Catatan Akhir Tahun Ngopii 2021: Covid-19, Kapitalisme dan Sosialisme

In'amul Mushofa, penulis dan peneliti Pustaka Peradaban Malang/ Repro
In'amul Mushofa, penulis dan peneliti Pustaka Peradaban Malang/ Repro

Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Komisariat Ekonomi Universitas Lampung kembali mengadakan Ngobrol Perkara Iman dan Imun (Ngopii) Edisi 24 Jumat (24/12) malam. 


Jelang berakhirnya tahun 2021, Ngopii kali ini membahas Catatan Akhir Tahun Ngopii 2021: Covid-19, Kapitalisme dan Sosialisme dengan narasumber In'amul Mushofa, penulis dan peneliti Pustaka Peradaban Malang. 

Diskusi kali ini tetap dipandu host keroyokan yakni Petir, Oza, Usep, Fitra dan Idris serta dipandu moderator Agung Wihandoko. 

In'amul mengatakan kasus konfirmasi COVID-19 dunia mencapai angka 278.549.851. Di mana, 5.401.295 di antaranya meninggal dunia dan 249.295.665 dinyatakan sembuh. 

Dalam bukunya yang berjudul sama dengan pembahasan ini, In'amul mengatakan banyak konspirasi ketika virus Covid-19 ditemukan. Banyak spekulasi baik ilmiah maupun tidak soal ini. 

Mulai dari yang percaya dan tidak percaya, adanya anggapan kebocoran hasil uji laboratorium hingga menyalahkan perdagangan satwa liar di Wuhan, China sebagai lokasi awal virus ini ditemukan. 

Padahal, menurutnya, ada pendapat ekologis yang lebih masuk akal. Menurut pendapat ini, manusia tak henti merusak bumi. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) PBB juga hanya ajang seremoni tanpa dampak berarti. 

"Karena itu, wabah Covid-19 menjadi cara bumi memulihkan dirinya. Hal ini diperkuat dengan bukti wabah ini sudah membersihkan udara di China dan kota metropolis di Eropa dan Amerika akibat berhentinya aktivitas keseharian manusia," kata dia. 

Namun, teori-teori yang ada belumlah memadai. Diperlukan analisis struktural dan holistik agar wabah ini dapat dipahami. Bukan hanya dalam dimensi ilmu alam, melainkan ilmu sosial khususnya tentang sistem ekonomi. 

Ia melanjutkan, ada perbedaan kebijakan negara dalam menyikapi virus ini. Negara kapitalis cenderung tidak lockdown dan melindungi investasi dan tidak memenuhi kebutuhan dasar warga ketika karantina. 

Selanjutnya, pembukaan PSBB demi investasi dan privatisasi layanan kesehatan. Sementara, negara sosialis cenderung sebaliknya. Mereka menerapkan lockdown total dan melindungi warganya. 

"Memenuhi kebutuhan dasar warga ketika karantina dan nasionalisasi dan sosialisasi layanan kesehatan," sambungnya.