur semuanya
Biarkan mereka di atas sana
Menikmati dan meratapi nasib dan persoalan mereka sendiri

Berislam ala Sontoloyo, Gincu dan Garam

Milenial : izin Proklamator dan Pak Syafarudin, silakan diminum kopi robusta produksi santri-santri pesantren hidayatuloh. Selamat memasuki tahun baru Islam 1442 Hijriah. Semoga tahun ini kita lebih baik lagi. Aamiin.

Bung Hatta: Milenial, puisi dari penyair dan ustad nahdliyin ini luar biasa dalam.

Bung Karno: Puisi ini sungguh menohok atau nampol kita semua. Tapi bait terakhir kembali pemimpin yang diingatkan. Karya sastra ini selevel karya Hamka. Pas buat bahan renungan.

Syafarudin: Izin Proklamator dan Milenial, puisi di atas mengajak kita merenung sejenak bagaimana cara kita berislam. Sejarah mencatat Proklamator sebelum kemerdekaan sempat mengeluarkan diksi yang aneh dan sempat disalah pahami, yakni Islam ala Sontoloyo, Gincu dan Garam. Bisa dijelaskan.

Bung Hatta: Sekelompok pemuda muslim kala itu membandingkan pemikiran Hatta dengan Muhammad Natsir yang mereka nilai berupaya keras mempromosikan syariah Islam sebagai basis negara. Perbedaan saya dengan Natsir ibarat segelas air di depan saya ini, yang tampaknya begitu bening dan transparan.

Nah, cobalah masukkan setetes gincu dan aduk, warnanya jelas berubah namun rasanya tidak berubah. Tetapi, coba masukkan setengah sendok garam dan kemudian aduk, warnanya tidak akan berubah namun rasanya berubah.

Natsir menganggap Islam seperti gincu, sementara saya menganggap Islam seperti garam. Tanamkan Islam di dalam hati pemuda-pemuda dan mereka akan membereskan seluruh negeri ini. Pakailah filsafat garam, tak tampak tapi terasa. Janganlah pakai filsafat gincu, tampak tapi tak terasa.

Milenial : Lalu apa pula yang dimaksud dengan diksi Islam Sontoloyo, yang Proklamator tulis tahun 1940 di Majalah Panji Islam dan buku Di Bawah Bendera Revolusi?

Bung Karno: Artikelku itu lahir dari keprihatinan terhadap orang yang melakukan perbuatan terceladengan dalil agama. suratkabar Pemandangan, 8 April 1940, memuat berita kriminal yang bikin getir pembaca . “Seorang guru agama dijebloskan ke dalam bui tahanan karena memperkosa salah seorang muridnya yang masih gadis kecil,” demikian isi berita itu.

Modus operandi si guru cabul. Kepada murid-muridnya, sang guru mengaku pernah berbicara dengan Nabi Muhammad SAW. Dia mengajarkan untuk berzikir sejak magrib hingga subuh supaya dosa-dosa diampuni. Laki-laki dan perempuan wajib dipisah karena belum muhrim. Di sinilah akal bulus sang guru. Agar murid perempuan bisa diajar, mereka harus dinikahi terlebih dahulu. Karena sudah halal dan sah, demikianlah gadis-gadis malang itu dipikat dan dirusak oleh si guru bejat.

Sungguh kalau reportase di suratkabar. Pemandangan itu benar, maka benar-benarlah disini kita melihat Islam Sontoloyo. Sesuatu perbuatan dosa dihalalkan menurut hukum fiqh.

Aku merujuk pada oknum yang menyimpang, bukan agamanya. Aku terangkan dalam artikel itu banyak sekali orang yang menyebutkan dirinya Islam, tetapi dia sebetulnya itu sontoloyo.

Sekarang syukur alhamdulillah orang mengerti. Yang saya maksudkan ialah bahwa Islam itu agama tidak beku, yang beku ialah manusia-manusianya.

Milenial : Izin Proklamator dan Pak Syafarudin, di zaman sekarang framming atau memenggal informasi menjadi tidak utuh dan dijadikan senjata para hatters di sosial media untuk melakukan pembunuhan karakter seseorang.

Syafarudin: Betul milenial. Oleh karena itu izin Proklamator. Biasakan kita baca informasi yang utuh dan upayakan coverboth side atau dari dua sisi. Juga yang penting konfirmasi dari sumber awal.
Milenial : Betul Pak Syafarudin, setelah utuh dipahami mereka yang awalnya dibully malah makin terkenal dan dikagumi, seperti Bung Hatta ikut mencoret tujuh kata dalam piagam jakarta.

Sejarah mencatat Hatta ingin agar nilai-nilai Islam dapat menggarami kehidupan budaya bangsa, hingga akhlak mulia dan keadilan dapat ditegakkan secara nyata. Islam tidak mesti ditunjukkan via simbol-simbol, tapi dapat juga disubstansialisasikan dalam konteks berbangsa dan bernegara.

“Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluknya”. Sila pertama itu kemudian diubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Perubahan itu awalnya melahirkan reaksi keras dari kalangan Islam. Sosok tertuduh sebagai aktor intelektual dibalik perubahan itu adalah Hatta sendiri. Ia sepertinya tidak berpihak pada kepentingan Islam. Namun jika dicermati secara jeli, Hatta termasuk sosok yang memahami peta sosiologis dan antropologis bangsa Indonesia.

Akhirnya, menurut Muhammad Qorib bahwa keputusan Hatta itu dapat diterima berbagai pihak. Hatta seorang negarawan yang cukup arif. Ia tidak hendak memisahkan Islam dari kehidupan bangsa Indonesia dengan dihapusnya kata itu. Hatta justru melihat bahwa spirit Piagam Jakarta tetap terkandung dalam sila pertama Pancasila “Ketuhanan Yang Maha Esa”, meskipun kata syari’at Islam tidak dicantumkan di situ. Hatta mengedepankan substansi dan menyimpan simbol jika simbol pada akhirnya melahirkan ketidakharmonisan horizontal.

Pencoretan tujuh perkataan dalam Piagam Jakarta itu memiliki makna historis yang dalam. Menurut Mohammad Roem, umat Islam memberikan pengorbanan yang cukup besar untuk bangsa Indonesia. Roem juga mengemukakan pandangan Alamsyah Ratu Perwira Negara yang menyebut Pancasila sebagai hadiah terbesar yang diberikan umat Islam kepada Republik Indonesia. Karena itu, bangsa ini tidak boleh melupakan jasa besar yang sudah diberikan umat Islam terhadap pembentukan dasar negara.

Syafarudin: Maaf, izin Proklamator dan milenial. Kita mesti bubar dulu karena mendekati waktu Ashar. Pekan depan insha Alloh kita dialog kembali . Terima kasih. Wassalamualaikum, warrohmatullohi wabarakatuh.

* Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung