Harkitnas, Kita Bisa Asalkan Mau


Oleh Suhendra Ratu Prawiranegara

ADA suatu peristiwa yang terjadi kisaran 15 tahun lalu. Saat itu, Menteri PU Joko Kirmanto memimpin rapat pimpinan (rapim) yang dihadiri oleh seluruh eselon 1 Departemen PU.

Mereka membahas tentang kelanjutan pembangunan Jembatan Suramadu yang memiliki panjang konstruksi 11 km (include causeway) yang dibiayai China Loan.

Sekjen Departemen PU saat itu, alm Dr. Roestam Sjarief, dan Dirjen Bina Marga melaporkan tentang keadaan krusial terkait persyaratan yang diajukan China.

Salah satu klausal perjanjian yang disodorkan China adalah menggunakan tenaga kerja dan material China.

Kesimpulan rapim atas masalah tersebut, Menteri PU dan jajarannya menolak jika pembangunan Jembatan Suramadu ini harus mengimpor tenaga kerja dari China.

Jika masih terdapat komponen material yg bisa disediakan di dalam negeri, tidak perlu impor dari Cina.

"Kita dapat apa kalau semuanya harus didatangkan dari Cina?" ujar pimpinan sidang.

Akhirnya, pembangunan Jembatan Suramadu tidak menggunakan tenaga kerja China.

Lalu, pemerintah cq Departemen PU RI membuat pembagian kerja, job sharing, dengan membentuk konsorsium antara kontraktor Cina (CCC) dan kontraktor Indonesia (BUMN).

Merujuk pada peristiwa tersebut tersebut, kiranya kita sebagai bangsa yang besar dapat menjaga marwah eksistensi sebagai bangsa yang mandiri dan berdaulat.

"Kita Bisa Asalkan Kita Mau"

Selamat Hari Kebangkitan Nasional.

(*) Staf Khusus Menteri PU (2005-2009)