Ciri Penyelenggara Pemilu Yang Berintegritas Versi Bawaslu

Komisioner Bawaslu Lampung, Iskardo P Panggar mengatakan demokrasi di negeri ini masih butuh pematangan. Sehingga, masih banyak beban dan tugas-tugas yang harus diselesaikan.


"Demokrasi kita baru berlangsung 21 tahun lebih (Reformasi 1998), sehingga masih perlu pematangan. Proses pematangan ini butuh waktu, dan ternyata beberapa pihak mulai capek dengan proses pematangan ini. Padahal baru 21 tahun lebih," ujarnya dalam Dialog Demokrasi Penyelenggara Berintegritas, Pilkada Berkualitas, di Doesoen Coffee di Bandarlampung, Kamis (20/2).

Ibarat lagu Indonesia Raya, Bangunlah badannya bangunlah jiwanya. "Kita memaknai bangunlah badannya adalah inflastruktur sedangkan jiwanya adalah demokrasi, jadi kita punya kewajiban untuk mematangkan proses demokrasi, ini PR bersama," jelasnya.

Tambahnya, penyelenggara pemilu harus paham kode etik dan hukum, bicara etik itu kaitannya dengan Luberjurdil. Prinsip ini bukan hanya penyelenggara saja tapi juga peserta dan masyarakat.

"Tahun 2018 kebawah, kita termasuk provinsi ke dua tingkat money politik terbesar. Ini menjadi tamparan yang luar biasa untuk kita. Nih ini perlu pematangan, bukan saling menyalahkan. Ini penyelenggaranya tidak benar, kontestanya tidak benar, masyarakat juga perlu kita edukasi," ujarnya.

Berkiatan dengan tema diskusi, menurutnya integritas memiliki arti yang luas seperti jujur, mandiri tanpa intervensi, adil atau setara.

"Ciri-ciri penyelenggara yang berintergritas itu sederhana. Cirinya HPnya tidak ganti nomor HP, yang kedua HPnya harus aktif 24 jam karena dia adalah pelayan publik. Akuntabilitas atau bertanggung jawab dan professional," jelasnya.