Flyover Sultan Agung Pakai Aset Daerah, Pedagang Dimnta Hengkang



Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Bandarlampung,'Iwan Gunawan mengklaim lahan pembangunan flyover di Jalan Sultan Agung Kedaton, menggunakan aset daerah.
Sama sekali tidak menggunakan lahan warga. Sehingga, tidak menggangu masyarakat.
"Tidak pakai lahan warga, sehingga tidak mengganggu masyarakat. Teknisnya, badan jalan yang dipakai," kata Iwan Gunawan, Kamis (18/6).
Menurutnya, flyover Jalan Sultan Agung nantinya memiliki panjang 300 meter dan lebar 10 meter.
"Diperkirakan panjang 300 meter lebar 10 meter. Bentuk sama, bedanya hanya lintasannya melewati rel," jelasnya.
Sebelumnya, ia mengaku telah mengimbau para pedagang untuk sementara waktu memindahkan dagangan.
"Sudah diimbau dan disosialisasikan terkait pembangunan, agar kemudian bisa segera memindahkan dagangan untuk sementara," ujarnya.
Sebelumnya, warga yang terdampak pembangunan flyover ini merasa dirugikan.
Zulfahmi, pemilik kedai buah mengaku tidak setuju dengan adanya pembangunan flyover.
"Tidak ada sosialisasi. Akhir tahun 2019, pihak kelurahan hanya membagikan surat yang berisi setuju tidak dengan pembangunan flyover," jelasnya, Rabu (17/6).
Senada Afdal, pemilik tokoh kerajinan rotan. Menurutnya dengan adanya flyover bisa mematikan usahanya.
"Omset saya jelas turun drastis. Bukannya turun tapi habis. Dengan adanya Covid-19 saja omset menurun 70-80 persen. Apalagi ditambah flyover, bisa-bisa tinggal 10 persen," jelasnya.
Mereka berharap Pemkot bisa bijaksana dalam mengeluarkan keputusan. Wali Kota Bandarlampung, Herman HN diharapkan bisa memberikan solusi, dan memikirkan nasib pedagang.