Diragukan, Kesiapan Pemprov Lampung Tangani Pandemi Covid-19




Kader Partai Golkar Provinsi Lampung, Nizwar Affandi meragukan kesiapan Pemprov Lampung menangani pademi covid-19 di daerahnya.

"Saya perlu belajar lagi dengan teman-teman DPRD Provinsi Lampung untuk bisa mengerti bahwa penanganan pandemi corona sudah sangat baik," ujar Ketua DPD Ormas MKGR Lampung itu.

Dia juga mengaku masih perlu belajar lagi agar bisa memahami para seniornya yang menyatakan penanganan pandemi covid-19 sudah baik di Lampung.

"Mulai dari upaya pencegahan penyebaran, perawatan, pengobatannya, hingga kesiapan penanganan jika ada pasien yang meninggal dunia," katanya.

Masalahnya, katanya kepada Kantor Berita RMOLLampung, Rabu (31/3), dia melihat justru sebaliknya.

Terkesan, Pemprov Lampung tidak siap, tandasnya.

Dalam delapan hari, mereka yang terduga dan positif covid-19 terus bertambah hingga jadi delapan orang yang dinyatakan positif terinfeksi corona.

"Apakah itu karena ketiadaan alat/media swab test yang diakui Kadinkesprov Lampung menjadi penyebab tracing sempat dihentikan sementara?" tanyanya.

Diuraikannya, pada tanggal 18/3, ada satu orang yang dinyatakan positif (Pasien-01 Lampung).

Pada tanggal 26/3, mereka yang dinyatakan positif menjadi tiga orang atau bertambah dua orang.

Lalu, tanggal 27/3, Dinkes Lampung menyatakan ada empat orang yang positif covid-19.

Tanggal 30/3, warga yang positif bertambah empat orang menjadi delapan orang dan satu Pasien O2 Lampung dinyatakan meninggal dunia.

Pasien-02 Lampung baru dinyatakan positif pada tanggal 26/3 hanya H-4 sebelum wafat.

Dalam rentang waktu yg begitu singkat, Niwar Affandi mengatakan tentu sulit dibantah bahwa ada keterlambatan deteksi terhadap masyarakat yang berpotensi terpapar covid-19.

Keterbatasan sarana dan alat juga telah diakui oleh Kadinkes dan Kadishub pada saat rapat dgn anggota DPD-RI pada tanggal 26/3.

Mungkin, karena itu pula, empat pasien isolasi mandiri yang baru diketahui dari pemerintah pusat, tidak dikarantina di RSUD Abdul Moeloek (RSUAM), sehingga diragukan efektivitas isolasi mandirinya.

Screen test, katanya, hanya disiapkan di Bandara Radin Inten II, Natar, Kabupaten Lampung Selatan. "Itupun efektifitasnya meragukan " ujarnya.

Sementara, di Pelabuhan Bakauheni dan Pelabuhan Panjang, petugasnya hanya mengandalkan thermo gun.

Belum lagi penanganan pasien covid-19 yang meninggal dunia yang dimakamkan sehari setelah meninggal dunia.

Padahal, berdasarkan SOP yang ditetapkan WHO dan Kemenkes terkait pemakaman pasien covid-19,' tidak boleh lebih dari empat jam setelah wafat, tandasnya.