Hakim Sindir Dokter Puskesmas Kedaton: Utamakan Keselamatan Warga, Kesampingkan dulu SOP

Nakes Puskesmas Kedaton/ Ist
Nakes Puskesmas Kedaton/ Ist

Tiga terdawa pengeroyok tenaga kesehatan (Nakes) Puskesmas Kedaton, Bandar Lampung yakni Awang Helmi Christian, Novan Putra Abdillah, dan Didit Maulana menjalani sidang di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Rabu (26/10).


Korban yakni Rendi Kurniawan dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan ini. Rendy mengaku dipukuli berkali-kali oleh para terdakwa karena tidak bisa memberikan tabung oksigen untuk dibawa pulang. 

Ia juga menerangkan ada tiga tabung oksigen di Puskesmas yang berada di ruang umum, ruang gawat darurat, dan juga di dalam ambulans. Selain itu, sedang tak ada pasien rawat inap. 

Menurutnya, hal itu dilakukan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP). Kesaksian korban ditanggapi Kuasa Hukum Terdakwa Bey Sujarwo dengan menanyakan dua nama yakni Esi Monika Angelia dan Septisia.

Jarwo melanjutkan, nama pelapor dalam peristiwa tersebut sesuai laporan di Polsek Kedaton yakni Esi Monika Angelia, sedangkan nama Septisia adalah nama yang tercantum dalam visum perkara tersebut.

"Saya minta untuk sidang selanjutnya, tolong Esi Monika Angelia, Septisia, dan Dokter yang menangani visum (korban) dihadirkan di persidangan," katanya.

Menurutnya, kasus ini harus diungkap kebenarannya. Pasalnya, beberapa hari sejak peristiwa pengeroyokan tersebut, ayah terdakwa Awang meninggal. Salah satu faktornya, karena kesulitan mendapatkan oksigen.

"Ini ada orang yang didakwa, pernah ditahan melakukan itu, pandemi Covid-19 ini harusnya dilihat relatif, jangan SOP terus, orang udah cengap cengap keburu mati nanti," kata dia. 

Saksi lainnya yakni dokter intership bernama Annisa yang berdinas di Puskesmas tersebut saat kejadian dan merupakan orang yang memvideokan peristiwa tersebut. 

Menurutnya, penanggung jawab tindakan dan SOP pengambilan kebijakan adalah dokter Adi selaku dokter definitif.

Menanggapi itu, Hakim anggota Astuti menilai, seharusnya dokter bertindak cepat dan mengedepankan keselamatan pasien, bukan fokus merekam kejadian.

“Itulah dokter milenial, seharusnya kan bisa ditengahi Anda dokter jaga, ada masalah apa, dan harusnya untuk keselamatan orang, SOP-SOP bisa dikesampingkan," kata Astuti.