Hari Ibu, Perempuan Lampung Gelar Pameran Seni Rupa

Hari Ibu di Lampung diperingati dengan pameran senirupa. Sebanyak 19 Perupa Perempuan Lampung bersama menaja karya rupa di Pondok Seni Lambang Jalan Pagar Alam (PU) Gang Lambang No 5, Bandarlampung.


Para perupa itu yakni Bunga Ilalang, Bernas Widarti, Cecelia Valenda, Dika Arsdes, Dewi Novitasari, ErKa, Lila Ayu Arini, Lia Susnita Mega (Bayit).

Lalu, Maria Novilawati, Nanda Ghufira, Puja Nurtri, Revina Mutia, Rahayu Budiadi, Richele, Sisna Ningsih, Sri Rumini Yuni Hartono, dan Yeyen Oktaviani.

Pameran akan dibuka hari Sabtu (30/11) pukul 14.00 WIB. Pameran akan dibuka setiap hari hingga (8/12) sejak pukul 10.00 WIB s/d 17.00 WIB. Pameran juga akan dimeriahkan performance gitar tunggal oleh Adinda Nisa dan Tari Kreasi Lampung.

Ketua Pelaksana Pameran, Lila Ayu Arini mengatakan perempuan memang identik dengan problematika gender. Tak sedikit yang beranggapan bahwa tugas perempuan hanya di dapur dan mengurus rumah tangga.

"Padahal ketika membicarakan perempuan, maka konsep sesungguhnya adalah perempuan sebagai makhluk kodrati," ujar Lila.

Dia melanjutkan, seperti dalam dunia seni rupa, lebih banyak didominasi oleh kaum pria, belum banyak perupa perempuan yang tercatat dalam belantika seni rupa daerah maupun nasional. Beberapa kalangan beranggapan bahwa mitos perempuan sebagai subjek seni memang kalah besar dibandingkan perempuan sebagai objek seni, maka bukan hal yang mengherankan eksistensi perempuan sebagai perupa hingga kini seperti fatamorgana.

David dalam kuratorialnya, mengatakan, bahwa di dalam kata Perempuan, mengandung kata Empu, yang bermakna ÔÇÖorang yang sangat ahliÔÇÖ. Untuk itu, tandas David, pameran perupa perempuan ini diharapkan sang Empu, dengan waktu yang sangat terbatas dapat menuangkan ide, gagasan dalam media apapun, mulai dari garis dan warna hingga terbentuk estetika dengan kerangka konsep yang ditemui dalam kesibukan sehari-hari dengan pengalaman pribadi masing-masing.

"Seorang empu harus melakukan proses perjalanan yang sangat panjang, menyerap situasi kondisi lingkungan disekitarnya, memanifestasi dengan rasa percaya diri. Dalam ruang tersendiri menyatukan pikiran dengan garis dan warna sehingga membentuk simbol-simbol penciptaan karya seni rupa," papar David.

Sementara itu Icon Art sebagai Koordinator pameran, menjelaskan ada lebih dari 25 karya yang akan ditampilkan dalam perhelatan pameran ini. "Karya seni yang berupa lukisan dan instalasi tersebut akan dipamerkan mulai tanggal 30 November hingga 8 Desember 2019," ujar Icon.

Icon, yang juga sebagai pengelola Pondok Seni ini menambahkan, pondok ini merupakan rumah kreatif yang dihibahkan oleh Mashur Sampurna Jaya, untuk kegiatan kesenian. Harapannya, tempat ini akan menjadi salah satu kantong seni yang ada di Bandarlampung.

"Pondok Seni ini menyediakan ruang berkesenian untuk para seniman berekspresi dari berbagai lintas seni untuk meramaikan dunia seni di Lampung," ujar Icon.

"Tempat ini saya beri nama "Pondok Seni Lambang" karena mengingat sejarah saya dulu berproses sebagai seniman di Pondok Seni Enggal Jl. A Yani 48 Bandarlampung bersama para pelukis senior Lampung Mas Bambang SBY, Damsyi Tarmizi dan Mas Santo. Jasmerah lah. Jangan Sekali-kali Kita Meninggalkan Sejarah," pungkas Icon.

Acara Pameran

Diskusi Seni Art Therapy mengambil tema "Cara Cerdas atasi Baper" Narasumber Maria Novitawati M.Psi., Psi. 1 Desember Pukul 14.00 WIB s/d selesai

Melukis on the spot setiap hari Pukul 10.00 WIB s/d selesai

Workshop Melukis Ampas Kopi Narasumber Ari Susiwa Manangisi Tanggal 7 Desember 2019 Pukul 10.00 WIB s/d selesai

Acara didukung oleh Perupa Perempuan 'GEH' Himpunan Perupa Lampung. Icon Art. Media Art. Basenko. Kuas Lampung. Kombir.