Harga Kedelai Naik 33% Akibat 90% Dikuasai Impor

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung Kusnardi/RMOLLampung
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung Kusnardi/RMOLLampung

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung Kusnardi mengatakan 90 persen kebutuhan kedelai daerah ini berasal dari impor.

"Hampir 90 persen  kebutuhan kedelai kita berasal dari impor sebab banyak petani enggan menanam lantaran sulit pemasarannya," ujar Kusnardi.

Kedelai lokal kalah bersaing dengan impor akibat harga yang lebih murah dan ukuran lebih besar. Selain itu, jaringan perdagangan impor lebih kuat.

"Kedelai lokal kalah dengan kedelai impor karena kedelai impor  jaringannya  kuat," ujar Kusnardi kepada Kantor Berita RMOLLampung, Jumat (7/1).

Hal ini diamini Kadis Pangan Kota Bandarlampung I Kadek Sumartha. "Kebutuhan kedelai masih tergantung impor," ujarnya.

Ketika ada masalah impor kedelai, Lampung terkena imbasnya hingga harganya naik 33 persen, yakni dari Rp9 ribu per kg jadi Rp12 ribu per kg..

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Mohammad Zimmi Skil mengatakan selama tiga  sampai empat bulan untuk stok kedelai masih cukup.

"Kami sudah cek ke pengrajin tahu tempe dan stok masih cukupi untuk dua atau tiga bulan ke depan, kami pastikan aman, tapi harga merangkak naik," katanya.

Bahkan, dari Juli dan Desember tahun lalu, penyesuaian harga karena harga bahan bakunya naik. "Berdasarkan kondisi di dunia begitu harganya," katanya.

Berdasarkan Data Asosiasi Impotir Kedelai Indonesia (Akindo), stok kedelai saat ini 450 ribu ton.

Sementara kebutuhan per bulan Indonesia 150 ribu sampai 160 ribu ton per bulan untuk industri tahu dan tempe.