Buruh Migran Asal Tanggamus Mencari Keadilan, Putrinya Hamil 5 Bulan Diperkosa Kakek Kandung 

Illustrasi/RMOLNetwork
Illustrasi/RMOLNetwork

Seorang buruh migran asal Kabupaten Tanggamus yang kini masih di Taiwan berusaha mencari keadilan untuk putrinya yang tengah hamil 5 bulan akibat diperkosa oleh kakek kandungnya dari pihak ayah. 


Lewat Solidaritas Perempuan Sebay Lampung, ia meminta agar anaknya, W (22) mendapatkan pendampingan baik hukum maupun psikologis karena merasa sangat terpukul. Terlebih, W adalah disabilitas tuna wicara. 

Ketua Sebay Lampung Armayati Sanusi mengatakan, pihaknya mendapat telpon dari ibu korban menggunakan nomor telepon Taiwan 17 Februari lalu untuk menjelaskan kronologi kejadian. 

Setelah itu, Armayati melanjutkan, pihaknya mendatangi kediaman korban di Tanggamus 23 Februari lalu. Sebay Lampung disambut langsung oleh W dan nenek korban yang sudah renta. 

"Dengan menggunakan bahasa isyarat W dibantu oleh neneknya untuk menterjemahkan bahasa isyarat WSuntuk menjelaskan kronologi kejadian kepada kami," kata Armayati, Jumat (25/2).

Menurut Armayati, W bercerita peristiwa terjadi pada Bulan September 2021. W dijemput kakeknya dan diminta datang ke rumah kakek untuk membersihkan rumah. 

Sang kakek sempat membelikannya makanan sebelum akhirnya memperkosa W. W sudah berusaha melawan dengan menendang dan memukul tapi tidak berhasil. 

"W mengaku malu, neneknya menangis, semua menangis tapi kakeknya masih suka berkeliaran lewat di depan rumah. W ingin pelaku dibawa ke pihak kepolisian,” jelas Armayati. 

Kejadian itu awalnya tidak diketahui pihak keluarga karena W memilih diam dan menghindari pelaku. Namun, ketika perut W mulai membesar, nenek W merasa curiga dengan perubahan fisik itu dan memeriksakan ke bidan. 

Barulah diketahui kehamilan itu sudah lima bulan pada awal Februari 2022. Akhirnya kejadian ini dilaporkan ke Pemerintah Pekon atau Desa setempat. Laporan telah diproses dan pelaku juga sudah mengakui perbuatannya sebagai tindak asusila. 

"Pelaku bersedia mempertanggung jawabkan perbuatannya, namun menurut kami itu adalah pengakuan tidak benar. Ini bukan tindak asusila tetapi dugaan kekerasan seksual dan pemerkosaan," jelasnya. 

Kemudian, ayah kandung W malah menjodohkan W dengan pria lain yang belum dikenalnya dengan dalih menjaga nama baik keluarga dan nama baik korban. Hal ini sangat disayangkan Solidaritas Perempuan Sebay Lampung. 

"Kami akan mendampingi korban baik litigasi dan non litigasi untuk mencari keadilan bagi W serta melakukan penguatan dan pemulihan trauma korban keluarga migran tersebut," pungkasnya.