Electrostatis Kemungkin Bisa Cegah Infensi Virus Corona


Oleh Warsito Purwo Taruno (*)

PERTANYAANYA, apakah mungkin mencegah infeksi virus corona dengan ECCT (electrostatis)?

Jawabnya: Ya. Karena, satu-satunya gaya yang mempengaruhi proses docking (menempelnya virus pada reseptor) adalah elektrostatis (*).

Jadi, kalau bisa mengatur modulasi yang pas gelombang elektrostatis itu, kita bisa mencegah virus tak bisa docking (menginfeksi sel tubuh).

[caption id="attachment_35782" align="alignnone" width="640"] Bus dilengkali sinar ultravioler untuk mengatasi virus corona di China/Net[/caption]

ECCT mempunyai dua peran dalam membantu tubuh menghadapi virus:

Pertama, ECCT mencegah virus menginfeksi sel tubuh melalui proses gangguan elektrostatis (electrostatic disturbance).

Kedua, ECCT dapat meningkatkan imunitas tubuh.

Proses virus menginfeksi sel adalah melalui proses yang disebut docking antara spike protein (tonjolan di permukaan virus) terhadap reseptor (cekungan) pada permukaan sel.

Seperti anak kunci masuk ke lubang kunci.

Proses ini bisa diumpamakan pula seperti sebuah kapal (sebagai virus) yang berlabuh di dermaga (sebagai sel manusia).

Skema elektrostatis untuk mencegah penyebaran virus corona/Net

Kalau ombaknya "pas" (synchronized), kapalnya tak akan bisa berlabuh selama ombak ada.

Untuk kasus virus corona, "ombak" itu bisa diciptakan dengan gelombang elektrostatis.

Untuk membangkitkan synchronized "electrostatic disturbance" sehingga virus selamanya tak bisa docking pada sel selama gangguan ada perlu perhitungan entropi yg harus disesuaikan dengan struktur spike protein pada virus dan struktur molekul reseptor pada sel tubuh.

Umumnya, gelombang elektrostatis tak cukup kuat hingga bisa merusak sel maupun virus (seperti ombak yang tak cukup besar hingga merusak dermaga maupun kapalnya), hanya mengganggu proses docking.


[caption id="attachment_31843" align="alignnone" width="800"] Ilustrasi penampakan virus corona/Net[/caption]

Tetapi, selama virus tak bisa docking maka tak akan terjadi infeksi; virusnya akan mati karena sebab lain (dimakan sel darah putih atau makropag) karena tak bisa masuk ke inang (sel tubuh).

Setelah virus menginfeksi sel, akan terjadi reproduksi (penggandaan) virus dan virus akan dilepas keluar sel dalam jumlah yang lebih banyak.

Virus yang sudah tergandakan akan masuk inang sel lain lagi dan digandakan lebih banyak lagi, dstnya.

Akan tetapi, kalau virus bisa ditahan tak bisa masuk ke sel lagi maka lama kelamaan virus akan mati sendiri atau dimakan sel darah putih, sehingga lama kelamaan jumlah virus akan berkurang atau habis.

Selain mengganggu proses docking virus ke dinding sel tubuh, elektrostatis juga terbukti meningkatkan secara signifikan jumlah sel T sitotoksik pada percobaan tikus.

Sel T sitotoksik berfungsi membunuh zat-zat asing yg masuk ke dalam tubuh spt bakteri, virus dan kanker.

Hasil uji tikus yang dilakukan oleh Alamsyah dkk juga menunjukkan bahwa ECCT juga meningkatkan secara signifikan sel darah putih, meningkatkan secara signifikan jumlah makrofag yang berfungsi dalam sistem imunitas tubuh (**).

(*).https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fmolb.2019.00094/full

(**).https://esmoopen.bmj.com/content/3/Suppl_2/A269.1.abstract.

(*)

1. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi memberikan penghargaan B.J. Habibie Technology Award 2015 kepada Warsito Purwo Taruno, pendiri dan CEO CTECH Labs EdWar Technology, pada 20 Agustus lalu.

2. Doktor lulusan teknik elektro Shizouka University Jepang itu menciptakan Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT), yang memiliki fungsi memindai seperti CT-Scan dan MRI.

3. Teknologi hasil karyanya telah dipakai di Jepang, Amerika Serikat, Arab Saudi, dan Malaysia. "Temuannya kreatif, efisien, efektif. Produknya bisa dipakai oleh masyarakat," kata Kepala BPPT Unggul Priyanto, Kamis pekan lalu.