Dedi: Eva-Deddy Berpeluang Dimenangkan MA

Dedy Hermawan/Ist
Dedy Hermawan/Ist

Dedi Hermawan menyayangkan diskualifikasi Eva Dwiana-Dedi Amarullah oleh Bawaslu dan KPU Kota Bandarlampung.


Menurut akademisi Universitas Lampung itu, diskualifikasi tersebut sudah tidak tepat karena esensi kompetisi pilkada sudah selesai. 

"Diskualifikasi bertentangan dengan esensi kompetisi pilkada," katanya kepada Kantor Berita RMOLLampung, Sabtu malam (9/1). 

Menurut dia,  pemilih dengan beragam motifnya sudah menentukan pilihan dan secara kuantitatif hasilnya sudah ada.

Mestinya, lanjut Dedi, seluruh proses temuan dan sebagainya diproses pada saat kompetisi, sehingga sangat tepat istilah diskualifikasi tersebut. 

"Nah ini yang kita sayangkan keputusan dari Bawaslu yang kemudian diamini oleh KPUD, tidak melakukan advokasi terhadap keputusan politik warga Bandarlampung," ujarnya. 

Tambahnya, hal ini sangat kontroversi dan sangat tidak sejalan dengan esensi demokrasi. "Dimana kedaulatan keputusan politik dari masyarakat dihambat dengan keputusan dari Bawaslu," jelasnya. 

Menurutnya, peluang masih sangat terbuka jika Paslon nomor urut 3 menggugat ke Mahkamah Agung (MA).

Ia menilai MA mempunyai banyak terobosan dalam membuat keputusan termasuk membatalkan keputusan KPUD dan bawaslu di beberapa tempat. 

"Artinya apa yang dilakukan oleh Tim Advokasi Paslon 3 masih sangat terbuka untuk dimenangkan di MA," katanya

TInggal dilengkapi argumentasi hukum, logika hukum, dugaan bukti-bukti, dan juga perlu diperkuat dengan aspek-aspek yang lain, misalanya aspek demokrasi politik, partisipatif masyarakat Bandarlampung, ujarnya. 

Ia berharap MA bisa melihat hal ini secara proporsional, komprehensif, tidak hanya aspek legal, tetapi aspek politik, sosiologi masyarakat. 

"Sehingga keputusannya sangat mungkin tidak sejalan dengan Bawaslu dan KPU. Artinya peluang dari paslon nomor urut 3 masih terbuka di MA," pungkasnya.