Hanya Orang Dungu Yang Bangga Penanganan Covid-19 Di Lampung


KAMIS, pekan lalu, Provinsi Lampung bertambah usia menjadi 57 tahun. Tepat di hari yang sama, satu tahun sebelumnya, kasus pertama positif Covid-19 diumumkan di Lampung.

Istimewanya, dua hari setelah ulang tahun itu, Ketua Satgas Nasional Penanganan Covid-19, Letnan Jenderal Doni Monardo datang memimpin rapat koordinasi penanganan Covid-19 di Provinsi Lampung.

Kemarin, Wakil Presiden Republik Indonesia KH Ma’ruf Amin didampingi oleh Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono dan Ketua Satgas Nasional Covid 19 Doni Monardo berkunjung ke Lampung untuk meninjau pelaksanaan vaksinasi dan melihat kemajuan pengerjaan pembangunan salah satu Proyek Strategis Nasional Bendungan Way Sekampung.

Dalam kurun waktu tiga hari, Ketua Satgas Nasional Covid-19 dua kali datang ke Lampung.

Wapres Ma'ruf Amin saat kunjungan ke Lampung, Senin (22/3)/Ist

Pada kunjungan pertamanya ketika rapat koordinasi dengan Gubernur Arinal Djunaidi, satgas provinsi dan kabupaten/kota se-Lampung, Jenderal Doni memberikan peringatan khusus kepada Lampung terkait tingginya angka kematian akibat Covid-19 yang hampir dua kali lipat rata-rata nasional.

Doni meminta kinerja 3T khususnya kapasitas treatment pemerintah daerah ditingkatkan.

Dua hari kemudian, Wapres Ma’ruf Amin didampingi Wamenkes dan Ketua Satgas Nasional dalam keterangan resminya meminta dilakukan peningkatan dan percepatan pelaksanaan vaksin di Lampung.

Bagaimana respon Gubernur Arinal terhadap peringatan dari Ketua Satgas Nasional dan catatan dari Wapres dan Wamenkes?

Seperti biasa normatif, beliau berjanji akan segera menindaklanjuti peringatan dan catatan tersebut.

Dari gestur tubuh pada foto-foto yang terdapat di laman Google, sepertinya secara psikologis, Gubernur Arinal merasa tidak senang dengan peringatan dan catatan itu.

Bahkan, pada salah satu foto ketika Wapres sedang memberikan keterangan resmi, Gubernur Arinal berdiri dalam posisi yang terlihat tidak elok memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan sedikit membelakangi Ketua Satgas Nasional di sebelahnya.

Saya bisa memaklumi sikap Gubernur Arinal yang sudah luas diketahui memang cenderung kesulitan mengendalikan gestur tubuh dan pernyataannya ketika sedang merasa tidak nyaman atau marah.

Peringatan Ketua Satgas Nasional itu seperti tamparan keras yang meruntuhkan semua klaim tentang penghargaan yang selama berbulan-bulan ini beliau bangga-banggakan di berbagai kesempatan. 

Hebatnya, selama hampir setahun ini, media lokal bisa dihitung jari yang tetap berani memuat tulisan atau komentar kinerja penanganan pandemi Covid-19 di Lampung, termasuk berita soal peringatan tentang angka kematian ini.

Anda bisa googling sendiri pernyataan Jenderal Doni yang lebih banyak diberitakan media-media nasional seperti Kompas, Republika, Liputan 6, dll ketimbang media-media lokal.

Mengapa begitu? Hanya Tuhan dan para pemimpin media di Lampung yang tahu. 

Bagi saya, angka kematian dalam pandemi Covid-19 merupakan indikator yang paling penting dan serius dibandingkan angka konfirmasi positif dan angka kesembuhan.

Mengapa demikian? Karena angka kematian dihitung berdasarkan parameter yang lebih valid dan pasti, relatif tidak dipengaruhi oleh situasi tertentu. 

Kita tahu bahwa angka konfirmasi positif sangat dipengaruhi oleh jumlah polymerase chain reaction  PCR test yang dilakukan, naik turunnya jumlah (PCR) test menentukan naik turunnya angka konfirmasi positif.

Begitu juga dengan angka kesembuhan yang sering kali dihitung hanya berdasarkan asumsi tanpa hasil PCR test, apalagi untuk penderita isolasi mandiri di rumah, apalagi penderita yang memang tidak pernah melaporkan kondisinya dan tidak pernah didatangi petugas kesehatan.

Angka Kematian dihitung berdasarkan jumlah kematian dari penderita yang sudah terkonfirmasi positif mengidap Covid-19. Patut diduga angkanya bisa lebih tinggi dari 5,32% karena kasus pasien yang wafat sebelum sempat dilakukan PCR test (pasien dan keluarga menolak dilakukan tes) sepertinya juga cukup banyak terjadi di Lampung.

Setelah peringatan tentang angka kematian itu disampaikan secara resmi oleh Ketua Satgas Nasional, hanya orang dungu lah yang masih akan terus membanggakan penghargaan lomba buat video inovasi dan terus mengaku-ngaku sebagai sang juara yang terbaik.

Angka kematian jelas menggambarkan kapasitas sistem layanan kesehatan yang dimiliki, bukan piagam penghargaan dan deretan ucapan selamat dari berbagai pihak termasuk organisasi wartawan sekalipun.

Setelah mengetahui jebloknya kapasitas layanan kesehatan yang dimiliki Lampung, mestinya DPRD tidak lagi membisu dan mulai berani menguliti penggunaan anggaran publik yang demikian besarnya (Rp633 miliar se-Lampung).

Karena sejatinya tujuan akhir dari semua kerja penanganan pandemi berikut setiap rupiah anggaran publik yang digunakan adalah untuk menyelamatkan nyawa rakyat Lampung, bukan agar Gubernur Lampung bisa berfoto dengan piagam penghargaan atau Kepala Dinas Kesehatan bisa konferensi pers setiap hari.

Tingginya angka kematian sangat mungkin terjadi karena pasien baru dirawat di fasilitas kesehatan ketika sudah memburuk kondisinya, ini menunjukkan betapa tidak efektifnya kerja-kerja testing dan tracking yang selama ini dilakukan. Saya khawatir sampai hari ini rasio angkanya di Lampung masih tetap jauh dari standar yang diminta oleh WHO maupun Kementerian Kesehatan RI.

Dalam sepakbola, angka kematian adalah persentase kemungkinan gawang kebobolan ketika bola ditembak pemain lawan ke arah gawang.

Jika testing dan tracking kinerjanya baik maka lawan tidak akan pernah bisa berdiri leluasa melakukan tembakan di depan gawang. Di antara 34 provinsi di Indonesia, hari ini Lampung masih menjadi tim kedua yang paling buruk pertahanannya, paling sering kebobolan jika lawan menendang ke gawang. 

Secara statistik dengan angka kematian hampir dua kali lipat rata-rata nasional maka kemungkinan penderita Covid-19 meninggal dunia di Lampung hampir dua kali lipat daripada rata-rata kemungkinan secara nasional.

Karena itu yang terbaik bagi masyarakat Lampung adalah tetap disiplin menerapkan 5 M daripada berharap dengan kinerja 3 T pemerintah daerah. 

Lebih baik publik melipatgandakan disiplin 5 M ketimbang berhadapan dengan angka kematian yang dua kali lipat rata-rata nasional.

Dengan ancaman kematian dua kali lipat dibandingkan rata-rata nasional maka yang paling aman bagi kita semua tentu jangan pernah tertular Covid-19 apalagi tertularnya di Lampung. Naudzubillahi min zalik.

*Pengamat Pembangunan