Dari Atas Gunung, Kopi Lampung Segarkan Festival Kopi Nasional 2020


SETELAH sukses Festival Kopi Nusantara (FKN) 2019 di Kota Tua Jakarta, Kantor Perwakilan Bank Indonesia DKI Jakarta kembali menghelat secara virtual FKN 2020, 5 hingga 7 November 2020.

Menyaji tema “Maju Bersama Kopi Nusantara”, FKN 2020 menampilkan produk kopi terbaik yang ditanam oleh petani kopi binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia sepenjuru Nusantara.

Warga Lampung patut bangga ada tiga merek produk kopi olahan lengkap dengan profil singkat, serta video dari ketiga produk kopi Lampung itu, yakni DR. Koffie, Kopi Kolang, dan Kopi Sekincau.

DR. Koffie

M Alghazali Qurtubi ingin ikut pengembangan memodernisasi produk kopi Lampung. Dengan label Dr. Koffie, dia berusaha memberikan nilai tambah terhadap kopi lewat proses pascapanennya.

Dari markasnya, Jl. Pagar Alam No. 44 (Gang PU), Kedaton, Kota Bandarlampung, sejak tahun 2014, DR. Koffie mengubah konsep bisnis menjadi kedai kopi dan roastery sejak 2015 hingga kini.

Kopinya dari varietas Robusta Lengkong dengan nama Kopi Robusta Ulu Belu Honey dari Kabupaten Tanggamus yang memiliki ketinggian lahan tanam 1.050 DPL. 

Kopi Kolang

Kopi Kolang membidik kopi asal Kabupaten Waykanan, satu dari tiga daerah utama produsen kopi robusta di Lampung yang dikenal dunia dengan kopi “fine robustanya”. 

Dari wilayah inilah, Koperasi Kolang Mutiara Siger yang dimotori oleh Sepna Abdi Saputra, hadir sebagai salah satu produsen kopi robusta unggulan dengan produknya green bean, roast bean dan kopi bubuk.

"Produk Kolang atau Kopi Talang diolah dari biji kopi robusta terbaik, di antaranya Varietas Robusta Tugu Hijau, ditanam pada ketinggian 400-700 mdpl di Gunung Lereng Bukit Duduk Kabupaten Waykanan," infonya.

Produk kopi ini berkualitas premium, memiliki aroma dan cita rasa yang khas yaitu gula aren, sehingga kopi dapat dinikmati tanpa menggunakan gula atau pemanis lainnya.

Sang peracik, Koperasi Kolang Mutiara Siger ini baru tahun 2019 lalu berdiri lho kopilovers. Dengan cita-cita mulia, ingin mensejahterakan petani kopi dengan meningkatkan harga kopi di tingkat petani.

Budidaya dilakukan secara intensif yaitu mempertahankan tanaman keras sekitar perkerbunan, agar cita rasa kopi terjaga serta lahan kebun sebagai penyedia oksigen bagi warga sekitar. 

Petani juga beralih dari penggunaan pupuk kimia menjadi pupuk organik. Untuk tujuan pasar tertentu, petani telah melakukan pemetikan buah kopi dengan tingkat kematangan di atas 90% (petik merah), dilanjut penyortiran untuk memperoleh 100% ceri merah.

Secara umum produksi dilakukan secara natural dengan sistem dan prosedur teknis pengolahan terbaik, untuk memberikan keragaman dan keunikan cita rasa Kopi Kolang.

Beruntung, "barista" Koperasi Kolang Mutiara Siger, Sepna Abdi Saputra, juga berhasil dikonfirmasi. Darinya diketahui, sebelum resmi berbadan hukum koperasi tahun lalu, usaha ini masih berbentuk UKM, sejak 2018.

"2018 itu bulan 4 tanggal 22 UKM Kopi Talang (Kolang)-nya kemudian 2019 koperasi Kolang Mutiara Siger di bulan Maret tanggal 29," jawab Sepna Abdi, pukul 18.35 WIB, Selasa petang, lewat pesan singkat.

Mantap Pak. Kan jarang nih, terpilih dari sekian banyak, perasaannya bisa jadi binaan Bank Indonesia hingga sejauh ini?

"Ya, semoga ini untuk langkah kemajuan kami sebagai petani kopi di daerah. Yang selama ini kami tertinggal dari daerah lain," sahut dia 10 menit berselang, bikin adrenalin berpilin. Jawaban penuh keadaban, entahlah, singsing berjuta harapan. 

Kopi Sekincau

Sekincau, nama "surga kecil" nan wow dari belahan barat Lampung dan kerap viral kembali memesonakan. Wadidaw.

Ialah Koperasi Petani Kopi Agro Panca Bhakti, produsen produk kopi olahan yang kemudian dilabeli merek dagang “KPK Sekincau Coffee”, singkatan dari Koperasi Petani Kopi Sekincau, simpel disebut Kopi Sekincau.

Koperasi di Jl Kebas Lap. Nomor 663, Sekincau, Kabupaten Lampung Barat, berdiri 23 Oktober 1998 ini, dipimpin Abdul Charis, dan beranggotakan para petani kopi dataran tinggi disana.

Produk kopi yang dihasilkan, Green Bean dan kopi bubuk Robusta dengan berbagai variasi proses yaitu Presiden, Premium, Fullwash, Semiwash, Honey, Lanang, dan Wine.

"Produk unggulan koperasi adalah Kopi Robusta yang dihasilkan dari tanaman yang tumbuh di ketinggian 1.000 hingga 1.400 mdpl. Terbuat dari 100% biji kopi pilihan hingga menghasilkan citas rasa yang unik, memiliki rasa buah/fruity, sedikit asam sebagaimana jenis Kopi Arabica namun tetap nyaman di lambung," rinci infonya.

Empat produk sesuai pemrosesannya, satu produk kopi dengan wine process, membutuhkan proses fermentasi selama 35 hari dengan interval tujuh hari sekali dikeringkan dengan air.

"Pengeringan dilakukan secara alami. Dijemur di bawah terik matahari yang nantinya kulit kopi akan terkelupas dan jadi green bean. Selanjutnya, proses sortasi dilakukan untuk memisahkan antara biji kopi yang rusak dan layak."

Sementara, full washed process butuh proses fermentasi selama 48 jam demi menjaga kemurnian kopi dan kualitas yang tak diragukan.

Lalu, Kopi Lanang, atau Kopi Peaberry, biji kopi pascapanen yang mengalami anomali atau kelainan. Meski terlihat “tidak normal”, biji Kopi Lanang miliki cita rasa istimewa untuk dinikmati.

Dan, Natural Roast Bean Medium, kesempurnaan biji kopi merah dengan 35 hari pengeringan, menghasilkan aroma nan melekat serta ketenangan.

"Malam Pak Abdul Charis. Kebetulan, lagi buat artikel soal Festival Kopi Nusantara 2020. Dapat kontak Bapak juga dari situ. Video kerennya pun saya tonton habis. Boleh nanya, berdiri 23 Oktober 1998 kan ya, 22 tahun lalu. Nah sampai sekarang udah banyak dong anggotanya? Boleh tahu Pak?"

Ikut penasaran membaca kesan awal pria paruh baya ini, baru kenal sontak diberondong tanya, jawaban demi jawabannya buat menganga. Nyala! 

"Assalamualaikum mas... Betul Abdul Charis," balas dia, pukul 19.34.

Delapan menit berlalu, "Memang berdirinya sejak 1998 tapi sempat vakum beberapa tahun. Sampai pada tahun 2013 saya diminta untuk menghidupkan kembali Koperasi Petani Kopi Agro Panca Bhakti ini," dia menguak fakta. 15 tahun mati suri.

"Alhamdulillah selama 2 tahun (2015) anggota baru 7 orang saking sulitnya ngajak teman berkoperasi, karena saya mengajaknya untuk bekerja bukan cari bantuan. Awal 2016 RAT (Rapat Anggota Tahunan) yang ke-3 baru kami dapat tambahan anggota setelah tiga tahun mencoba eksis," tuturnya.

Melanjutkan, "Sampai saat ini anggota koperasi ada 48 orang mas dan semuanya petani kopi (gak ada yang bos kopi hehe)," sang coffeepreneur, Abdul Charis menyelia canda seger. 

Sudah tembus pasar ekspor-kah? Jika sudah, ke negara mana aja Pak? "Belum mas mohon doanya mudah-mudahan segera menuju kesana," jujurnya, pintanya.

Dasar keren, dia menambahkan, bulan ini juga Insya Allah ikut ajang festival virtual serupa di Beijing dan Singapura. 

"Kalau bisa tembus kan bisa mewakili Lampung tercinta pertama kali koperasi melakukan ekspor kopi dari Lampung," asa Abdul Charis. Aamiin!

Ibarat turut merepresentasikan geliat masyarakat perkopian Lampung yang lain, tepat apa yang pernah diutarakan tokoh nasional asal Lampung, kini selain Ketum IKAL Lemhanas juga salah satu pembina dari Dewan Kopi Indonesia, Nuril Hakim Yohansyah.

Bekas Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Lampung 1985-2005, Waketum AEKI, Stafsus Menteri LHK era Kabinet Kerja yang selalu dukung penuh setiap ikhtiar pengusaha kopi merangkul petani kopi lokal Lampung itu pernah bilang bahwa Presiden ke-5 Indonesia, Megawati Soekarnoputeri saat masih menjabat pernah menyebut Lampung ialah etalase kopi robusta.

Selain asal Lampung, produk klaster UMKM Bank Indonesia lainnya regional Sumatera yaitu Bawadi Coffee, ASA Coffee Lhokseumawe (Nangroe Aceh Darussalam), lalu Kopi Arabika Sipirok Sibolga, Aloya Coffee Kopi Gayo, Kopi Cibang Sinabung, Drip Coffee, dan Maga Coffee (Sumatera Utara). 

Berikut, Kopi Pak Datuak, Kopi Solok Radjo, SAMs Coffee, dan Minang Talua (Sumatera Barat), Bermani Kopi, Kopi Lestari (Bengkulu), dan D_Jangkat Sungai Tenang (Jambi).

Dari Jawa, Kopi Kailasa Banjarnegara, Purwokerto (Jawa Tengah), dan Ledug Coffee, Malang (Jawa Timur).

Region Kalimantan-Sulawesi, Liberika Kayong Utara (Kalimantan Barat), Kopi Cap Maraddia, Kampoeng Mamasa Matande, Kopi Mamasa West Celebes Poki Cahaya Abadi (Sulawesi Barat), Arabica Leluhur Sapan, Natural Black Mountain, Toraja Arabica Sapan (Sulawesi Selatan), Elmonts Arabica Minahasa Koya, dan Robusta Gunung Ambang (Sulawesi Utara).

Dari region Balinusra, Arabica Kopi Kintamani (Bali), Berkah Alam Coffee, Kopi Punik Sumbawa, dan ORI Coffee Robusta (Nusa Tenggara Barat), dan asal Nusa Tenggara Timur, ada merek Arabica Flores Bajawa. 

Tiba di penutup nih kopilovers. Boleh jadi sejak abad ke-8 saat Khaldi, salah seorang penggembala kambing di dataran tinggi Ethiopia, yang konon senantiasa nongol dalam ceritera sejarah penemuan pertama tanaman kopi planet Bumi, dia tiada pernah --sama sekali-- menerawang betapa tanaman temuannya itu bakal bikin geger jagat. Sekian abad kemudian.

* kontributor