Hari Bumi Dan Masa Depan Sampah Lampung

Iman Ibnu Chambali Chasan/Ist
Iman Ibnu Chambali Chasan/Ist

DALAM rangka peringatan Hari Bumi yang jatuh tanggal 22 April, Bidang Ekuintek Lingkungan Hidup DPW PKS Lampung menyebarkan polling singkat melalui google form bagi warga pemilik gawai/gadget, selain memanfaatkan pula polling pada platform media sosial Instagram di akun @ekuinteklh_lampung.

Dari hasil polling google form yang didistribusikan dari tanggal 15 April hingga 21 April 2021 dan menjangkau 100 responden dari 15 Kabupaten/Kota Se Lampung didapatkan hal menarik, bahwa tidak semua responden mengetahui kapan peringatan hari Bumi. Jumlahnya cukup besar yakni 46,5 persen. Sedangkan yang mengetahui waktu peringatan Hari Bumi, hanya diangka 53,5 persen, atau separuh lebih sedikit.

Sementara, pada polling yang memanfaatkan platform media sosial Instagram didapatkan hasil yang mengejutkan, yakni bahwa 54,5 persen neziten instagram tersebut salah menjawab tanggal peringatan Hari Bumi, yang jatuh setiap 22 April.

Namun demikian, terdapat hal yang menggembirakan dimana mayoritas responden pengisi polling google form maupun netizen instragram yang menjawab polling pada akun @ekuinteklh_lampung sama-sama berpendapat bahwa peringatan Hari Bumi itu penting.

Jika pada google form, 76,2 persennya menyatakan penting memperingati Hari Bumi sedangkan pada netizen Instagram, 64 persen berpendapat penting untuk memperingati Hari Bumi.

Saat ditanyakan mengenai argumentasi, mengapa peringatan hari Bumi itu penting, dengan pertanyaan terbuka, begitu bervariasi argumentasi mereka. Diantaranya ada yang menyatakan bahwa pentingnya peringatan hari bumi karena bumi sudah semakin tua, kita harus melestarikan  demi generasi yang akan datang.

Di samping itu, terdapat pula yang beragumen bahwa penting untuk memperingati hari bumi, karena semakin banyak kerusakan lingkungan di muka bumi yang disebabkan aktivitas manusia sehingga berakibat bencana bagi manusia itu sendiri.

Ada pula yang menyatakan bahwa penting memperingati hari bumi, namun cukup sebagai pengingat. Yang lebih penting adalah aksi nyata untuk menyelamatkan dan menjaga kelestarian ekosistem bumi.

Selain itu, argumen tentang pentingnya memperingati hari bumi, karena dengan hari bumi digunakan untuk terus mengedukasi masyarakat akan kondisi bumi yang memprihatinkan, mulai kekurangan energi, rusaknya alam dan hutan serta berlebihnya karbon diudara. Serta beberapa argumen lain yang menjadi dasar mengapa para responden menyatakan bahwa hari bumi penting untuk diperingati.

Aktivitas Pada Peringatan Hari Bumi

Berbeda dengan hasil polling melalui platform media social Instagram, terkait aktivitas yang paling mungkin dilakukan pada peringatan Hari Bumi, menurut data yang kami dapatkan dari polling google form, empat besar aktivitas yang dapat dilakukan diantaranya adalah menanam pohon disekitar rumah, 36,6 persen. Disusul dengan diet sampah plastik sebanyak 17,8 persen, lalu hemat air sebanyak 16,8 persen dan hemat energi (BBM maupun listrik) 14,9 persen. Sisanya membuat pupuk kompos dan bersih sungai/ selokan.

Sedangkan pada polling melalui platform Instagram dengan membandingkan antara dua aktivitas yang berbeda namun saling terkait, terdapat temuan yang menarik mengenai aktivitas yang dapat dilakukan pada saat memperingati hari Bumi. 

Pertama aktivitas menanam pohon (82 persen) lebih dipilih dibandingkan membersihkan sungai (18 persen). Kedua, aktivitas diet sampah plastik (75 persen) lebih dipilih daripada aktivitas memilah sampah organik dan anorganik (25 persen). Ketiga, aktivitas efiesiensi energi listrik (58 persen), lebih dipilih dari pada efisiensi energi BBM (42 persen). 

Namun demikian jika ditelisik lebih dalam, tentu terdapat benang merah dari kedua jenis medium polling yang dilakukan, baik melalui google form yang didistribusikan melalui platform chat whatsapp secara snow ball, maupun melalui plaform media sosial Instagram yakni bahwa aktivitas yang paling menarik saat peringatan Hari Bumi adalah menanam pohon, disusul dengan diet sampah plastik.

Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah di Lampung

Selain bertanya mengenai pengetahuan terkait peringatan Hari Bumi, polling di akun Instagram @ekuinteklh_lampung juga bertanya mengenai pengetahuan netizen pengguna Instagram terhadap rencana Pemprov Lampung membangun PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah). 

Dari respon netizen, terungkap bahwa hanya 30 persen yang tahu, jika Pemprov Lampung berencana membangun PLTSa. Dengan demikian, 70 persen sisanya atau mayoritas tidak tahu rencana Pemprov membangun PLTSa tersebut. 

Seperti yang kita ketahui, Pemerintah Provinsi Lampung bakal membangun PLTSa di Register 45, Gedung Wani, Lampung Selatan. Berdasarkan penuturan Wakil Gubernur Lampung, Chusnunia, pembangunan PLTSa berdimensi ekonomi, lingkungan dan energi. 

Menurut Wagub Nunik, berdimensi ekonomi karena dapat berdampak kepada peningkatan pendapatan daerah. 

Sementara itu, pembangunan PLTSa berdimensi lingkungan, karena akan mengintegrasikan penanganan sampah di 7 Kabupaten/Kota se Lampung yakni: Kota Bandar Lampung, Metro, Pesawaran, Pringsewu, Lampung Selatan, Lampung Tengah dan Lampung Timur. 

Selain berdimensi ekonomi dan lingkungan, pembangunan PLTSa juga berdimensi energi, karena diproyeksikan akan menghasilkan setrum hingga 14 MW dengan mengolah sampah yang akan mengaktivasi 2 pembangkit listrik, begitu kata Wagub Chusnunia.

Meski demikian, dibalik harapan besar akan menjadi solusi atas persoalan sampah yang cenderung belum terurai, terdapat sorotan mengenai dampak lain dari teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah. 

Ananto Hayuningrat, seorang akademisi sekaligus Konsultan Proyek, dalam salah satu artikelnya yang dimuat detik.com menjelaskan bahwa teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah menimbulkan residu/buangan kimia yang dihasilkan, antara lain: merkuri, arsen, cadmium, dioksin dan furan (limbah B3 yang keluar dari incinerator). 

Disamping itu menurutnya bahwa, negara yang telah sukses mendaur ulang sampah menjadi tenaga listrik salah satunya Swedia. Namun karena mereka membutuhkan sekitar 2 juta ton sampah setiap tahun untuk menjalankan PLTSa, dan terdapat kekurangan bahan baku sampah hingga 700 ribu ton, maka untuk menutupi kekurangan bahan bakar sampah itu, mereka mengimpornya dari negara lain, termasuk dari Norwegia.

Tentu saja ini menjadi ironi, dimana disatu sisi Swedia berhasil mengolah sampah menjadi energi listrik namun pada saat yang sama, mereka justru mengimpor sampah untuk menutupi kebutuhan bahan baku pembangkit listriknya.

Hal-hal inilah yang menurut hemat kami, patut menjadi pertimbangan, ketika benar rencana Pembangunan PLTSa di Provinsi Lampung diwujudkan. Jangan sampai niat baik menuntaskan persoalan, malah menimbulkan persoalan baru, seperti residu / limbah B3 atau bahkan importasi sampah dari negara lain, yang justru menimbulkan lingkar problem makin kompleks.

PLTSa dan Suara Hati Rakyat Lampung

Dibalik minimnya informasi dan pengetahuan publik atas rencana pembangunan PLTSa di Provinsi Lampung, terdapat hal yang menggembiarakan, dimana support atau dukungan dari para responden begitu besar terhadap rencana pembangunan PLTSa di Provinsi Lampung.

Ini menjadi modal dasar, bagaimana keinginan public yang tercermin dari dukungan mereka, berkelindan dengan rencana besar Pemerintah Provinsi Lampung membangun PLTSa. 

Baik hasil polling melalui google form maupun melalui platform Instagram, mayoritas respondennya sama-sama mendukung pembangunan PLTSa, meski dengan kadar persentase yang berbeda.

Jika pada polling dalam google form,  95 persen responden setuju terhadap pembangunan PLTSa di Provinsi Lampung, sementara pada polling Instagram, 80 persen menyatakan  setuju dengan rencana pembangunan PLTSa di Provinsi Lampung.

Landasan argumentasi persetujuan mereka diantaranya adalah, karena dapat mengurangi jumlah sampah. Selain itu argument lain, terkait sampah plastik yang tidak dapat didaur ulang. Namun jika untuk energi listri tentu akan mengurangi sampah plastik.

Argumen lain, yakni karena menumpuknya sampah di Lampung belum terkelola dengan baik. Sehingga dengan tekonologi tersebut selain dapat menjadi soluis dalam pengelolaan sampah, kita juga mendapatkan sumber energi baru/terbarukan, terutama dalam menghasilkan listrik. Meski nantinya dibutuhkan biaya yang cukup besar, namun sebanding dengan manfaat yang didapat.

Namun demikian, diantara argument-argumen dukungan akan pembangunan PLTSa yang mengemuka pada polling tersebut, terdapat satu yang relatif  berbeda, yakni argument yang menyatakan bahwa PLTSa merupakan salah satu solusi untuk mengurangi sampah. Namun, harapannya agar yang dipergunakan adalah sampah organik. Karena jika yang digunakan sampah an-organik khawatir meninggalkan residu yang akan mencemari lingkungan. 

Tentu argumen terakhir sejalan dengan kekhawatiran kami bahwa akan muncul dampak ikutan jika tidak terkelola dengan baik pada operasionalisiasi PLTSa nantinya. Alih-alih ingin menuntaskan persoalan sampah yang kian menumpuk, namun justru menimbulkan masalah baru yang lebih kompleks.

Semoga di hari bumi, 22 April ini kita semakin mawas diri untuk jadi bagian dari solusi di sekitar kita. Selamat Hari Bumi, Ayo Jaga Bumi, Kita Rawat dan Kita Sayangi demi Keberlanjutan Generasi!.

*Ketua Bidang Ekuintek Lingkungan Hidup DPW PKS Lampung