Hasyimkan Lestarikan Budaya Lampung Barat Lewat Gamolan

Hasyimkan dengan gamolannya/Tuti RMOLLampung
Hasyimkan dengan gamolannya/Tuti RMOLLampung

RUMAH berdinding ekspose batu bata berdiri asri di Jalan Raden Gunawan, Gang Cin Ni Mas, Nomor 7, Hajimena, Kabupaten Lampung Selatan. Hasyimkan menamai rumah tersebut dengan Lamban Gamolan. 

Pada sisi kanan lamban , ada puluhan gamolan tertumpuk rapi dengan koran bekas sebagai pembatas antargamolan. Hasyimkan mengaku gamolan tersebut siap dipasarkan. 

"Lamban ini hanya menampung gamolan yang siap dipasarkan. Produksinya di tempat lain," kata Hasyimkan kepada Kantor Berita RMOLLampung, Sabtu (5/6). 

Hasyimkan mengatakan gamolan adalah alat musik tradisional berasal Kabupaten Lampung Barat.

Gamolan berasal dari kata begamol, atau begumul yang asal kata dari gumulan artinya berkumpul. Kemudian, masyarakat Lampung Barat menyebut gumulan menjadi gamolan hingga saat ini. 

"Lampung Barat itukan pegunungan, jadi pada zaman prasejarah komunikasi yang efektif untuk mengumpulkan orang dengan suara teriakan," ujarnya. 

Lanjutnya, dari teriakan berkembang dengan memanfaatkan bambu yang dibuat seperti kentongan untuk mengumpulkan orang. Lalu berkembang dengan memukul kentongan yang menghasilkan bunyi yang berbeda-beda. 

"Diberilah lempeng pada kentongan itu. Sehingga berbentuk seperti gamolan dan yang semula untuk komunikasi berkumpul, lalu berkembang untuk hiburan," kata akademisi seni musik Unila itu. 

Berbeda-beda gamolan dahulu dengan saat ini, kata Hasyimkan, gamolan dahulu pukulnya terbuat dari pinang, belum ada pejongan (dudukan), dan menyatukan lempeng dengan rotan, serta tangga naganya hanya do, re, mi, sol, la. 

"Kalau gamolan sekarang pukulan dari bambu, lalu menggunakan nilon untuk menyatukan, serta ditambah pejongan agar lebih stabil. Tangga nadanya juga ditambah si," ujarnya. 

Hasyimkan menjelaskan, ada tiga syair kuno yang membuktikan jika gamolan Lampung sudah ada sejak zaman kerajaan. Syair pertama dari Radin Jambat yang berisi

Bijing pak salimbangan

Bijing empat berhadapan

Pusiban pitu tanjak

Pusiban tujuh tanjakan

Ditunggu tetabuhan

Dilengkapi tetabuhan 

Gamolan suwai randak

Gamolan Sembilan susunan

Syair kedua dari masyarakat Pubian dimana seorang kakek yang sedang bercerita dengan cucunya. 

Lain lagi jak jaman sina

Lain lagi waktu itu

Cekhita dang kepala

Ceritanya gak tanggung-tanggung

Riwayat gamolan sakti

Riwayat gamolan sakti

Mukjizat jaman puyang

Mukjizat zaman puyang

Ya lagi kepakha wali

Para tetua zaman wali

Syair ketiga ditemukan di Tanggamus di negara batin menceritakan seorang ibu yang mengajari anaknya

Nak ninak-ninak ningkung

Nak ninak-ninak ningkung

Gamolan haji ripin

Gamolan haji ripin

Ngakuk anakni gedung

Mengambil anak raja

Kebayanni Mad Amin

Permaisurinya Mad Amin

Selain mengenal gamolan Lampung kepada anak sekolah dengan membimbing guru di 15 kabupaten kota, Hasyimkan juga ingin mengikut sertakan gamolan Lampung dalam acara 17 Agustus di Istana Negara.

"Lampung ini juga punya alat musik tradisional, dan ini bukan hanya milik masyarakat Lampung Barat tapi gamolan ini milik masyarakat Lampung," ujarnya. 

Ia berharap, pemerintah lebih memperhatikan kelestarian musik tradisional dengan lebih membranding kan lagi gamolan Lampung. 

"Jika Jawa Barat memperoleh rekor murinya dengan angklung, kenapa Lampung tidak bisa memperoleh rekor muri dengan gamolannya," jelasnya.