Catatan Akhir Buat Adik Sekaligus Kawan Berpikir Syafarudin, S.Sos, MA

Syafarudin Rahman, S.Sos, MA/Net
Syafarudin Rahman, S.Sos, MA/Net

SEHABIS salat subuh, saya buka telepon genggam untuk melihat berbagai kabar via whatsapp. Saya terkejut, Bang Anshori Djausal mengabarkan berpulangnya Syafarudin Rahman, S.Sos, MA.

Innalilahiwainnalilahirojiun, Syafarudin adalah adik sekaligus teman berpikir dan berkarya kami berdua sejak puluhan tahun lalu. Walau lebih muda, gagasannya kerap menjadi motor semangat kami.

Tiga hari lalu, dosen FISIP Unila kelahiran Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara, 13 Januari 1973, kami masih saling sapa dan sedikit berguyon di-hack-nya dan naiknya rangking Alexa Web Kantor Berita RMOLLampung.

Jenazah Syafarudin saat dibawa ke masjid tempatnya selalu salat berjamaan dekat rumahnya/RMOLLampung

Mantan aktivis media mahasiswa Teknokra Unila ini, walau stroke sejak beberapa tahun ini, kreativitasnya masih liar, analisisnya masih tajam, dan tulisan-tulisannya selalu mengikuti perkembangan. 

Sang isteri setia menemaninya untuk membawa kendaraan, menuntun, hingga menyiapkan tulisan-tulisan, karya-karyanya. Keterbatasan fisik disulam telaten oleh kesetiaan sang isteri.

Saya beri ketua Laboratorium Politik Lokal dan Otonomi Daerah (Labpolida) JIP FISIP Unila itu rubrik khusus di Web Kantor Berita RMOLLampung untuk menumpahkan ketajamannya analisisnya lewat rubrik "Pojok Syafarudin".

Postingan FB Syafarudin terakhir berupa foto dirinya dan keluarga/Net

Setiap akhir pekan, alumni FISIP Unila dan Universitas Gajah Mada (UGM) ini mengirim artikel yang berisi berbagai fenomena sosial dan politik lewat dialog imajinernya dengan "Dua Bapak Bangsa" Soekarno-Hatta. 

Dalam setiap pembuka tulisannya, suami Thina Andrianti ini selalu mengawali obrolan imajinernya dengan kedua Proklamator RI dan seorang melenial seusai salah subuh berjamaah di balkon dekat masjid seputaran Istana Merdeka.

Setelah sekian bulan tanpa jeda, tiba-tiba, bapak dua putra dan satu putri ini "hilang" tak ada kabar berita jelang Pilkada Serentak 2020. Saat saya butuh pandangannya kritisnya tentang suksesi, Syafarudin malah "raib".

Dia tak hanya berhenti menulis tapi juga tak pernah lagi berdiskusi di grup WA RMOLLampung. Saya akhirnya menyapa sang mantan staf ahli gubernur dan wali kota ini khawatir ada apa-apa.

Istri dan ketiga anaknya usai pemakaman/RMOLLampung

Ternyata, dari jawabannya, tak ada masalah. Dia tak menceritakan tentang dirinya. Syafarudin hanya beralasan tak mau cawe-cawe lewat berbagai sudut pandangnya selama Pilkada Serentak 2020. 

Saya hormati keputusannya sama dengan keputusannya meminta tulisan opini saya tentang uniknya Bangsa Indonesia menyambut kedatangan pandemi Covid-19 dan bahkan ditempatinya menjadi artikel pertama Buku Covid-19 dan Disrupsi bersama banyak penulis lainnya, antara lain mantan Presiden Bambang Susilo Yudhoyono (SBY).

Sebelum bukunya terbit, dia mengatakan buku tersebut diharapkannya dapat menjadi catatan kapsul waktu pandemi Covid-19. Suatu saat, anak cucu kita punya potret masa wabah luar biasa ini. Ternyara, buku itu menjadi catatan akhirnya.

Hal itu juga yang pernah dilakukannya pada waktu Reformasi 1998. Syafarudin mendokumentasikan peristiwa bersejarah tersebut dalam dua buku yang memotret denyutnya di Lampung. Masih banyak lagi karya-karya.

Alloh SWT punya kehendak lain terhadapnya. Tulisan "Pojok Syafarudin", saya tutup dengan tulisan ini sebagai penghargaan terhadap persahabatan kami puluhan tahun. 

Serangan jantung jadi sunatullah dari Sang Maha Kuasa untuk memanggilnya pulang dari kediamanmu di tengah perkampungan Candimas, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Selasa (19/1), pukul 01.30 WIB. 

Masih banyak gagasanmu yang belum sempat teralisasi. Tapi, Alloh SWT telah memanggilmu.

Selamat jalan adinda, sahabat kritis yang tak pernah marah kepada siapapun, humoris, rajin ibadah, santun, dan selalu moncer di ruang-ruang seminar dan akademik dalam memaparkan berbagai analisa akademik dan gagasannya.

Keluarga, kerabat, sahabat, dan civitas akademika kehilangan dosen yang selalu berada di tengah isu masyarakat. Engkau peluruh menara gadingnya kampus, teladan civitas akademika, idola para mahasiswa. Semua yang kenal siap jadi saksi dirimu orang baik.

Kelak, saya juga akan bersaksi kamu orang yang sangat baik, Din!

*Pimred RMOLLampung