Developer Perumahan Grand Faris Rajabasa Dilaporkan ke Polresta

Ist
Ist

Diduga merusak pagar tembok Pondok Pesantren Miftahul Jannah, di Jl. Bhayangkara, Gg. Kutilang, Rajabasa Raya, Bandarlampung, dengan maksud menguasai dan merusak tanam tumbuh, pihak developer Perumahan Grand Faris, dilaporkan ke Polresta Bandarlampung, Senin (27/12) malam. 


Persoalan bermula dari salah seorang Musyrif (pembina harian santri) Rusdi (41), ingin memberi makanan hewan ternak dikandang belakang pondok pesantran, Sabtu (25/12), sekitar pukul 08.00 WIB.

"Saat itu saya hendak memberi makan ayam dan entok, namun sebelum sampai kekandang saya lihat pohon pisang ditebang dan tembok belakang dirobohkan," ujar Rusdi.

Lebih lanjut Rusdi memeiksa kandang ayam dan entok yang jumlah hewannya selalu dihitung. Namun Rusdi menghitung ada ayam dan entok hilang.

"Saya selalu menghitung hewan peliharaan milik pondok, sehingga saya meyakini ada tiga ekor ayam kampung, dua ekor entok, hilang dan sampai saat ini tidak ditemukan," papar Rusdi. 

Rusdi yang kebenaran pada hari itu ada kegiatan diluar pondok, barulah keesokan harinya memberitahukan kepada pembina pondok, yang juga merupakan istri dari Ketua Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Jannah.

Atas peristiwa ini, KH. Harsono, memeriksa laporan Rusdi dan melihat kebenaran robohnya tembok pagar.

"Saat itu saya juga melihat tanah pondok pesantren sudah dislop cor untuk dibangun pagar oleh pihak pengembang".

Persoalan menjadi ramai dan tidak menemukan jalan damai setelah Istri KH. Harsono adu argumen dengan pihak mandor pengembang, Agus alias Boto, yang tetap ngotot kalau pihak developer yang bertanggungjawab, Senin (27/12).

"Selain berkeras, Agus alias Botojuga ngotot kalau tidak ada ayam yang hilang sambil bernada tinggi kepada Istri K.H. Harsono."

Sementara itu, K.H. Harsono yang semula sempat ingin menyelesaikan persoalan dengan damai, akhirnya tidak terima istrinya dibentak oleh Agus alias Boto, yang tidak mengakui kesalahan atas perbuatannya bahkan tidak meminta maaf.

"Sebenarnya saya sudah mau memaafkan, namun setelah saya mendengar cerita dari istri dan para santri, maka saya berniat memberikan pelajaran atas kesombongan mereka. Uniknya lagi saya mendengar khabar kalau saya pelit untuk tidak memberikan tanah yang menurut versi hanya sejengkal".

Perlu diketahui bahwa tanah itu merupakan tanah wakaf yang diperuntukan sebagai pesantren, Karenanya tidak bileh dipindah tangankan untuk hal lain terlebih lagi untuk perumahan. "Karena persoalan justru semakin meruncing, maka saya menyerahkan persoalan ini secara hukum.

Menurut Kuasa Hukum K.H. Harsono, Gunawan, S.H, dari kantor Biro Hukum Gunawan Pharrikseit dan Rekan, menelaah dari kronologinya, maka para pelaku bisa dikenakan pasal 170 ayat satu tentang pengrusakan, dengan ancaman hukuman 5 tahun 6 bulan dan Pasal 385 dengan ancaman hukuman kurungan 4 tahun penjara.

"Kami melapor dengan bukti dan saksi yang lengkap. Kami yakin Insha ALLAH pihak kepolisian akan bertindak profesional dan tidak diskriminatif terhadap siapapun yang meminta perlindungan dan hak sebagai warga negara".