Didapuknya Dewi Arimbi Nakhodai PPP Lampung Mulai Digoyang

Dewi Arimbi/Ist
Dewi Arimbi/Ist

Pasca Musyawarah Wilayah (Muswil) PPP Lampung yang mendapuk Dewi Arimbi menjadi ketua, mulai ada gejolak di tubuh partai berlambang Kabah ini.


Ketua DPC PPP Lampung Selatan Yandi Efendi menjadi peserta Muswil pertama yang akhirnya buka suara. 

Ia meminta agar Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa mengevaluasi hasil Muswil yang menurutnya terkesan dipaksakan itu. 

"Diharapkan ada peninjauan ulang hasil musyawarah kemarin karena masih banyak (DPC) yang keberatan pasca muswil tapi belum berani bersuara," kata dia kepada Kantor Berita RMOLLampung, Rabu (9/6).

Ia menjelaskan, awalnya 11 DPC sudah menyatakan mendukung Anggota DPRD Lampung Supriyanto menjadi ketua kepada Sekretaris Jenderal PPP Arwani Thomafi melalui video call. 

"Setelah itu ada isu yang dihembuskan oleh DPP kalau itu hak veto ketua umum, siapapun orangnya tanpa seizin ketua umum itu tidak bisa jadi ketua, dengan berat hati kami menerima dan melakukan muswil itu dengan agenda yang dipindahkan ke Jakarta," kata dia, Rabu (9/6).

Ia melanjutkan, awalnya pasrah dengan proses Muswil yang berubah mendadak, namun usai pulang Muswil ia merasa perlu menyampaikan bahwa ada intimidasi dari Ketua Umum sehingga mau tidak mau DPC menerima keputusan partai. 

Menurutnya, PPP Lampung membutuhkan pemimpin yang memiliki pengalaman mumpuni dan berdomisili di Lampung agar mudah melakukan konsolidasi untuk membesarkan partai. 

"Sedangkan dia (Dewi Arimbi) seperti Bang Toyib, jarang pulang, gimana mau membesarkan partai, secara logikanya yang megang orang Lampung yang domisilinya di sini susah apalagi dia," ujarnya. 

Kejanggalan Muswil ini juga dibenarkan Ketua DPC PPP Bandarlampung Busyairi. Menurutnya Muswil telah selesai dan DPC tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia juga mengaku pesimis PPP pusat akan melakukan evaluasi ulang. 

"Bagaimana Muswil seperti yang diucapkan Bang Yandi benar, tapi semua sudah selesai mau diotak-atik bagaimana lagi, itu kan memang kehendak DPP ya mau gak mau, susah mau ngelawan DPP," iata dia. 

Ia mengatakan, meski diundang hadir, ada tiga DPC yang tidak dilibatkan dalam persiapan Muswil yang dipindahkan ke Jakarta, yakni Lampung Selatan, Bandarlampung dan Tanggamus. 

"Alasannya (pindah ke Jakarta) kan saya pernah bilang supaya aman, ternyata ada kekhawatiran ada kisruh dan keos kalau di Lampung tapi keputusan itu tidak didasarkan hasil rapat bersama dpc 15 kabupaten kota," tambahnya. 

Ia mengklaim memang DPC Bandarlampung, Lamsel dan Tanggamus merasa kecewa atas proses dan hasil Muswil. Namun, lanjutnya, hanya Lamsel yang menyatakan meminta evaluasi ulang. 

"Kalau Lamsel mau mengajak evaluasi menyatakan itu boleh saja nanti jatuhnya ke mahkamah partai. Sementara ini belum menyatu, hanya tiga DPC yang merasa kecewa dan ditinggalkan," pungkasnya.