Hermansyah Hamidi Bantah Tuduhan Terima Rp5 M Dan Atur Proyek

Suasana sidang Dinas PUPR Lampung Selatan/ Faiza Ukhti
Suasana sidang Dinas PUPR Lampung Selatan/ Faiza Ukhti

Terdakwa kasus fee proyek Dinas PUPR Lampung Selatan Hermansyah Hamidi membantah menerima uang hingga Rp5 M dari rekanan dan membantah mengatur proyek-proyek tersebut.


"Saya tidak tahu apa yang dia (Syahroni) lakukan soal pengaturan ini, karena Syahroni yang mengurus fee proyek atas perintah Bupati Zainuddin melalui Agus BN," kata dia di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Rabu (5/5).

Menurut Hermansyah, memang plottingan proyek di Lamsel sudah menjadi rahasia umum. Ia juga pernah diperintahkan Bupati untuk ikut mengurus proyek tersebut, namun tak pernah dilakukannya. 

"Pernah sekali Agus BN bilang saya disuruh urus proyek, saya gak percaya dan bertanya langsung ke bupati, dia tidak menjawab dan melengos bahas yang lain. Pernah diminta memprioritaskan rekanan lokal dan tim sukses agar mendapat proyek," katanya. 

Setelah berkali-kali ditegur Ketua Majelis Hakim Efriyanto untuk memberikan keterangan jujur, Hermansyah tetap pada pernyataannya tak pernah ikut mengatur proyek dan mengatakan itu pekerjaan Syahroni. 

Bahkan, katanya, ia pernah mengingatkan Syahroni agar berhenti melakukan pengaturan proyek. Namun peringatannya tak digubris oleh Syahroni. 

Hermansyah juga meralat pernyataan Syahroni terkait  penyetoran uang Rp4 Miliar yang dibawa Syahroni menggunakan koper besar di rumahnya disusul Rp700 Juta dan Rp300 Juta dari Adi Supriyadi Kasi Rehabilitasi Pembangunan Jalan dan Jembatan dan Desi Elmasari (Mantan Plt Kasi Perencanaan). 

Menurutnya, Syahroni datang untuk membicarakan urusan pekerjaan, sementara Desi datang ke rumahnya untuk berpamitan karena dia akan pindah ke Lampung Tengah. 

"Mereka datang hampir bersamaan, Desi mau pamit, Adi gak ngomong tapi saya berasumsi Adi menemani karena mereka dekat. Tapi tidak ada penyerahan uang, baik dari Syahroni maupun dari Adi dan Desi," tambahnya. 

Setelah beberapa kali memastikan keterangan kedua terdakwa, baik sebagai saksi maupun terdakwa, Ketua Majelis Hakim Efriyanto mengatakan, pihaknya mendengar dan mencatat semua keterangan dan akan memberikan pertimbangan. 

"Silakan saudara-saudara ingin tetap dengan pernyataannya, kamk tetap menilai keterangan kedua terdakwa, akan ada nilai plus bagi yang jujur dan nilai minus bangi yang berbohong," ujarnya.