Hangatnya Pelukan Mbak Pur Pada Juned


Episode 33

KONTESTASI mengelabui rakyat kembali dipertontonkan. Unjuk kuasa berupa uang ataupun kebijakan, ditampilkan. Sejak syahwat bergelora merebut kekuasaan, juga untuk mempertahankan kekuasaan, beragam kiat dilakukan. Semua dapat disaksikan di Ruang Publik sejak hasrat merebut kursi kekuasaan, menjadi orang nomor satu di Kawasan Pabrik Permen dicanangkan.

Seperti apa kisahnya? Kesemarakan dimulai Mustajab. Mobilisasi masyarakat hingga anak sekolah dilakukan guna menghadiri deklarasinya. Ditengah gelombang lautan manusia berbayar, Mustajab berorasi, meneriakkan hasrat dan cita-citanya, meraih sebuah singgasana kekuasaan.

Program kerja unggulan ditiupkan. Diterompetkan melalui jejaring media massa, menyeruak masuk Ruang Publik. Ratusan juta uang dibuang untuk membiayai iklan, pemberitaan dan Baliho agar wajah ganteng Mustajab hadir di seluruh Kawasan Pabrik Permen.

Pemanasan dimulai. Teriakan kencang Mustajab, membangkitkan hasrat hadirnya kompetitor (padahal saat itu belum ada kompetitor). Ronald, sang penguasa, merasa terancam kursinya. Terpancing dan mengusik Mustajab (dalam benaknya, Mustajab tak bisa dibiarkan mengganggu kursinya. Harus dilumat). Sebuah program sederhana, Jaga Malam, jadi polemik.

Ronald dan Mustajab saling bersahut. Program Jaga Malam Mustajab, menerobos ke ruang publik. Media massa berbayar mempertontonkan perdebatan tak penting, apalagi bagi rakyat. Memalukan. Disinilah titik awal media massa terbelah. Ada yang pro Mustajab, ada yang berpihak ke Ronald. Saling sindir dan saling hujat.

"Saya ingin jadi pemimpin rakyat. Bukan jadi pemimpin yang dikendalikan Cukong," teriak Mustajab.

"Bupati ngurus pemerintahan. Urusan Jaga Malam tugas aparat keamanan," timpal Ronald.

Ditengah perseteruan Mustajab dan Ronald, menyeruak pernyataan Hermanus. "Sejak awal saya tidak ingin ikut kontestasi dalam Pilgub. Tapi ini jadi sebuah prinsip. Saya akan maju di Pilgub bila didukung Partai Daun Itunya Pepaya. Bila tidak didukung, saya tidak maju."

Kehadiran Hermanus yang selama ini dikenal berhasil memuaskan warganya di pusat kota, membuat naluri Ronald kian membara. Setelah Mustajab mengincar kursinya, kini ada Hermanus pula.

Ruang Publik bertambah semarak. Hampir tiap hari dijejali oleh pernyataan Ronald yang menyerang Mustajab dan Hermanus. Tidak sebatas itu saja, tindakan memboikot program kerja Hermanus pun dilakukan. Ronald, dengan kekuasaan yang digenggamnya, mencari-cari celah untuk menggoyang eksistensi Hermanus.

"Anggaran pembangunan Hermanus dipangkas karena tidak rasional. Tidak mungkin tercapai. Sudah kami analisa secara teliti," ujar Sutejo, ketua tim penganalisa anggaran.

"Pembangunan jembatan itu melanggar ketentuan. Harus dihentikan," ujar Ronald mensabotase program pembangunan Hermanus.

Hermanus menanggapi ulah Ronald. "Sebagai pemimpin, saya wajib memenuhi kebutuhan warga saya. Itu jembatan merupakan tuntutan dan kepentingan warga. Mau distop, silahkan saja berhadapan dengan rakyat."

Setelah terjadi perseteruan Ronald, Mustajab, dan Hermanus, muncul kompetitor baru. Mbak Pur meluncurkan Juned memasuki arena kontestasi, jadi calon wakil gubernur (sejak lama Juned sudah dalam pelukan hangat Mbak Pur). Langkah ini merupakan bagian yang sudah dihitung pemilik Pabrik Permen, Guntur dan Mbak Pur. Sebuah tekanan awal terhadap Ronald. Juned sendiri baru satu bulan merampas kursi Adit sebagai Ketua Go-Kart (belakangan diubah jadi bakal calon gubernur).

Peluncuran Juned mengungkapkan bahwa Pabrik Permen tidak lagi berpihak kepada Ronald (celoteh Mustajab jadi tak mengena pada sasaran, Ronald). Pada setiap rapat bersama jajaran Go-Kart, Juned menyatakan dirinya yang menjadi andalan dan dipercaya Pabrik Permen untuk merengkuh kursi yang kini diduduki Ronald.

"Anak kecil itu tak tahu diri. Pengkhianat. Malin Kundang," ungkap Juned sembari menceritakan bagaimana sikap dan hubungannya bersama Ronald, saat belum pensiun. Juga hubungannya bersama Mbak Pur.

Ruang Publik kian bergemuruh. Saling bantai Baliho, terjadi di seluruh kawasan. Ungkapan mendeskriditkan berlangsung meraih. Masing-masing' memasuki era saling menamamkan kehebatan dan tentu juga soal kejelekan. Aib Mustajab, Ronald,Hermanus, dan Juned setiap waktu menerobos jejaring perangkat gadget warga.

Kehadiran Juned membuat warga terperanjat. Warga rajin mencari tahu, kenapa setelah pensiun, Juned suka bagi-bagi uang. Dan terungkap. Mbak Pur menjadi pendukung utama, tentu saja disupport Guntur, sang kakak.

Media massa yang tadinya berpihak pada Ronald, dibabat habis. Dibayar berlipat ganda. Bahkan Ketua organisasi Wartawan Rangkap Calo (WRC), baik di pusat maupun di daerah, dibayar lunas dimuka agar beralih, berpihak ke Juned. Uang memang menjadi ciri khas WRC. Sejak itu, Ruang Publik disapu hampir bersih oleh Mbak Pur. Wajah muda Juned semarak menghiasai ruang publik (padahal wajah itu tak sesuai dengan aslinya), baik di media cetak, online, bahkan terpaku menghiasi pohon-pohon kamboja yang ada di komplek pemakaman hingga jalan raya.

Guna mengantisipasi terali besi, Mbak Pur pun menutup kasus hukum Juned terkait korupsi uang honor. Kasus yang sudah ditingkatkan dalam tahap dua itu, tinggal menetapkan Juned jadi tersangka, hilang, hampir tanpa jejak.

Kebencian Pabrik Permen terhadap Ronald luar biasa. Juned, melalui seorang aktifis Partai Daun Itunya Pepaya mensponsori aksi unjuk rasa di pusat kekuasaan. Demo di gedung parlemen mengangkat tema skandal Santi dan Ronald dikerahkan (walaupun belakangan Juned ingkar janji tak mengganti biaya aksi).

Tidak cukup hanya sebatas itu, Mbak Pur (tentu saja melalui Juned) mensponsori terbitnya media cetak. Sejak awal terbit (saat launching Juned hadir) halaman mukanya, selama dua minggu berturut-turut mengangkat berita Skandal Santi dan Ronald.

Kini pertarungan beralih. Saling hajar dan saling hantam memperebutkan partai-partai, demi mengurangi potensi kompetitor.

Siapakah yang akan jadi Dul Monges? Siapakah yang akan sukses jadi Beduwo? Dan siapakah yang akan membela kepentingan rakyat dalam kasus penjajahan Pabrik Permen, baik terkait tanah warga yang dirampok, maupun terhadap penderitaan krisis listrik?

Kita jadi teringat Karl Polyani, penulis buku bertajuk The Great Transformation:' Apakah pendatang baru itu membutuhkan tanah demi kekayaan yang terkandung di dalamnya, atau apakah dia cuma ingin mendesak penduduk asli memproduksi surplus pangan dan bahan mentah, sering kali tidak relevan.

Juga tidak banyak bedanya, apakah warga pribumi itu bekerja di bawah supervisi langsung pendatang baru itu ataukah hanya dibawah satu bentuk tekanan tak langsung, karena dalam setiap kasus, apa saja, sistem sosial dan budaya penduduk pribumi harus dihancurkan. (d)