Ditunggu Puisi "Minyak Goreng" hingga 31 Maret

Masalah minyak goreng yang sulit di pasaran, harus antre, harga sedikit naik, hingga menelan korban, menggerakkan kepedulian penyair Indonesia.


Mustafa Ismail, penyair dan redaktur media besar Jakarta bersama Paus Sastra Lampung Isbedy Stiawan ZS mengundang penyair menulis puisi bertema minyak goreng.

Panjang puisi bebas, meski tema minyak goreng tak harus ada kata itu. Sudut pandang juga sesuai keinginan penyair.

Puisi dikirim ke email [email protected] sampai batas waktu 31 Maret 2022.

"Karena sifatnya gotong royong, setiap penyai yang lolos kurasi diminta kontribusi Rp25.000 untuk layout buku dan pembuatan e-book," jelas Mustafa Ismail.

Isbedy menambahkan, e book ini kelaknya dibagi gratia kepada penyair dan umum melalui grup WA atau dikirim ke email. 

"Sehingga fenomena langkanya minyak goreng hingga Megawati berkomentar, menjasi tren isu dunia," ujar Isbedy.

Ia mengatakan, setelah 2 hari diumumkan sudah ada yang mengirimkan puisi. Ada yang dari Flores, Yogyakarta, dan lainnya.

"Masih 10 hari lagi, dan yakin akan banyak pesertanya," ucapnya.

Isbedy Stiawan ZS dan Mustafa Ismail sebagai kurator bagi puisi yang masuk.