Budaya 'Bar-Bar' Harus Dituntaskan


RMOL - Aksi pengrusakan massa yang melibatkan ratusan masyarakat Desa Negara Batin Jabung tak ubahnya budaya barbarisme. Hal ini diakibatkan lemahnya pendidikan kesadaran dan ketaatan hukum masyarakat. Hal ini dikatakan DR Budi Kustoro, staf Pengajar Universitas Lampung (Unila) kepada RMOL Lampung (18/3).
"Kalau kesadaran dan ketaatan akan hukum masyarakat kita tinggi, tak mungkin terjadi pengrusakan pos keamanan, dan pembakaran dua sepeda motor  di PT Austasia Stockfeed,"ujar Budi.
Dikatakan, dirinya sepakat dengan peneliti LIPI Siti Juhro, bahwa gejala perpecahan bangsa sedang dirajut oleh kelompok-kelompok tertentu yang tidak ingin Indonesia kuat dan kokoh sebagai negara.
Budi berharap, instrumen pembinaan dan ketertiban disetiap elemen pemerintahan harus intensif.  "Kerusuhan Lamtim itu kan sepele. Mansyur Syah diamankan petugas karena diduga memalsukan surat keterangan tanah (SKT) milik PT Austasia Stockfeed. Pertanyaannya, kenapa rakyat harus marah. Toh kita semua sama dihadapan hukum. Oleh karena itu, aparatpun harus profesional, jangan lama penanganannya. Agar tidak terbangun kesan yang negatif,"kata Budi yang konsen di ilmu Tekhnologi Pendidikan KIP Unila ini.
"Kedekatan TNI/Polri-masyarakat harus mampu membangun kesadaran dalam bernegara. Kalau itu tidak dilakukan akan berbahaya. Demikian pula peran pemerintah daerah melalui forum komunikasi antar tokoh agama yang ada,"kata Budi.
Budi mengingatkan, Kapolri Jend. Tito Karnavian tegas menyatakan jika Polri harus dekat tokoh masyarakat, baik tokoh agama, pemuda dan lainnya.  "Polri harus dekat dengan pemuka dan tokoh agama. Karena saya percaya, tokoh agama bisa meredam seluruh persoalan yang muncul di tengah masyarakat,"ujar Budi.[putri]