Dituntut Hukuman Mati, Pengendali 92 Kg Sabu Dari Lapas Bacakan Pledoi

Sidang M. Sulton di PN Tanjungkarang / Faiza
Sidang M. Sulton di PN Tanjungkarang / Faiza

Terdakwa pengendali peredaran sabu 92 kilogram dari dalam Lapas, M. Sulton (32) warga Blandongan, Kec. Bugul Kidul, Jawa Timur menyampaikan pledoi atau pembelaannya usai dituntut hukuman mati.


Pledoi tersebut dibacakan oleh Kuasa Hukumnya Agus Purwono di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Selasa (24/5). Sementara M. Sulton mengikuti sidang dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Narkotika Bandar Lampung. 

Pekan lalu ia meminta dihadirkan langsung namun, menurut Jaksa Penuntut Umum (JPU) Roosman Yusa, permintaan tersebut ditolak oleh Lapas. 

Agus Purwono mengatakan, pihaknya menyangsikan pernyataan JPU tersebut karena tidak dapat dibuktikan dengan surat tertulis penolakan dari Lapas. Padahal, sudah diminta langsung oleh Ketua Majelis Hakim di persidangan sebelumnya. 

"Hingga hari ini tidak bisa menghadirkan terdakwa dan tidak bisa menunjukkan bukti surat tanggapan dari Lapas. Ini kan jadi pertanyaan besar, apakah surat itu sudah dikirimkan atau belum ke Lapas?" kata dia. 

Padahal, lanjut Agus, di persidangan lainnya, beberapa terdakwa dapat dihadirkan langsung untuk menjalani sidang offline. 

Selain itu, dalam pledoi yang dibacakannya, ia keberatan dengan fakta hukum dipersidangan yang sama sekali tidak disampaikan pada surat tuntutan. 

Kemudian, keterangan saksi penyidik dan saksi lapas kelas I Surabaya yang dihadirkan padahal dia tidak dimasukkan dalam surat tuntutan. 

"Sedangkan fakta hukum yang terungkap dalam persidangan, penyidik menyatakan bahwa tidak pernah dilakukan kloning saat itu, dan tidak pernah ditunjukkan dalam persidangan," jelasnya. 

Agus juga menyampaikan, saat itu memang dilakukan kloning oleh penyidik dan dinyatakan dalam persidangan, namun penyidik tidak bisa membuktikan dalam persidangan. 

"Dan saksi lapas pun menerangkan bahwa saat di Lapas kelas I  Surabaya, terdakwa pernah diperiksa dan tidak didampingi penasihat hukum. Di surat tuntutan jaksanya bertuliskan AI Simamora sedangkan kenyataannya jaksanya adalah Roosman Yousa. ini kekeliruan yang fatal oleh penuntut umum," tuturnya. 

Selain itu, ada kesalahan terkait barang bukti. Di mana, dijelaskan bahwa barang buktinya totalnya 97 kg, padahal total setelah ditimbang itu 92 kg. 

Pihaknya juga keberatan dengan tidak dihadirkannya saksi Kabeta dan Bagus dalam persidangan, padahal namanya tercantum dalam surat tuntutan. Keduanya juga tidak di berita acara pemeriksaan (BAP) dalam perkara ini. 

"Saat di BAP terdakwa disuruh untuk tanda tangan, tetapi ada pemaksaan, pemukulan di bagian perut dan kepala. Ini juga yang menjadi pembelaan utama klien kami," sambungnya. 

Sidang kemudian ditunda 31 Mei 2022 pekan depan dengan agenda pembacaan tanggapan dari JPU.