Dituntut Mati, Napi Pengendali 92 Kg Sabu Divonis Bebas PN Tanjungkarang

Suasana persidangan M. Sulton/Faiza
Suasana persidangan M. Sulton/Faiza

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tanjungkarang menjatuhkan vonis bebas terhadap terdakwa napi pengendali sabu 92 Kg dari Lapas bernama M. Sulton yang dituntut hukuman mati, Selasa (21/6).


Ketua Majelis Hakim Jhony Butar Butar menyatakan, M. Sulton dinyatakan tidak terbukti bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana didakwakan dalam dakwaan alternatif pertama, atau dakwaan alternatif kedua Jaksa Penuntut Umum (JPU) .

"Membebaskan Terdakwa oleh karena itu dari dakwaan tersebut, memulihkan hak-hak Terdakwa dalam kemampuan, kedudukan, harkat serta martabatnya, dan membebankan biaya perkara kepada negara," ujarnya dalam persidangan. 

Ketua Majelis Hakim Jhony mengatakan, pertimbangan membebaskan M. Sulton lantaran tidak cukup bukti komunikasi yang membuktikan terdakwa sebagai pengendali sabu. 

Kuasa Hukum M.Sulton, Agus Purwono mengatakan, pihaknya sangat bersyukur atas putusan Majelis Hakim. 

"Alhamdulillah. Pembelaan kami dikabulkan oleh majelis hakim. Pertimbangan hakim sudah benar. Tidak ada tidak cukup alat bukti," ujarnya. 

Sementara itu, JPU Roosman Yusa mengatakan, pihaknya akan mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung atas putusan tersebut.

Diketahui, dua kurir dalam perkara ini yaitu Muhammad Nanang Zakaria dan M Razif Hafiz yang disangkakan bekerja berdasarkan perintah dari M. Sulton Narapidana Lapas Kelas I Surabaya sudah divonis mati.

Peristiwa bermula pada sekira Februari 2021 lalu, saat Sulton menyanggupi permintaan teman satu penjaranya bernama Tomy untuk mengambil paket sabu seberat 80 kilo di Tanjung Balai, Sumatera Utara.

M. Sulton kemudian memerintahkan kedua terdakwa untuk mengantar barang sabu itu ke wilayah Cilegon Banten, dengan upah Rp600 juta.

Bulan Agustus 2021, M. Sulton kembali memerintahkan Muhammad Nanang Zakaria yang kali ini bersama dengan Terdakwa M Razif Hafiz, untuk menjemput sabu seberat 92 kilo di Tanjung Balai.

Namun, narkotika yang akan dikirim ke Cilegon itu singgah sejenak di Bandar Lampung, yang akhirnya tercium oleh petugas kepolisian dan menyeret keduanya menjadi Terdakwa dalam perkara ini.