Covid-19, Affan Nilai DPRD Takut Nyoal Ketidakbecusan Arinal

Nizar Affan/Foto Ist
Nizar Affan/Foto Ist

Nizar Affandi melihat DPRD Lampung sepertinya penakut ajukan hak bertanya, interpelasi, angket, maupun hak menyatakan pendapat atas indikasi ketidakbecusan Gubernur Arinal Djunaidi tangani pandemi Covid-19.


Hal itu dikatakan Ketua MKGR Lampung itu lewat relis yang dikirimnya ke Kantor Berita RMOLLampung, Kamis (19/11). Ketidakbecusan dan kesembronoan itu membahayakan keselamatan rakyat, ujarnya.

"Sampai kapan DPRD Provinsi Lampung akan bisu? Tidak adakah fraksi dan partai yg tergerak nuraninya untuk sekedar memanggil dan meminta penjelasan langsung dari Gubernur Arinal?" tanyanya.

Apa masih mau menunggu catatan kematian dalam sehari naik berkali lipat lagi? Selama 8 bulan pandemi, ada 5 provinsi yang jumlah kematiannya di bawah 25 orang, bahkan 4 provinsi masih di bawah 20 orang. Di Lampung, 25 orang itu wafat dalam sehari.

"Entah disengaja atau tidak oleh satgas provinsi, tgl 18 November kemarin data pertambahan kasus positif, sembuh dan wafat di Lampung tidak diupdate ke website satgas pusat," ujarnya.

Sebenarnya data pertambahan kasus positif selama sehari kemarin tidak terlalu mengejutkan, bertambah 63 orang. Yang menyedihkan, humlah kematiannya, dalam sehari kemarin wafat sebanyak 25 orang. 

"Dugaan saya, ini konsekuensi dari minimnya ketersediaan ruang isolasi apalagi ruang perawatan intensif di RS-RS Rujukan di Lampung, sesuatu yg sudah berkali-kali saya ingatkan dalam tulisan sejak awal pandemi," kata Affan.

Dari kejadian ini (apalagi naudzubillahi min zalik masih terus berlanjut), Pemerintah Provinsi Lampung nyata-nyata telah gagal menjalankan 3 T (test, tracing, treatment).

Dan, katanya, orang yang paling bertanggungjawab atas kegagalan ini tentu Gubernur Arinal. Dia minta penjelasan langsung kepala daerah di ruang publik, jangan bersembunyi terus di balik para juru bicara satgas. 

Bahkan, Affan menatang jika Gubernur Arinal keberatan dengan pernyataannya, silakan debat terbuka di ruang publik dan yg disandingkan adalah data-data lapangan yg empirik. "Insha Allah dgn suka cita saya akan hadir dan menikmati perdebatannya," katanya.

Pembenahan di internal Satgas pun nggak dilakukan, ibarat sepakbola mestinya setelah 8 bulan dihajar habis-habisan oleh corona ya jangan takut ganti pemain, kata Affan.

"OPD terkait tidak becus, jangan tunggu sampai pensiun baru diganti. Lama-lama, publik akan bilang pelatih timnya ini yang memang nggak punya passion untuk memenangkan pertandingan atau nggak punya kapasitas alias nggak becus," tandasnya.

Dipaparkan pengamat sosial tersebut, sejak Maret sudah jelas, urusan 3 M menjadi kewajiban masyarakat (termasuk ormas dan NGO) sedangkan urusan 3 T kewajiban pemerintah.

Alih-alih mengurus 3 T (test, tracing, treatment), Pemprov Lampung malah sibuk mengurus 3 M (menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak) dan rekaman lagu.

"Mungkin kegeeran merasa lebih banyak punya fans fanatik daripada penyanyi beneran," ujar kader Golkar Lampung yang sempat menjadi panitia uji kompetensi calon kepala daerah.

Menurut dia, Arinal mesti segera sholat taubat dan minta maaf kepada rakyat Lampung karena bisa jadi sikapnya yang sombong, menganggap remeh bahaya penyebaran virus Covid-19, eskalasi pandemi melonjak tajam di Lampung.

Pada 16 September lalu, Arinal mengklaim sebagai juara penanganan pandemi dan mengajak masyarakat menganggap coronavirus tidak ada dan kalau ada diinjak-injak saja.

Saat itu, kasus positif daerah ini baru 666 orang dengan tingkat kesembuhan 61% dan jumlah kematian 25 orang. Sampai kemarin, naik lebih dari 4 kali lipat jadi 2.766 kasus dgn tingkat kesembuhan terburuk kedua setelah Papua.

Angka kematian sudah 110 orang dan kasus aktif mencapai 1.133 orang sampai-sampai semua ruang isolasi dan perawatan di RS-RS rujukan terisi penuh.

Di saat secara nasional laju pertumbuhan kasus melambat, tingkat kesembuhan meningkat, persentase angka kematian menurun dan persentase kasus aktif berkurang lebih dari separuh, di Lampung justru sebaliknya. 

"Alhamdulillah, belakangan beliau sepertinya sudah lebih tahu diri, sudah agak lama nggak mengulang-ulang klaim terbaik menangani pandemi, nggak seperti sebelum-sebelumnya selalu disampaikan dalam semua kesempatan berbicara," kata Affan.