Emak-emak di Pesawaran Lempar Sendal saat Ditagih Utang, Kasusnya Berakhir Damai 

Ilustrasi/Ist
Ilustrasi/Ist

Seorang pedagang nasi uduk di Gedong Tataan, Pesawaran bernama Herawati sempat menyandang status tersangka kasus penganiayaan. Namun kasusnya berhasil didamaikan pihak kejaksaan. 


Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum Fadil Zumhana dan Kepala Kejaksaan Tinggi Lampung Nanang Sigit Yulianto mengumumkan satu kasus di Pesawaran yang diselesaikan dengan restorative justice, Kamis (7/4).

Kasi Penkum Kejati Lampung I Made Agus Putra mengatakan, tersangka Herawati Binti Abu Umar disangka melanggar Pasal 351 Ayat (1) KUHP tentang penganiayaan berakhir damai. 

Peristiwa bermula ketika tersangka Herawati meminjam uang Rp843 ribu dar PT. Esta Dana Ventura untuk modal berjualan nasi uduk dengan sistem pembayaran cicilan mingguan Rp127 ribu.

Namun, saat ditagih 22 November 2021 oleh pegawai PT Esta yakni Nita Armala dan Tiwi Pratiwi di kediamannya di Gedong Tataan, Pesawaran, tersangka mengaku belum punya uang dan tidak bisa membayar. 

"Nita dan Tiwi datang untuk menagih tunggakan angsuran pada tanggal 19 Juli 2021 dan angsuran pada tanggal 22 November 2021," jelasnya. 

Berdasarkan keterangan tersangka, dia tidak memiliki uang karena uang tersebut telah digunakan untuk biaya pengobatan anaknya yang sakit chikungunya dan dia meminta 2 hari untuk membayar cicilan tunggakan. 

"Tetapi Nita tetap memaksa tersangka untuk membayar tunggakan secara mencicil di tempat. Jika perlu meminjamnya dari siapa saja yang penting untuk membayar terlebih dahulu dengan mencicil sehingga ada laporan ke pihak perusahaan," lanjutnya. 

Namun, tersangka menolak sehingga terjadi perdebatan hingga Nita mengeluarkan kata-kata kasar yang langsung ditimpali oleh tersangka dengan kata kasar pula. 

"Tersangka menarik Nita keluar rumah dan menutup pintu, saat itu Nita dan tersangka saling mendorong pintu yang menyebabkan Nita didorong dan hampir jatuh," kata dia. 

Made melanjutkan, tersangka kemudian mengambil dan melemparkan sandal jepit yang mengenai mata kiri Nita yang mengakibatkan luka memar dan Nita tidak dapat bekerja untuk 2 hari.  

Berdasarkan Visum Et Repertum dari Rumah Sakit Umum Daerah Pesawaran, tepat pada kelopak kiri atas terdapat luka lebam berwarna merah kebiruan, terdapat injeksi silar (kemerahan) pada konjungtiva mata kiri, dan terdapat penurunan visus (tajam pengelihatan) pada mata kiri VOD 3/6. 

Kasus ini berakhir damai setelah tersangka dan korban sudah melakukan kesepakatan perdamaian. Tersangka juga mengganti biaya pengobatan korban Rp250 ribu dan melunasi utangnya Rp843 ribu ke PT Esta.