Haji Abidin, Pohon Soekarno Dan Masjid Kemerdekaan

Dialog Imajiner dengan Sukarno-Hatta (27):Oleh Syafarudin Rahman*

Dialog Imajiner dengan Sukarno-Hatta (27):

Oleh Syafarudin Rahman*

USAI salat Idul Adha, kami berempat (Bung Karno, Bung Hatta, Syafarudin dan mahasiswa milenial) kembali duduk di sofa panjang menghadap ke jalan raya dan masjid kampung.

Tampak panitia pemotongan hewan kurban bersama warga berkerumun di bawah tenda. Speaker masjid melantunkan lagu religi berjudul “Haji” dilantunkan penyanyi Opick.

Labbaik Allahumma labbaik
Labbaikala syarikalaka labbaik
Innal hamda wanni'matalak
Walmulkala syarikalak

Wahai Allah
Kami datang memenuhi panggilan-Mu
Tiadalah sekutu untuk-Mu
Segala puji dan kuasa untuk-Mu

Kami meraba tanpa cahaya
Kami yang lupa hina dan papa
Di hadapan-Mu yang Maha Indah
Di hadapan-Mu yang Maha Mulia

Labbaik Allahumma labbaik
Labbaikala syarikalaka labbaik
Innal hamda wanni'matalak
Walmulkala syarikalak

Labbaik Allahumma labbaik
Labbaikala syarikalaka labbaik
Innal hamda wanni'matalak
Walmulkala syarikalak

Labbaik Allahumma labbaik
Labbaikala syarikalaka labbaik
Innal hamda wanni'matalak
Walmulkala syarikalak

Labbaik Allahumma labbaik
Labbaikala syarikalaka labbaik
Innal hamda wanni'matalak
Walmulkala.

Milenial : izin Proklamator dan Pak Syafarudin, silakan diminum kopi jahe kiriman dari mantan ketua AEKI Lampung Pak Nuril Hakim. Pembaca setia dialog kita ini bilang khasiatnya insha Alloh bisa menambah imunitas tubuh dan mata terang kembali di awal bulan.

Bung Hatta: Milenial apa berita menarik pekan ini?

Milenial : Izin Proklamator dan Pak Syafarudin, ada berita basi dikemas ulang seolah prestasi. Joko Tjandra sudah pindah jadi warga negara PNG. Tapi, dengan santai, sejumlah jenderal mengawalnya buat KTP dan paspor Jakarta lalu pulang pakai jet pribadi ke apartemennya di Malaysia.

Sebelas tahun buronan Indonesia, sang taipan baru ditangkap dua hari lalu. Apakah pantas kita beri apluas sebagai prestasi? Kemarin aparat penegak hukum ngapain? Emang kami milenial buta, tidak melihat dan tidak mencatat.

Syafarudin: Milenial, karena masih dalam suasana Lebaran Haji, pandemi Covid-19 dan sebentar lagi perayaan Hari Kemerdekaan RI, sebaiknya kita maafkan dan kembali ke topik haji dan kemerdekaan saja.

Milenial : Maaf Pak Syafarudin, soal maaf memaafkan itu soal pribadi, tapi soal kehidupan bernegara kita ada hukum yang mesti ditegakan. Jatuhi hukuman mereka yang terlibat dan bersalah. jangan hanya ditangkap pengacara, hukum juga polisi, jaksa, dan siapapun yang terlibat.

Bung Hatta: Waduh ini mahasiswa milenial dan dosen kok malah debat. Solusinya apa?

Bung Karno: Tuntaskan revolusi karena kemerdekaan itu jembatan emas meraih cita-cita. Perjuangan kami mudah karena menghadapi penjajah. Perjuangan kalian jauh lebih sulit karena menghadapi bangsamu sendiri. Tuntaskan revolusi mental.

Syafarudin: Izin Proklamator dan Milenial, sebaiknya kita kembali bahas topik haji dan kemerdekaan saja. Milenial silakan tanggapi apa beda ibadah haji proklamator bangsa.

Milenial : Maaf Proklamator. Saya bacakan jejak digital perjalanan haji proklamator. Prosesi hajinya sama dari tawaf kedatangan, armina, lontar tiga jumroh, sampai tawaf wada. Yang beda, fasilitasnya.

Bung Karno naik haji berbarengan dengan tugas kenegaraan sedangkan Bung Hatta khusus acara pribadi, keluarga. Maaf, mohon berkenan Proklamator cerita.

Syafarudin: Izin Pak Proklamator. Generasi milineal bahkan yang sudah tua sekalipun mungkin tidak tahu atau ketika tahu pun bingung kok ada nama pohon soekarno di Padang Arafah sebagai peneduh dari gersang dan terik.

Menjelang peringatan hari kemerdekaan dan dalam suasana Idul Adha ini, kita akan mendialogkan seputar makna pohon soekarno itu plus masjid kemerdekaan di Jakarta. Bisa diceritakan.

Bung Karno : Bung Hatta silakan duluan bantu menjelaskannya, terutama tentang masjid kemerdekaan tersebut.

Bung Hatta : Biar generasi kalian cepat paham saya sebut yang biasa kalian lafalkan yakni : Masjid Istiqlal, yang bisa diartikan dalam Bahasa Melayu sebagai masjid kemenangan atau kemerdekaan ini.

Masjid ini spesial karena simbol kemerdekaan bangsa Nusantara, sekaligus juga masjid simbol persatuan, kerukunan dan simbol toleransi umat islam dengan sesama pemeluk agama lain.

Mengapa? karena desainer atau arsitek awal masjid ini adalah seorang batak kristiani bernama Frederich Silaban usai memenangkan sayembara.

Berawal di tahun 1953, tokoh-tokoh islam di Nusantara berkumpul di Batavia diantaranya Wahid Hasyim, Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto, dan tokoh-tokoh lain, mereka bertemu dengan tujuan membuat sebuah masjid simbol kemerdekaan bangsa ini.

Setahun kemudian, tepatnya 7 desember 1954, dibentuklah Yayasan Masjid Istiqlal. Tahun 1955, Yayasan Masjid Istiqlal mengadakan sayembara untuk mendapatkan desain ideal masjid yang mampu merepresentasikan kemerdekaan Indonesia dan nilai-simbol Islam.

Ada 30 orang peserta yang mengikuti sayembara, tapi yang serius 27 orang. Mereka melampiri gambar desain masjid. Seleksi berikutnya tersisa 22 peserta. Seleksi ketat dewan juri mengerucut dan terakhir tersisa 5. Dari 5,dipilih 1 desain arsitek terbaik dimana pemenangnya yakni saudara Frederich Silaban, seorang pemuda batak kristiani.

Syafarudin: izin melanjutkan Bung Hatta. Sejarah mencatat Masjid istiqlal berada di lahan seluas 9,5 ha, dibangun selama 17 tahun, mulai dari pemerintahan Soekarno dan diresmikan era pemerintahan Soeharto pada tahun 1978.

Silaban mendesain kubah utama ukuran diameter 45 meter melambangkan tahun kemerdekaan, kubah kecil ukuran 8 meter melambangkan bulan kemerdekaan Agustus, dia juga mendesain 12 pilar utama penopang masjid yang merupakan simbol 12 Robiul Awal, tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Bung Hatta : Bila sampai dengan hari ini masih saja ada anak bangsa di Nusantara yang mengalami Islamophobia dan suka buat meme di media sosial yang mendeskreditkan muslim adalah teroris dan tidak toleransi, mungkin ada baiknya literasi komik Sinchannya dikurangi dan perbanyaklah baca buku sejarah dan biografi yang bermutu.

Syafarudin: Setuju Bung Hatta. By the way, Bung Karno mohon anda ceritakan bagaimana pohon mindi di Nusantara bisa tumbuh di padang arafah dan berubah menjadi nama pohon soekarno.

Bung Karno: sebelum cerita soal pohon mindi atau pohon soekarno itu, aku mau cerita soal perjalanan hajiku kala itu, beda dengan kalian dari bandara tanah air langsung penerbangan direct 9 jam ke Jeddah atau Madinah.

Aku dan rombongan berangkat pakai pesawat Garuda tanggal 18 juli 1955, sampai ke Arab Saudi setelah mampir-mampir dulu sekitar enam kota: Singapura, Bangkok (Thailand), New Delhi (India), Sarjah (Uni Emirat Arab), Bagdad (Irak), dan Kairo (Mesir).

Setiap negara yang kusinggahi, aku berjumpa dengan diaspora Indonesia atau pejabat negara setempat.

Tanggal 24 Juli 1955, rombongan kami mendarat di Jeddah dan disambut Raja Saud Bin Abdul Azis. Saat penyambutan Bendera Merah Putih dikibarkan, ditembakan meriam 21 kali. Lalu dikumandangkan lagu kebangsaan Arab Saudi dan Indonesia.

Syafarudin: Bung Karno, izin, sejarah mencatat, Raja Arab Saudi memberi hadiah (meminjamkan) sebuah mobil Chrysier Crown Imperial selama Bung prosesi dan berada di Arab Saudi.

Di sela prosesi haji arafah, mudzdalifah, dan Mina Bung menerima kunjungan pelajar dan mahasiswa Indonesia di Mekah, dan Bung sempat memberikan amanat di depan warga mukimin Indonesia, serta berkuinjung ke perkemahan jamaah.

Bung Karno: Betul, dan aku atau kita yang pernah ke Tanah Suci, terutama di daerah Padang Arafah pasti pagi sampai sore merasakan udara dan suhu yang terik 40-50 derajat celcius, lingkungan tanah berpasir, tanah tandus dan pohon kurma yang gersang.

Aku berpikir andai saja banyak pohon di sini mungkin bisa menjadi tempat berteduh dan sedikit menyejukan seperti di tanah air kita. Aku usul ke raja Arab Saudi agar memperbanyak tanaman di Mekah dan padang Arafah.

Alhamdulillah, rombonganku dari tanah air, ahli tanaman, ada yang sudah bawa beberapa bibit pohon mindi. Bibit pohon itulah yang aku serahkan ke Raja dan langsung ditanam di mekah dan padang Arafah. Karena bisa hidup di tanah gersang, minim air, dan tanah berpasir. Tahun selanjutnya, aku kirim ahli tanaman dari Indonesia untuk menanam pohon mindi di areal 1.250 ha padang arafah dengan menggunakan campuran tanah subur dari Indonesia dan Thailand.

Bung Hatta: Pohon mindi sekarang menghijaukan warna padang Arafah dan orang timur tengah menyebutnya pohon soekarno.

Syafarudin: sejarah juga mencatat bahwa usulan Bung karno yang memiliki jiwa arsitek lah yang menyebabkan Arab Saudi lalu membuat dua jalur lintasan prosesi sa’i dan dibuat bertingkat.

Sekarang beralih pertanyaan cukup berat seputar berhaji atau umroh yang berbau politis. Saat Bung Karno dan rombongan berhaji kala itu muncul kritik tajam Bung Karno “haji politis” untuk meredam pemberontakan DI/TII yang bergolak di Nusantara?

Kritik tajam ini berulang kembali sekarang ketika seorang presiden yang juga calon presiden beserta rombongan umroh menjelang Pilpres 2019 lalu disiarkan aneka televisi itu dinilai sebagai “umroh politis” untuk meraih dukungan suara umat Islam. Bagaimana Proklamator menanggapinya?

Bung Karno: Aku berhaji tidak minta disiarkan live lewat televisi atau radio. Aku bukan ”haji pencitraan”. Soal kritik itu biasa bahkan mereka yang kritis sudah dijamin haknya bersuara dalam Konstitusi UUD 1945 pasal 28.

Yang membungkam kritik berarti melawan konstitusi. Aneka kritik dan tuduhan kepadaku sempat Cindy Adams konfirmasi dan sudah aku jawab semua. Termasuk tuduhan: ”Apakah Bung Karno seorang komunis?”.

Bung Hatta: Amal perbuatan kita bernilai dilihat dari keihklasan dan arah kita dalam berniat, apakah niat karena Alloh atau mengejar dunia. Hadis pertama dari empat puluh hadis Rasul yang dikumpulkan Imam Nawawi itu jelas Rasul bersabda sesungguhnya amalan itu bergantung niatnya.

Milenial : Maaf Proklamator. Kami milenial menilai Bung Karno tergolong haji abidin (haji atas biaya dinas). Gegara Covid-19 dan pembatasan jemaah haji, Alhamdulillahhaji abidin asal Nusantara hilang tahun ini.

Syafarudin: izin Proklamator, matahari sudah meninggi, kita belum salat duha. Terima kasih dialognya. Insha Alloh pekan depan kita dialog lagi. Wassalamualaikum, warrahmatullohi, wabarakatuh.

*Peneliti Labpolotda dan Dosen Ilmu Pemerintahan
FISIP Universitas Lampung