Gali Batu Di Bantaran Sungai, CV BSM Langgar Hukum

Senior penggiat lingkungan hidup Lampung, Eddy Karizal/Ist
Senior penggiat lingkungan hidup Lampung, Eddy Karizal/Ist

Senior penggiat lingkungan hidup Lampung, Eddy Karizal berpendapat penambangan batu dari bantaran sungai oleh CV Batu Sumber Mulia (BSM) melanggar hukum.


Perusahaan tersebut telah melakukan aktivitas penambangan batu dengan hanya mengantongi UKL UPL (Upaya Pengelolaan Lingkungan – Upaya Pemantauan Lingkungan).

UKL UPL milik Hansa alias Orok mengeksplorasi batu dari bantaran Sungai Kaliduren, Pekon Sinar Baru Timur, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu

"Jika benar CV BSM baru memiliki ijin IUP ekplorasi tapi sudah produksi, perusahaan telah melanggar hukum," ujar Direktur Lembaga Konservasi 21 itu kepada Kantor Berita RMOLLampung, Jumat (9/4).

CV BSM harus memiliki IUP produksi dan dalam dokumen UKL UPL harus mencantumkan strategi pemecahan masalah lingkungan akibat dampak dari pertambangan tersebut.

Salah satu yang harus muncul adalah penyelesaian kerusakan bibir sungai dan subtitusi sawah yang hilang sesuai program pemerintah menunjang ketahanan pangan Indonesia.

Edy juga mempertanyakan kopetensi pembuat UKL UPL. Kemungkinan perusahaan yang tidak menjalankan apa yang sudah dibuat dalam UKL UPL.

Namun, pembuat UKL UPL harus bertanggung jawab terhadap pelaksanaan dokumen yang sudah dibuat sehingga perusahaan benar-benar menjalankannya.

Perusahaan sudah melakukan penambagan pada areal seluas seperempat hektare dari lahan yang dikuasainya seluas 12,4 hektare.

Namun, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pringsewu baru akan meninjau lokasi penambangan ketika dikonfirmasi Kantor Berita RMOLLampung, Kamis (8/4).

"Nanti, kita akan segera tinjau lokasinya. Kalau tidak sesuai dengan dokumen perjanjianya, kita akan beri sanksi pemberhentian," kata Kepala DLH Hendrik.

Dari pantauan di lokasi, selain merusak bibir sungai perusahan tambang tersebut merusak lahan persawahan produktif, yang sudah dibeli dari warga pekon setempat .

Hansa Alias Orok, Direktur CV BSM mengatakan rencananya luas lokasi tambang batu yang akan dikelolanya 12,4 hektare. "Saat ini, baru dikelola kurang setengah hektare," katanya, Rabu (7/4).

Dia mengakui perusahaan belum memiliki dokumen AMDAL dengan alasan produksinya masih berskala kecil, masih hanya sebatas Izin UKL UPL. "Kami belum membutuhkan AMDAL," katanya.