Dua Gedung Baru RSUDAM Temuan BPK RI Tanpa Plang Nama

Pembangunan gedung di RSUDAM/ Vera
Pembangunan gedung di RSUDAM/ Vera

Dua gedung baru di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) yang terindikasi tidak sesuai spesifikasi, hinggi kini masih menjadi misteri.


Bahkan pihak pelaksana pembangunan dua gedung di RSUDAM pun sulit diketahui, karena tidak satupun plang proyek ataupun pihak terkait mau memberikan informasi valid.

Berdasarkan pantauan Kantor Berita RMOLLampung, Senin (16/5) di RSUDAM memang terlihat kesibukan pekerja membenahi dan membangun beberapa gedung baru.

Pembangunan gedung di RSUDAM/ Vera

Namun, yang menjadi temuan BPK RI saat sidang paripurna tentang Laporan Keuangan Pemprov Lampung Tahun 2021 hanya ada dua gedung baru yang pekerjaannya diduga tidak sesuai sehingga membuat negara rugi besar.

Gedung baru tersebut yakni Gedung Perawatan Bedah Terpadu yang dibangun dengan nilai Rp38 juta dan Pembangunan Gedung Perawatan Neurologi RSUDAM sebesar Rp22 juta.

Kedua gedung ini sama-sama dikerjakan oleh pihak ketiga atau kontraktor yakni PT Manggala Wira Utama (MWU) dan PT Harapan Jejama Wawai (HJW).

Masing-masing pekerjaan konstruksi tersebut menggunakan sumber dana APBD Tahun Anggaran 2021 yang nilainya mencapai Rp60 miliar.

"Tidak tahu saya ini gedung apa, saya hanya bekerja saja disini ikut teman-teman," ujar tukang bangunan yang enggan disebutkan namanya.

Ia mengatakan pembangunan gedung ini sudah lama namun memang proses pekerjaannya belum usai karenakan terbentur libur dan lainnya.

"Sudah sangat lama, tapi sekali lagi kalau untuk nama perusahaan yang bertanggung jawab saya tidak berani sebutkan, saya cuma bekerja," katanya.

Sebelumnya, Plt. Wakil Direktur Pendidikan dan Pengembangan SDM dan Hukum RSUDAM Anindito Widyantoro menyebutkan, kedua proyek tersebut sudah sesuai peratuan presiden Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang dan Jasa sebagaimana telah diubah melalui Perpres Nomor 12 tahun 2021 tentang Perubahan atas Perpres Nomor 16 tahun 2018. 

Selain itu kata dia, tudingan bahwa spesifikasi bangunan yang tidak sesuai spek dikatakan tidak benar. "Spesifikasi telah sesuai dengan kontrak," klaim Anindito Widyantoro, Senin (31/1).