Dua Dasawarsa Eduekowisata Taman Kupu-Kupu Lampung

Kupu Raja Limau (Papilio mamnon) memiliki kecepatan terbang sedang, rentang sayap 15-17 cm/  RMOLLAMPUNG/ Tuti Nurkomariyah
Kupu Raja Limau (Papilio mamnon) memiliki kecepatan terbang sedang, rentang sayap 15-17 cm/ RMOLLAMPUNG/ Tuti Nurkomariyah

Beberapa larva/ulat menggantung di tangkai tanaman yang sudah diletakkan di dalam kotak kayu berukuran 100 x 59 centimeter. Larva ini sedang dalam fase makan.


 Larva itu memakan daun tumbuhan yang masih muda dan badannya membesar setiap hari sampai siap menjadi pupa atau kepompong.

Pemandangan ini dapat kita nikmati di penangkaran kupu-kupu di Taman Kupu-Kupu Gita Persada (TKGP) Lampung.

Lokasinya berada di Jalan Way Rahman, Desa Tanjung Manis, Kecamatan Kemiling, Kota Bandarlampung.

Taman Kupu-Kupu Gita Persada ini digagas oleh Herawati Soekardi dan suaminya, Anshori Djausal.

Pasangan ini mendirikan TKGP di atas lahan seluas 5 Ha dan bercita-cita menjadi laboratorium alam bagi kupu-kupu di Indonesia.

Taman ini merupakan taman eduekowisata yang mereka manfaatkan untuk pendidikan lingkungan, penelitian dan wisata alam.

Konservasi Kupu-Kupu

Sejak tahun 1997, Herawati menekuni perihal kupu-kupu di TKGP. Ketertarikannya berawal ketika ingin membuat layang-layang berbentuk kupu-kupu.

Penasaran dengan wujud sesungguhnya, dia dan suaminya berkeliling mencari kupu-kupu dan memotretnya.

Berbagai informasi dia kumpulkan, termasuk bertanya pada ahli kupu-kupu di Indonesia. Saat itu, pencariannya tidak membuahkan hasil.

“Ya sudah, karena tidak ditemukan, saya menjalakan saja kegiatan ini,” ungkap ibu anak empat, ditemui Kantor Berita RMOLLampung di kediamannya, Selasa (18/9).

Awalnya, di taman tersebut hanya terdapat 7 spesies kupu-kupu.

“Kami survei ke Gunung Betung bersama anak-anak Unila, dari lima arah. Kami perhatikan daun-daun yang bolong, kalau ada ulatnya dibawa ke Gita Persada. Kami juga survei ke TNBBS, TNWK, hingga rawa-rawa di Tulangbawang,” tutur Ketua Yayasan Sahabat Alam ini.

Herawati mengungkapkan, TKGP dikelola oleh tim yang merupakan keluarganya sendiri.

“Gaji, saya sumbangkan untuk karyawan. Sementara penghasilan suami, Anshori Djausal, digunakan untuk kebutuhan rumah,” jelasnya seraya menyebut Rp 20 juta lebih/bulan dikeluarkan untuk biaya operasional.

Hadirnya TKGP, banyak dimanfaatkan mahasiswa untuk kegiatan penelitian. Bahkan, gelar doktor yang didapat Herawati, dari riset di tempat yang dia kelola itu.

“Saya membimbing mahasiswa Unila mulai 2005 hingga pensiun 2018. Kalau satu tahun 10 mahasiswa berarti ada sekitar 120 mahasiswa,” ujar alumni Biologi ITB.