Buntut Tewasnya Napi Anak, Kalapas dan Tiga Sipir LPKA di Lampung Dinonaktifkan

Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkum HAM Lampung Farid Junaedi/istimewa
Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkum HAM Lampung Farid Junaedi/istimewa

Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Lampung mencopot Sambiyo, Kepala Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Bandar Lampung yang berada di Tegineneng, Pesawaran.


Sambiyo dicopot buntut tewasnya seorang narapidana anak tewas bernama Rio Febrian (17) warga Langkapura, Bandar Lampung. 

Rio Febrian dianiaya sesama penghuni lapas hingga akhirnya meninggal dunia di RS Ahmad Yani Metro pada Selasa 12 Juli 2022.

Jabatan Sambiyo digantikan oleh Mulyani sebagai Plh (Pelaksana Harian). Sementara Sambiyo ditarik ke Kanwil Kemenkumham Lampung. 

"Kejadian ini tentu akan menjadi bahan evaluasi kami. Bukan hanya di Lapas Kelas II Bandar Lampung, tetapi di seluruh lapas yang ada di Lampung," kata Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkum HAM Lampung Farid Junaedi, Sabtu (23/7).

Farid menambahkan, pihaknya juga menonaktifkan tiga orang sipir yang diduga bertanggungjawab atas insiden penganiayaan hingga menyebabkan Rio Febrian meninggal dunia.

"Kami tidak ada tebang pilih dan kami coba telusuri terus dengan berkoordinasi dengan Polda Lampung terkait penyidikan," kata dia lagi. 

Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Lampung menetapkan empat orang tersangka penganiayaan hingga tewasnya Rio Febrian. 

Mereka adalah, IA (17) warga Tanggamus, NP (16) warga Bandar Lampung, RB (17) warga Lampung Utara, BS (17) warga Way Kanan.